Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

05 Desember 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Balai Taman Nasional Takabonerate : Dinas Kehutanan Tapi Mengurus Laut

Suasana pengajian di Balai TN Takabonerate
Suasana pengajian di Balai TN Takabonerate
“Lho kok bisa sih Dinas kehutanan tapi mengurus lautan?” Tanya saya kepada Pak Hasan Kepala SPTN Wilayah I Tarupa Taka Bonerate, Selayar. Pak Hasan juga tertawa sambil menjelaskan bahwa, satuan kerja seluruh taman nasional, termasuk Balai Taka Bonerate memang berada di bawah Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) yang berada di bawah Menteri Kehutanan.

Pertanyaan itu bukan hanya jadi pertanyaan saya, masyarakat Selayar juga banyak yang tidak tahu. Ketidaktahuan itu tergambar dari seringnya Balai ini mendapat laporan-laporan dari masyarakat setempat terkait dengan penebangan pohon, permintaan bibit tanaman hingga kebakaran hutan. Pihak humas kemudian mengarahkan masyarakat untuk melapor kepada pihak yang lebih berwenang. Masyarakat lapor ke Balai ini karena ada logo dan embel-embel kehutanannya di depan kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate.

Tugas dari Balai Taman Nasional Taka Bonerate adalah untuk menjaga, memelihara dan melestarikan taman nasional Taka Bonerate yang merupakan atol terbesar ketiga setelah atol Kwajalein di Kepulauan Marshall dan atol Suvadiva di Maldive. Wilayah yang dijaga ternyata sangat luas, total wilayah intinya saja sampai 8.341 HA.
berkumpul dengan petugas kehutanan yang mengawasi laut
berkumpul dengan petugas kehutanan yang mengawasi laut
Pengelolaan kawasan TN Taka Bonerate memang dilaksanakan dengan sistem zonasi. Zonasi dalam kawasan Tn Taka Bonerate terdiri dari 4 zona yaitu Zona Inti (8.341 Ha), Zona Perlindungan Bahari (21.188 Ha), Zona Pemanfaatan (500.879 Ha) dan Zona Khusus (357 Ha). Kebijakan zonasi ini juga terkait dengan keberadaan penduduk yang sudah menempati beberapa pulau sejak lama.

Zona inti merupakan Bagian taman nasional yang mempunyai kondisi alam baik biota atau fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia yang mutlak dilindungi,berfungsi untuk perlindungan keterwakilankeanekaragaman hayati yang asli dan khas. Sementara Zona Perlindungan Bahari (No Take Zone) merupakan. Bagian taman nasional yang karena letak,kondisi dan potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian pada Zona Inti dan Zona Pemanfaatan.
jernihnya pantai pulau Kahuna di samping Pulau Kayuadi
jernihnya pantai pulau Kahuna di samping Pulau Kayuadi
Zona Pemanfaatan(USING ZONE), merupakan Bagian taman nasional yang karena letak, kondisi dan potensi alamnya ruang ini dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi/jasa lingkungan lainnya, serta untuk dikembangkan dan dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Sementara zona khusu merupakan wilayah daratan berupa pulau-pulau berpenduduk, yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional, termasuk sarana penunjang kehidupannya antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasidan listrik.

Sebagai gambaran luasnya wilayah kerja Balai ini, bisa dilihat dari perjalanan saya menuju Tinabo yang merupakan salah satu zona inti. Kesempatan ini tak lepas dari kebaikan Ir. Jusman, Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, yang mengizinkan saya ikut bersama dengan rombongan dari Dinas Pariwisata dan beberapa calon investor.
Pak Yasri (baju hijau) Komandan dan kepala resort Tinabo
Pak Yasri (baju hijau) Komandan dan kepala resort Tinabo
Disertai oleh Pak Yasri Tahir yang merupakan Komandan Polhut dan kepala Resort Tinabo saya berangkat dengan menggunakan mobil dari Kota Benteng Selayar menuju Patumbukan. Perjalanan memakan waktu 1.5 jam. Dilanjutkan dengan perjalanan laut menggunakan kapal kayu milik Balai Taka Bonerate. Jam 4 sore kami berangkat, sampai ke Tinabo jam 10 malam. Itu baru sampai ke Tinabo besar saja. Untuk ke lokasi terjauh yaitu Pasitallu memakan waktu 8 jam ditempuh dari Tinabo Besar.

Yang menarik dari Tinabo adalah keberadaan (anak) hiu-hiu dengan sirip hitam (Black tip shark). Hiu-hiu kecil ini dengan aman dan tanpa merasa terganggu berenang di sekitar cottage. Pengunjung bisa memberinya makan atau berenang bersamanya. Kalau ada yang berani mengganggunya siap-siap saja digigit oleh hiu-hiu itu (atau mungkin juga ditembak oleh Pak Yasri).

