Tampilkan postingan dengan label fimadinatirrasul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fimadinatirrasul. Tampilkan semua postingan

22 November 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Ada 12 Imam Syiah di Mesjid Nabawi

4 Khulafaur Rasyidin dan 12 Imam Syiah
Jika anda melaksanakan ibadah haji atau umroh, saat di mesjid Nabawi cobalah tengok nama-nama yang tertulis di dalam masjid, tepatnya di tempat yang ada payung. Ruangan terbuka yang di sisi-sisinya tertulis nama para sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin.

Yang namanya tertulis di situ tentu saja orang-orang penting dan mempunyai peran dalam perkembangan islam. Ada 4 khulafaurrasyidin, ada empat imam madzhab fiqih sunni dan ada 12 nama Imam Syiah.
Imam Syiah namanya tertulis di mesjid Nabi? ya kenyataannya seperti itu.

Di antara nama imam syiah, nama Imam Ja'far Shadiq mungkin lebih dikenal -selain Imam Ali, Hasan dan Husein- di kalangan Sunni. Selain karena penamaan madzhab syiah juga sering disebut madzhab Ja'fari, beberapa imam sunni juga pernah belajar kepada beliau. Imam Abu Hanifah misalnya pernah mengatakan bahwa kalau tidak belajar kepada Imam Ja'far selama 2 tahun maka celakalah Nu'man. Selain Abu Hanifah, Imam Malik juga belajar kepada Imam Ja'far.

15 Februari 2011

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Tidur minus Kebencian

Sudah beberapa hari, Rasulullah mengulang ucapannya  “Akan datang  di jalan yang kecil ini seorang laki-laki  ahli surga (rajulun min ahli jannah)”. Anas kemudian  menceritakan, ternyata datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang jenggotnya dibasahi bekas air wudhu dan ia menjinjing sandalnya di tangan kanannya, lalu dia mengucapkan salam. berkali-kali pula lelaki yang sama datang pas Rasulullah selesai mengucapkan kata-katanya

Ketika Rasulullah saw pergi, Abdullah bin Amr mengikuti orang itu dan ia berkata kepada orang itu, “Wahai fulan, aku sedang bertengkar dengan bapakku maka aku bersumpah tidak masuk ke rumah bapakku selama 3 hari. Jika engkau sudi menampungku selama 3 hari, maka aku ingin sekali bersamamu. Maka orang itu mempersilakan”.

Maka Abdullah bin Amr bercerita bahwa ia tinggal bersama orang yang dikatakan Rasulullah saw sebagai ahli surga, selama 3 malam. Aku ingin melihatnya, ternyata dia tidak pernah shalat malam, shalat tahajud, kecuali ketika dia berbalik dalam tidurnya ia selalu berdzikir kepada Allah dan bertakbir. Demikianlah sampai ia terjaga hanya untuk shalat shubuh saja. Kata Abdullah, “Aku tidak pernah mendengar perkataan jelek dari orang itu”.

Abdullah pun bercerita bahwa ketika selesai 3 malam, “Aku hampir merendahkan seluruh amal lelaki yang dijanjikan Rasulullah bakal masuk surga itu. Aku pun berkata kepadanya, “Hai abdullah (hamba Allah), sebenarnya antara bapak dan saya tidak ada perselisihan ataupun pertengkaran, tetapi sejujurnya aku hanya ingin tinggal di rumahmu saja, sebab Rasulullah berkali kali mengatakani bahwa kamu itu adalah calon ahli surga, maka aku ke rumahmu hanya sekedar ingin tahu apa yang engkau lakukan sehingga aku bisa mencontoh, tetapi aku tidak melihat engkau banyak beramal, tidur melulu. Apa yang membuat Rasulullah berkata demikian?”

Orang itu menjawab, “memang tidak ada amalanku yang menonjol, kecuali  setiap aku tidur aku tidak pernah menyimpan rasa benci atau menipu orang lain, dan tidak pernah punya rasa hasad atas kebaikan yang telah Allah berikan atas orang itu”.

Abdullah berkata, “Itulah yang telah Allah berikan kepadamu dan inilah yang aku tidak mampu!”

ternyata salah satu kunci surga adalah membebaskan diri dari sifat benci, hasad atau keinginan menipu orang lain.


