16 Januari 2009

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Naik Ojeg bisa meningkatkan imanmu




Apa yang bisa meningkatkan keimanan kita? Jika anda di Mekah, akan saya jawab : naiklah ojeg, maka keimanan anda akan meningkat. Apa sebab? Ya. Karena cara menjalankannya luar biasa serampangan. Asal (menurut saya) maju dengan kecepatan tinggi. Semasih ada celah untuk masuk, motor akan terus melaju. Dia hanya akan berhenti ketika tidak ada celah masuk sama sekali atau sudah sampai tujuan. Ojeg Indonesia mah lewat. Cara menjalankan seperti itulah yang akan membuat kita istighfar terus terusan sampai kaki kita menginjak bumi kembali.

Keberadaan ojeg ini sendiri saya pikir baru dua tahunan ini saja. Karena tahun 2006 saya haji tidak menemukan ojeg semacam ini. Mungkin orang Mekah juga mulai berpikir menambang uang dari jemaah haji yang luar biasa banyaknya. Yang biasa mangkal di daerah depan Harampun cukup banyak.

Berbicara tentang penghasilan. Sebutlah Muhammad bisa mendapatkan 100-hingga 300 real dalam semalam. Pendapatan ini akan meningkat pada tanggal 10-14 dzulhijjah. Saat itu memang padat-padatnya orang dan kendaraan. Pokoknya dijamin macet. Solusi paling mudah jika ingin cepat sampai tujuan adalah ojeg-ojeg ini, tapi dengan harga yang mencekik dompet. Bisa naik berlipat-lipat. Bayangkan saja, pada tanggal itu, mobil yang biasanya Cuma 15 real ke daerah aziziah ada yang minta sampai 100 real. Minimalnya 50 real.

Akhirnya malam tanggal 14 dzulhijjah ketika saya punya janji dengan seorang teman di Aziziah, saya dapat karunia naik ojeg Mekah dengan harga 35 REAL !!!. (kalau dikurs ke 3000 rupiah maka saya membayarnya 105.000 RUPIAH!!!) padahal jaraknya Cuma 6 km-an.

Demi janji dan karena sudah capek nawar taksi yang mau 25 real, kesempatan naik ojeg gila pun saya pergunakan. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah, selama naik ojek itu saya ucapkan. Seakan mewakili suara duniawi saya, gusti saya ndak mau mati naik ojek di Mekah. Sekali waktu kami berpapasan dengan mobil container yang besar dan di samping ada bis yang juga melaju kencang. Hanya ada celah kecil. Menurut saya ndak mungkin lewat. Tapi…. Wush…. Ojeg itu melaju kencang serasa tanpa dosa. Hanya jarak beberapa centi antara kulitku dan dua mobil besar itu. Mata saya tutup, hati deg-degan menciut luar biasa, lutut gemetaran. Sampai turun di Mesjid bin Baz tidak habis istigfar dan gemetarku.

Nah kawan, jika anda di Mekah dan ingin “meningkatkan” kualitas iman, naiklah ojeg.

07 Januari 2009

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

(republish) Khutbah Yang Beda


(Catatan ini saya buat ketika melaksanakan ibadah haji tahun 2008. Saat itu terjadi pembantaian di Gaza dan menuai reaksi keras dari dunia international 11/7/2014)


Layar tv menayangkan seorang ibu Palestina berteriak histeris “di mana orang arab, di mana orang islam…” Teriakan menusuk-nusuk kalbu dari seorang ibu Palestina menyaksikan anak-anak bangsanya dibantai tanpa ada bantuan memadai dari saudara-saudara arabnya dan juga dari saudara-saudara seimannya.


Saya menyaksikan pembantaian itu di tanah suci Mekah dan Madinah, pusat pertemuan kaum muslimin dengan hati remuk redam. Yang membuat hancur lagi, seakan tumpahan darah itu belum bisa membuat kaum muslimin bergerak. Jemaah haji hanya teringatkan ketika khatib Jumat membacakan untaian doa dalam khutbah-khutbahnya. hanya di itu.  


Kekesalan itu sedikit terobati dengan sebuah khutbah di Mesjid Nabawi. Khutbah Jum’at ini menjadi khutbah yang sangat berbeda bagi saya. 


saya katakan berbeda karena baru kali itu saya mendengarnya di Mesjid Nabawi. Saya tidak pernah mendengar sebelumnya. mungkin karena saya cuma jumatan beberapa kali jadi tidak mengetahui kalau khutbah semacam itu biasa saja. 


