Tampilkan postingan dengan label sunni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sunni. Tampilkan semua postingan

23 Februari 2016

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Syekh Al Azhar Datang, Akankah ANNAS Mandul?


Tanpa banyak woro-woro di media, Syekh Al Azhar datang ke Indonesia. Al Azhar adalah salah satu institusi pendidikan tertua dan sangat berpengaruh dalam perkembangan pemikiran dunia Islam. Menjadi pemimpin institusi itu tentu saja tak seperti menjadi ketua Aliansi-aliansi abal abal yang ada di Indonesia. Maka kedatangan Syek Al Azhar Dr. Muhammad Thayeb ke Indonesia adalah satu hal yang menarik.

Hal menarik lainnya adalah tema yang diusungnya. Saat berbicara MUI Syekh Al Azhar mengatakan bahwa Sunni dan Syiah adalah bersaudara. Keduanya adalah sayap kemuliaan Islam. Waduuh, materi seperti itu disampaikan di MUI itu sesuatu banget. Tahukan di MUI banyak sekali orang yang anti Syiah dan rajin sekali membuat propaganda “Syi’ah Bukan Islam”.
Mengapa Syekh Al Azhar datang ke Indonesia dan langsung menyasar tema Sunni dan Syiah? Beliau mengerti betul bahwa sekarang isu itu dipakai untuk mengoyak islam itu sendiri. kasus Syiria, Yaman dan Irak adalah contoh yang sangat nyata. Isu ini juga sukses membuat umat melupakan kasus Palestina. Tentu saja dengan jumlah pemeluk Islam yang sangat besar di Indonesia, Syekh Al Azhar tak ingin kasus Syiria, Yaman dan Irak terjadi di Indonesia. Dari sini sangat jelas sekali gerombolan seperti ANNAS itu sedang melakukan apa.

("ada yang gembira dengan permusuhan Sunni dan Syiah)[/caption]
Kata syekh azhar "Dan ingat, perselisihan antara keduanya, Suni-Syiah inilah yang diembuskan oleh musuh Islam untuk memorak-porandakan umat, seperti saat ini yang terjadi di Suriah tak ada justifikasi meletusnya konflik tersebut, kecuali membenturkan Suni-Syiah, lihat pula Irak yang kacau balau atas dasar konflik sektarian".

Masih kata Syekh Al Azhar, “Sesunguhnya, sebagian perbedaan kita dengan saudara Syiah kita, adalah perbedaan nonprinsipil (furu’), kecuali dalam soal imamah. Syiah percaya imam sebagai bagian pokok agama, sedangkan kita, Suni soal itu termasuk nonprinsipil. Isu imamah juga tak membuat Syiah serta-merta keluar Islam”.

Tinggallah “kelompok pemegang kunci surga” yang kemudian kebakaran bulu dengkul. Propaganda mereka “Syiah Bukan Islam” menjadi mandul karena kedatangan seorang Syekh Al Azhar. Apa yang mereka bisa lakukan? jalan yang paling mudah adalah menafsirkan apa yang diucapkkan Syekh Al Azhar sesuai dengan hasrat mereka yaitu, Syiah sesat walau bagaimanapun! Aneh betul, ketika seorang Syekh Azhar mengajak pada persatuan, lha ini kok masih sibuk mengoyak kain ukhuwah.
Lalu apakah propaganda para pemegang kunci syurga itu akan berhenti?

[caption caption="Sebuah foto dari Suaranews.com"][/caption]

Harapan saya sebetulnya mereka berhenti dan kemudian membina ukhuwah Islamiyah, namun fakta yang saya lihat menjelaskan lain. Urusan “Syi’ah bukan Islam” bukan urusan akidah, namun urusan periuk nasi. Periuk itu tidak akan terisi kalau mereka berhenti berorasi. Ada banyak orang yang mengais nafkah dari proyek kebencian ini.  

Sebulan yang lalu seorang gubernur dari partai you know why diketahui menggunakan isyu sunni dan Syi’ah untuk mencari dana. Dia juga mengeluarkan statemen bodoh yang menyebutkan bahwa perseteruan sunni dan syiah adalah sunnatullah. Tak lama setelah video gubernur yang paling barokah itu tersebar, di Gedung Hate (anda tak salah baca, Gedung Sate sudah berubah jadi Gedung Hate) Bandung digelar acara yang digagas oleh gerombolan Annas. Undangan pink bernuansa valentine day itu menampilkan Sang Gubernur dan gembong Gerombolan ANNAS, Athian Ali Dai. Temanya tak kalah mengerikan yaitu “membebaskan Jawa Barat dari tirani kesesatan”. (Lihat : Karena Sunni lemah, Syiah jadi Kuat, Benarkah?)