24 Juni 2007

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Bertengkar karena Ka'bah

    aneh memang, bertengkar karena Ka'bah. bagaimana bisa? bisa saja. saya buktinya
    ceritanya begini. di satu jongko di Pasar Seng, tempat paling terkenal di Mekah setelah Mesjidil Haram dan tempat pavorit jemaah haji untuk belanja, saya memang sedang mencari oleh-oleh yang murah untuk sanak saudara di Indonesia. suasana tidak terlalu rame, karena sebagian jemaah sudah pada pulang. kami biasanya mengambil rombongan kedua, kloter terakhir sehingga datang dekat dengan waktu pelaksaan ibadah dan pulang setelah sebagian besar jemaah haji Indonesia pada pulang. sistem ini punya keuntungan sendiri. pertama ketika datang jemaah masih dalam keadaan fit dan sehat untuk melaksanakan ibadah yang wajib yaitu ARMINA (Arafah, Muzdalifah dan Mina). kedua, kami bisa mendapat kesempatan untuk menikmati Mesjidil Haram, karena sebagian besar jemaah sudah pulang. ketiga, harga-harga di pasar sudah harga banting.
    Nah kesempatan ketiga inilah yang coba saya pergunakan. maklumlah saya tidak banyak uang untuk membeli banyak barang. maka sore itu setelah shalat ashar di Mesjidil Haram saya melaksanakan tawaf di Pasar Seng. tentunya tawaf ini tidak pernah dianjurkan oleh Nabi atau ulama manapun. itu hanya
guyonan para jemaah haji untuk menyebut shoping di Pasar seng dengan sebutan tawaf.
    celingak celinguk, melihat ke kiri dan ke kanan, mencari barang yang dirasa cocok. biasanya saya cari jongko yang rada sepi, dijaga oleh orang yang kelihatannya ramah. saya malas jika harus berdesak-desakan di satu jongko dengan sesama sebangsa
atau bangsa lain.
    berlabuhlah hati saya ke sebuah jongko di dekat hotel Hilton. orangnya ramah, lembut dan baik hati (kelihatannya). saya melihat-lihat barang yang dipajang. mulai dari jam tangan, gantungan kunci dan serbaneka perental-perentil barang yang dipajang seadanya. sebetulnya barang-barang itupun bisa didapat di
indonesia. tapi entah kenapa kita lebih senang memberati koper kita dengan barang dari Mekah.
    Ketika mengumpulkan barang yang akan saya beli, Si penunggu dengan bangga berkata "Mekah ini dimuliakan karena Ka'bah. Ka'bah lebih mulia dari apapun yang ada di dunia. oleh karena itu kalian datang ke sini untuk berziarah ke sini"
    Spontan saja saya bilang "saya lebih suka berziarah ke Madinah. Di sana Ada R
asulullah. Rasulullah lebih mulia dari makhluk manapun, bahkan Ka'bah sekalipun"
    "tidak, Ka'bah lebih mulia dari apapun dan Rasulullah sudah mati" dia menukas dengan nada mulai meninggi. tidak begitu mengherangkan buat saya mendengar pandangan orang saudi yang menganggap Rasulullah sudah Mati. yang membuat saya tidak mau terima adalah ucapannya terhadap Rasulullah dengan kata qad maat (sudah mati)  bukan dengan kata lain yang lebih layak, misalnya saja menggunakan kata wafat yang menurut saya lebih sopan.
    "tidak, Rasulullah tidak mati, dia hidup, dia lebih mulia dari makhluk apapun dan Ka'bah hanyalah tumpukan batu" tukas saya.
    Rupanya dia tidak menerima kata-kata saya. dia segera turun dari jongkonya dan mendekat dengan tergesa-gesa. mengambil semua barang di tangan saya dan mendorong saya dengan kasar sambil berkata "pergi, pergi, ente orang musyrik, kafir, zindiq..." dan berbagai kata-kata yang tidak ingin saya dengar.
  Sayapun tak ingin memperpanjang masalah dengan meladeni orang tersebut. daripada dicecar berbagai pertanyaan oleh askar saudi yang fanatik lebih baik segera menghilang dari peredaran.
  saya segera pergi dengan diiringi pandangan mata orang-rang di sekitar saya. dari pandangan itu saya paham mereka kebingungan kenapa saya dimaki-maki oleh penunggu warung itu. ma fi musykilah lah, yang penting bagi saya Rasulullah lebih mulia dari makhluk manapun, bahkan Ka'bah.

25 Mei 2007

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

fi madinnatirrasul




jejak setelah haji di Madinah Al Munawwarah. berziarah kepada Rasulullah saw

    Blogger news

    Blogroll

    About