Pengalaman saya, khutbah Jum'at di Saudi tidak akan jauh dari masalah TBC (takhayul, Bid’ah dan Khurafat) ditambah lagi dengan pemberantasan praktek perdukunan dan saudara-saudaranya. Itulah makanya kalau jumatan di Mekah dan Medinah, saya lebih sering khusyu tertidur ketimbang dengerin yang khutbah membosankan. Khutbah jum'at di Mekah dan Madinah lebih sering menyorot masalah ritual saja, tapi jarang menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan situasi politik dunia islam saat kini.


Nah, apa isi khutbah yang saya dengar berbeda di Madinah itu? berikut resumenya:


Sejak awal hingga akhir khatib berbicara tentang pembantaian mengerikan ini dan menyerukan kaum muslimin bangkit. Dalam pembukaannya khotib secara dramatis menggambarkan pembantaian di Palestina dan kebrutalan Israel dalam serangan membabibuta selama beberapa hari itu. Khotib juga menekankan tentang pentingnya menghilangkan segala jenis penjajahan di atas dunia, khususnya di Palestina.


Selanjutnya Khotib mengingatkan kaum muslimin untuk lebih merapatkan barisan. “Lupakan perbedaan madzhab”¸ khatib menyerukan. “Galang persatuan kaum muslimin. Saat ini kita lebih memerlukan persatuan untuk melawan Penjajah Israel ketimbang meributkan hal-hal yang furu'iyah” Bagian ini yang saya bilang beda. Sebab secara umum, ulama di sana sangat kaku dalam menyikapi perbedaan. Mereka akan sangat mudah menyerang orang yang berbeda dengan kata-kata mungkar, bid’ah, khurafat dan sebagainya. Untuk urusan perjuangan Islam dan Palestina khususnya, mimbar-mimbar jum’at hampir tidak digunakan secara maksimal. Paling hanya doa seperti qunut nazilah di akhir khutbah.


Pesan penting lainnya lagi, “Jangan sampai darah syuhada Gaza sia-sia, bawa semangat anti penjajahan dan antikemanusiaan dan antizionisme ini ke negara masing-masing. Di tangan kalianlah (jemaah haji) tugas dan amanah ini diberikan sehingga apa yang terjadi di  Palestina dapat diketahui secara jelas”. Nah kan, jelas beda.


Sebagai penutup, khatib mengingatkan akan sabda nabi yang menjelaskan kondisi umat islam di akhir zaman yang seperti buih. Tidak berdaya apa-apa terhadap segala penindasan dan kezaliman. Salah seorang sahabat bertanya “ya Rasul, apakah mereka sedikit?” Rasul berkata, “tidak, mereka sangat banyak. Tapi tidak memiliki RUH” sahabat bertanya lagi “Mengapa demikian?”, “Karena mereka sangat mencintai dunia dan membenci kematian…” jawab Rasulullah.


Sayang sekali, khutbah ini tidak tertangkap dengan baik karena tidak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. sebaiknya khutbah seperti itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa sehingga pesannya bisa sampai dengan baik. Harus disadari bahwa yang datang ke sana tidak semua bisa berbahasa arab. jemaah saya mesti nanya, "itu tadi, yang khutbah itu membahas apa?" saya dengan sukarela menjelaskan kepada mereka isi khutbah yang saya dengar. 


Ke depan diMesjidil Haram dan Nabawi harus disediakan monitor-monitor yang mentranslate khutbah-khutbah ke dalam berbagai bahasa. Bisa juga menggunakan dengan radio fm yangmenyediakan semacam audio translate dalam berbagai bahasa sehingga pesan persatuan, kesatuan dan dapat sedemikian cepat diserap jemaah. dan semangat anti penjajahan bisa menyebar dengan cepat.