Aliran dana dari Saudi ke Athian memang cukup kencang berhembus. Beberapa bulan lalu,  ada kicauan menarik dari Akhmad Shahal, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika Serikat. “Ketua MUI Pusat bilang ke saya, ANNAS adalah proyek Saudi untuk bawa perang konyolnya dengan Iran ke Indonesia,”.

[caption caption="digaji 2 juta untuk fitnah Syiah"][/caption]

Jauh sebelum gubernur paling barokah di Indonesia itu mengemis dana di Saudi dan Juga proyek ANNAS, seorang aktifis anti Syi’ah mengakui dengan riang gembira bahwa dia digaji 2juta agar memprovokasi issu Syi’ah sesat. Dia bilang bahwa gaji itu lebih kecil dibandingkan kiprahnya menyebarkan fitnah terhadap Syi’ah. (lihat : Provokatif terhadap Syiah karena digaji 2 Juta)

Ketika proyek kebencian ini tidak akan berhenti dengan kedatangan Syekh Al Azhar, maka yang bisa kita lakukan adalah mengeliminasi gerakan-gerakan takfirisme anti ukhuwah Islamiyah. Ada tiga hal yang bisa kita lakukan. Pertama, kembangkan sikap berbaik sangka dan persempit buruk sangka. Kalau ada yang menyebarkan keburukan kelompok lain segeralah tabayun. Kedua, tingkatkan pengetahuan. Semakin tinggi pengetahuan akan semakin luas pandangannya. Ketiga, Tak perlu memonopoli kebenaran. Setiap madzhab bisa punya sudut pandang yang berbeda dengan yang kita miliki. Jika kita meminta pendapat kita dihargai, tentu saja orang lain ingin pendapatnya juga dihargai.

[caption caption="Proyek Kebencian, untuk kepentingan siapa?"][/caption]

Dalam hal ini, saya sadar betul dengan adanya pola hubungan sunni dan syiah yang begitu, namun saya tak ingin terjebak di dalamnya. saya tak ingin mewariskan kebencian kepada sesama muslimin, saya ingin kaum muslimin bersatu padu dan menunjukan keagungan islam. peluang dan faktanya ada serta terjadi.

Di sisi lain pemerintahpun perlu bergerak cepat jangan sampai kelompok ini dengan bebas menyebarkan konflik sektarian dan mengubah Indonesia seperti di Syiria, Yaman dan Irak. Saya sangat setuju dengan menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti ajakan Syekh Al Azhar, dan bukankah Islam yang rahmatan lil’alamin itu adalah ajaran Nabi Muhammad?

