Pagi ini (kamis 30/9/2010) dalam pelajaran tafsir Al Qur'an saya coba gunakan film Sang Pencerah sebagai alat untuk belajar. kami coba membincangkan film Sang Pencerah. saya sendiri belum sempat nonton film tersebut. jadi sebetulnya juga tidak pas kalau dibilang membicarakan film. lebih tepat membicarakan cerita tentang film Sang Pencerah. whatever deh. yang penting tujuan pembelajaran yang sebisa mungkin mengambil pelajaran dari sekeliling kita bisa tercapai.
salah seorang santri yang sudah menonton saya minta untuk menceritakan runutan film tersebut. Para santri yang sebagian besar belum menonton saya minta untuk mencermati bagian yang unik dan menarik dari cerita tentang film Sang Pencerah. Mia santri dari Banten menceritakan runutan film hampir lengkap. Itu sudah cukup untuk memberikan pilihan para santri untuk mencatat bagian yang menarik dari cerita tentang film Sang Pencerah. tanggapan akan film itu cukup banyak dan beragam seperti KH. yang mengajarkan islam dengan menggunakan musik sebagai perantara menyampaikan ide. keberanian KH. A. Dahlan menentang arus besar pemahaman islam di Kraton Yogyakarta dan lain lain
salah satu yang menarik juga adalah sorotan dari seorang santri yang menyoroti ide KH. Ahmad Dahlan yang menggunakan meja untuk belajar. sebuah ide modern untuk masyarakat pesantren pada saat itu. akhirnya pembicaraan fokus pada isyu pesantren versus kemodernan. modern itu seperti apa? bagaimana pesantren menyikapi isyu-isyu kemodernan dalam hal ini difokuskan pada munculnya teknologi-teknologi baru yang dekat dengan santri sendiri seperti HP, internet, komputer dll.
modern itu seperti apa? belum terjawab. walaupun ada beberapa tulisan yang hampir mendekati. bahwa modern bukanlah gaya dan baju luarana saja seperti yang ditulis oleh Dini H, Ahmad Mahdi dan Haryani. Dini H. menulis "jangan cuma meniru gaya atau pakaian luarnya saja" ini hampir sama seperti yang dituls ahmad mahdi "seharusnya pesantren zaman sekarang mengikuti zaman. bukan berarti mengikuti gaya pakaian saja atau yang lain lain yang jelek-jelek tapi mengikuti zaman dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi"
kelihatannya para santri segera menganggap bahwa kemodernan terkait dengan teknologi yang maju saja. padahal sebuah ide atau pengajaran yang dulu dianggap kuno sekarang kembali disebut sebagai ide brilian dan modern. seperti larangan-larangan orang tua dahulu. setelah dikaji ternyata ajaran mereka adalah ajaran yang sangat modern dan ramah dengan lingkungan. pada adat orang sunda misalnya, ada larangan membuang lidi di sungai citarum karena hal itu akan mengakibatkan kerongkongan dewa di gua sanghyang tikoro tersumbat yang selanjutnya mengakibatnan bandung akan menjadi danau lagi.
kemodernan pun ada negatifnya jika tidak bisa menggunakan dengan baik. lihat saja ketika murid KH. Ahmad Dahlan yang GASIK (gagap musik) memainkan biola. hasilnya ... sakit telinga. demikian juga teknologi. jika tidak bisa menggunakan dengan baik maka bukannya memberi manfaat tapi malahan menyakitkan tulis aris sopandi.
untuk membendung dampak negativ yang mungkin timbul dari teknologi yang kian maju kebanyakan santri mengutarakan untuk penguatan ketahanan akhlak dan mental (ternyata pendapat mereka juga seperti pendapat para ahli ya). menurut para santri justru itulah benteng pertahanan terkuat. adakan juga pengawasan dan penyeleksian. Muadz menulis " di zaman modern seperti ini teknologi semakin canggih. jadi menurut saya pesantren tidak usah ikut campur dalam masalah teknologi. yang harus dilakukan adalah menjaga mental santri agar menggunakan teknologi untuk kebaikan"
kesimpulan sementara :
tranformasi pesantren dan kemodernan : adaptif dan selektif
terselip juga banyak harapan dan kritik
harapannya :
1. santri boleh bawa HP
2. Sediakan internet gratis
3. TV tiap kamar (he he he)
4. lab yang lengkap (ngaku deh emang labnya ndak lengkap)
5. adakan grup band
6. dll
kritiknya :
jangan cuma omong doang... :-)
pengertian modern menurut KBBI : sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dng tuntutan zaman;