Dengan keberadaan Penjagaan dan pengawasan dari Balai TN Takabonerate kita boleh berharap bahwa keasrian dan keberlanjutan atol terbesar ketiga ini akan terjaga. Tentu saja peran kita juga diharapkan untuk menjaga lingkungan dengan baik.
bercengkrama dengan hiu di Tinabo
bercengkrama dengan hiu di Tinabo

29 September 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

(Bromo 2) Menikmati Kawah Bromo dan Gunung Batok

Puas menikmati Bromo Sunrise, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan ke kaki gunung bromo. Perjalanan sekitar 1 jam dari Puncak penanjakan dengan mengendarai Jeep yang biasanya disewakan satu paket antara Puncak Penanjakan dan kawah Bromo. Dengan melewati lautan pasir yang membentang sangat luas tentu saja perjalan ke kaki Gunung bromo sangat menyenangkan. 

Tiba di kaki gunung bromo (parkiran jeep), pengunjung masih melanjutkan perjalanan sekitar 2 km, bisa naik Jeep maupun dengan berjalan kaki dan dilanjutkan menapaki anak tangga yang berjumlah sekitar 250 an. 

Atau bisa berkuda! Saya milih berkuda aja. Kan sudah capek mencari sunrise di Penanjakan, pindah satu lokasi ke lokasi lainnya. Jadi Pakai kuda lebih nikmat. Banyak juga yang agak ketakutan menaiki kuda. 
Di sini masker berguna sekali untuk menjaga pernafasan dari terjangan debu yang luar biasa dan bau kotoran kuda yang hmmm merangsek bulu hidung.

Teh Dini dan anak putrinya hanya sampai di sekitaran tempat yang membentuk seperti sungai. Untuk masuk ke sana mesti melewati ceruk yang agak sempit dan menurun. Nah di situlah yang agak menggojlok adrenalin. 

Saya teruskan perjalanan naik kuda itu sampai dekat tangga sambil mengambil foto-foto turis yang berjalan kaki atau naik kuda dan mengambil beberapa Angle dari Gunung Batok.

Konon Gunung Batok terkait erat dengan legenda Joko Seger dan Rara Anteng. Nah Nama Tengger berasal dari gabungan nama Roro Anteng dan Joko Seger.

Roro Anteng dan Joko Seger adalah pasangan yang saling mencintai dan berupaya memadukan cintanya walau banyak yang menghadang cinta mereka. Dalam legenda masyarakat, Roro Anteng yang cantik bak puteri kahyangan sangat mencintai Joko Seger. Namun Ada tokoh lain yang juga berupaya merebut cinta Roro Anteng. Tokoh yang bernama Kyai Bima itu adalah dari bangsa raksasa yang sakti.

Saking kesengsemnya, Kyai Bima melamar Roro Anteng. Karena sudah mencintai Joko Seger dan tidak ingin bersuamikan seorang raksasa, Roro Anteng memberinya syarat yang berat yaitu membuat sebuah lautan yang sangat luas sebelum ayam berkokok.

Tanpa di duga Kyai Bima menyanggupinya. Dengan sekuat tenaga ia menggali gunung yang besar dengan tempurung. Sedikit demi sedikit mulai terciptalah bentuk dari lautan. 

Melihat Kyai Bima hampir berhasil, Roro Anteng merasa khawatir. Ia pun mengajak para pembantunya untuk menumbuk lesung sekeras mungkin agar ayam ayam terbangun berkokok.

Aksi Roro Anteng sukses. Mendengar kokokan ayam dan kicauan burung membuat Kyai Bima berhenti dan menyerah. Dia meninggalkan pekerjaannya dan melemparkan batok kelapa untuk menggali pasir. berdasarkan legenda itu, saat ini hamparan padang pasir di sekita Semeru dan Bromo disebut Segara Wedhi, sedang sumur besar untuk mengairi lautan pasir sekarang berwujud kawah Gunung Bromo. Batok yang dibuang Kyai Bima berwujud Gunung Batok.

Begitulah legenda yang ada tentang Gunung Batok itu dan tak lama kemudian sampailah saya di dekat tangga menuju kawah Gunung Bromo. Aiiih melihat terjalnya tangga itu, agak malas juga mendakinya. Namun hati betul-betul ingin menaikinya. Akhirnya sedikit demi sedikit didakilah tangga itu daaaaaan batre kamerapun habis. jiaaah.

Sesampainya di puncak Bromo, pengunjung dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap putih yang tebal dan tentu saja fenomenal karena jarang ada di Indonesia bahkan di dunia.

Selain menyaksikan keindahan panorama di kawasan Wisata Gunung Bromo – Semeru, Pada hari tertentu masyarakat suku tengger mengadakan upacara adat yang terkenal dengan Upacara Kesodo. Upacara Kesodo merupakan upacara untuk memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan di lemparkan ke kawah Gunung Bromo.

Waktu yang terbaik mengunjungi kawasan Wisata Bromo adalah pada saat musim kemarau antara bulan Mei sampai Oktober karena pengunjung bisa menikmati keindahan panorama gunung bromo dengan sempurna.

Setelah berfoto ria dengan latar belakang kawah dan Gunung Batok, saya turun kembali ke parkiran jeep. Hmmm ada panggilan alam yang tak bisa ditolak. untungnya sudah ada WC di sana. Cukup bayar 2000 dan panggilan alampun bisa dituntaskan. Perjalanan dilanjukan kemanaaaaa anak-anak? 

KE SAVANAH dan PASIR BERBISIK kata angin berbisik. Yuk ah.


    Blogger news

    Blogroll

    About