<object width="420" height="315"><param name="movie" value="//www.youtube.com/v/ZGidgvWKBug?version=3&amp;hl=id_ID"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="//www.youtube.com/v/ZGidgvWKBug?version=3&amp;hl=id_ID" type="application/x-shockwave-flash" width="420" height="315" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object>


06 Januari 2009

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Khutbah yang beda

(mumpung masih uptodate tentang penyerbuan Israel ke Gaza, saya muat catatan ini lebih dahulu)
Tanggal 2 ini, tepat 7 hari pembantaian yang dilakukan oleh Israel kepada penduduk Gaza. Tv local menyiarkan update berita tentang palestina apalagi ada sentiment arab, sehingga dalam salah satu klip seorang ibu berteriak, “di mana orang arab, di mana orang islam…” Ada juga lagu tentang palestina dan penderitaan penduduk palestina selama dijajah Israel.
Khutbah Jum’at inipun menjadi khutbah yang berbeda bagi saya. sebab, baru kali ini saya mendengar khatib di mesjid nabawi menggasak habis-habisan zionisme yahudi dan pentingnya melawan penjajahan di seluruh dunia, khususnya di Palestina. saya katakan baru dengar yang seperti ini, ya... karena memang, saya tidak pernah mendengarnya sebelum-sebelumnya. lagian saya kan hanya beberapa kali jum'at saja di Mesjid Nabawi. Pengalaman saya, khutbah jumat di Saudi tidak akan jauh dari masalah TBC (takhayul, Bid’ah dan Khurafat) ditambah lagi dengan pemberantasan praktek perdukunan dan saudara-saudaranya. Itulah makanya kalau jumatan di Mekah dan Medinah, saya lebih sering khusyu tertidur ketimbang dengerin yang khutbah membosankan. Inilah khutbah beda kedua yang saya dengar. kalau diperhalus, mungkin khutbah jum'at di Mekah dan Madinah lebih sering menyorot masalah ritual saja, tapi jarang menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan dunia islam saat kini.
Sejak awal hingga akhir khatib berbicara tentang peristiwa mengerikan ini dan menyerukan kaum muslimin bangkit. Dalam pembukaannya khotib secara dramatis menggambarkan pembantaian di Palestina dan kebrutalan Israel dalam serangan membabibuta selama beberapa hari itu. serta bahasan-bahasan politis tentang pentingnya menghilangkan segala jenis penjajahan di atas dunia, khususnya di Palestina.
“Lupakan perbedaan madzhab”¸ demikian khatib menyerukan. “Galang persatuan kaum muslimin. Saat ini kita lebih memerlukan persatuan untuk melawan Penjajah Israel” Bagian ini yang saya bilang beda. Sebab secara umum, ulama di sana sangat membatasi diri dengan perbedaan. Mereka akan sangat mudah menyerang orang yang berbeda dengan kata-kata mungkar, bid’ah, khurafat dan sebagainya. Ditambah lagi untuk urusan perjuangan Islam dan Palestina khususnya, mimbar-mimbar jum’at hampir tidak digunakan secara maksimal. Paling hanya doa seperti qunut nazilah di akhir khutbah. Tapi pembahasan secara spesifik tentang kondisi umat di seluruh dunia tidak mendapat perhatian cukup.
Pesan penting lainnya lagi, “Jangan sampai darah syuhada Gaza sia-sia,bawa semangat anti penjajahan dan antikemanusiaan dan antizionisme ini ke Negara masing-masing. Di tangan kalianlah (jemaah haji) tugas dan amanah ini diberikan sehingga apa yang terjadi di Negara Palestina dapat diketahui secara jelas”. Nah kan, jelas beda.
Sebagai penutup, khatib mengingatkan akan sabda nabi yang menjelaskan kondisi umat islam di akhir zaman yang seperti buih. Tidak berdaya apa-apa terhadap segala penindasan dan kezaliman. Salah seorang sahabat bertanya “ya Rasul, apakah mereka sedikit?” Rasul berkata, “tidak, mereka sangat banyak. Tapi tidak memiliki RUH” sahabat bertanya lagi “Mengapa demikian?”, “Karena mereka sangat mencintai dunia dan membenci kematian…” jawab Rasulullah.
Sekali lagi khutbah jum’at yang beda. Sayang sekali, khutbah ini tidak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. sebaiknya khutbah seperti itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa sehingga pesannya bisa sampai dengan baik. Karena harus disadari bahwa yang datang ke sana tidak semua bisa berbahasa arab. jemaah saya mesti nanya, "itu tadi, yang khutbah itu membahas apa?" saya dengan sukarela menjelaskan kepada mereka isi khutbah yang saya dengar. Ke depan di mesjidil haram dan nabawi harus disediakan monitor-monitor yang mentranslate khutbah-khutbah ke dalam berbagai bahasa. atau semacam audio translate yang disediakan dalam berbagai bahasa sehingga pesan persatuan, kesatuan dan dapat sedemikian cepat diserap jemaah. dan semangat anti penjajahan bisa menyebar dengan cepat.

    Blogger news

    Blogroll

    About