17 April 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

KH Al Bantani: Persatuan Sunni dan Syiah dalam Deklarasi Amman

KH Alawi Nurul Alam Al Bantani adalah kyai muda NU yang sangat istimewa. Selain berdakwah lisan sebagaimana umumnya para kyai NU, beliau sangat aktif menulis buku. Minimalnya, ada 55 judul buku yang telah  ditulisnya, antara lain berjudul Allah pun Bershalawat, Mengapa Kita Tidak (40 Keajaiban Sholawat)Ustadz Salafi Wahabi (Persis) Bertanya Al Bantani Menjawab, dan Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa “Merah” MUI & DDII. Ditambah lagi dengan gaya orasinya yang memikat, membuat pengajian dari anggota Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini sayang untuk dilewatkan.
Pada hari Rabu (16/04/14) lalu, KH Alawi Al Bantani menyampaikan pengajian bertema Persatuan Sunni dan Syiah berdasarkan Deklarasi Amman di Mesjid Raya Bandung. Di hadapan lebih dari 300 jamaah yang hadir,  beliau menyatakan bahwa kerukunan Sunni dan Syiah akan menguatkan Islam dan sebaliknya, perpecahan di antara kedua madzhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam. Menurutnya, perpecahan itu memang sengaja didesain agar umat Islam selalu ribut di antara sesamanya dan melupakan urusan yang lebih penting, yaitu memegang pos-pos penting di pemerintahan.
Pentingnya Meniru Rasulullah SAW
KH. Alawi Al Bantani mengatakan, sejak zaman dulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka, yang dibutuhkan adalah sosok yang agamis dan nasionalis, sebab dengan terkumpulnya dua karakter ini tidak akan berusaha memecah belah umat.
“Kalau cuma beda madzhab tak usah saling mengkafirkan. Harusnya kita meniru Rasulullah. Rasul saja sangat ramah kepada orang yang beda agama apalagi cuma beda madzhab. Ulama mesti memiliki visi ukhuwah Islamiyah,” tegas KH. Alawi.
“Jika ada ulama yang senang dengan perpecahan tandanya pemahaman agama mereka belum mencapai level yang mapan dan mantap. Mereka hanya ingin kita ikut Islam gaya mereka dan membuat Islam kacau balau,” lanjutnya.
KH. Alawi menyebut Risalah amman yang dideklarasikan pada tahun 2004. “Jika ulama dan Kiyai tidak mengetahui keberadaan Risalan Amman, maka dia sudah ketinggalan informasi hampir 10 tahun!” tegasnya.
Mazhab-Mazhab yang Diakui Islam dalam Risalah Amman
para peserta Risalah Amman
para peserta Risalah Amman
Risalah Amman adalah adalah sebuah deklarasi yang diterbitkan pada 9 November 2004 (27 Ramadan 1425 H) oleh Raja Abdullah II bin Al-Hussein dari Yordania yang menyerukan toleransi dan persatuan dalam umat Islam. Risalah ini ditandatangani juga oleh wakil-wakil resmi dari Indonesia, KH. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Dr. Dien Syamsuddin (Muhammadiyah) dan Maftuh Basyuni (wakil pemerintah). Saat itu, ada sekitar 200 ulama berbagai mazhab dari lebih 50 negara yang tanda tangan dan hingga kini proses penandatanganan masih berlanjut. Saat ini sudah lebih dari 500 ulama dunia yang tanda tangan.
Dalam Risalah Amman, ada fatwa dengan 3 pasal yang mengangkat masalah: kriteria Muslim; takfir(pengafiran) dalam Islam, dan dasar-dasar yang berkaitan dengan pengeluaran fatwa. Risalah Amman juga berisi pengakuan atas 8 (delapan) mazhab dan ajaran Islam yaitu: Sunni Hanafi, Sunni Hambali, Sunni Maliki, Sunni Syafi’i, Syiah Ja`fari, Syiah Zaydi, Ibadiyah, Zahiri. Menurut KH. Alawi, berdasarkan Risalah Amman ini, kelompok wahabi malah tidak disebutkan.
Risalah Amman juga melarang penyebutan kafir bagi pengikut ajaran: Ash`ari, Tasawwuf asli, Salafi sejati, dan  pelarangan menyebut kafir terhadap Muslim yang diakui ajarannya.
KH. Alawi mengatakan, “Jika ada orang islam yang mengatakan bahwa salah satu madzhab yang disebut dalam Risalah Amman itu kafir, maka justru orang itu yang kacau.”
Lebih lanjut KH Alawi mengatakan bahwa pembahasan takfir ini merupakan pembahasan yang sulit dan dalam. Tak mudah mengkafirkan orang lain. Apalagi oleh orang yang ilmunya cetek. Kita tidak boleh mengafirkan orang hanya karena beda rukun iman, karena dari sahabat saja rumusan rukun imannya beda-beda.
KH. Alawi lalu mengutip sebuah hadis,  tidak  akan berkumpul di dalam surga satu di antara dua orang yang mengatakan kepada saudaranya, ‘ya kafir!’. “Lalu, bagaimana mungkin kita akan mengafirkan pengucap syahadat yang jumlahnya sangat banyak seperti saudara kita dari madzhab Syiah?” katanya.
Deklarasi Abal-Abal di Bandung
ammanmessage.com
Selama beberapa hari terakhir, media sosial dan bahkan juga media nasional memberitakan adanya rencana Deklarasi Anti-Syiah yang akan diselenggarakan di Bandung tanggal 20 April. Menurut KH. Alawi Al Bantani, acara deklarasi ini mengandung banyak hal yang janggal. Pertama dari segi tempat. Jika deklarasi ini memang berskala nasional, mengapa tidak menggunakan Mesjid Raya Bandung? Mengapa acara tingkat nasional itu hanya menggunakan mesjid tingkat RW ? Kedua, konotasi dari kata tingkat nasional juga meniscayakan keikutsertaan hampir semua elemen masyarakat dan ormas muslim. Namun dari pembicara yang disebut dalam poster itu tidak ada satu elemen penting ormas muslim yang hadir. Semua pembicara itu adalah Wahabi, tak satupun ulama Ahlu Sunnah yang disebut dalam poster itu.

Lebih lanjut, KH Alawi mengkritik, “Yang tak elok dari penyelenggara deklarasi itu adalah akan menggunakan masyarakat awam untuk menjadi bemper pergerakan takfiri mereka.” Yang dimaksud beliau adalah rencana penyelenggara deklarasi itu untuk membagikan kaos bertuliskan kebencian terhadap Syiah terhadap para tukang becak. Dalam hal ini masyarakat yang tidak paham tentang Sunni dan Syiah dijadikan tameng untuk menghantam Syiah. KH Alawi menyayangkan pihak kepolisian tidak menindak aksi tersebut.
Gubernur Jabar Akan Hadir?
Ketidakhadiran ulama-ulama Jawa Barat pun mendapat sorotan dari KH. Alawi. Beliau menyebutkan, nama-nama yang ditulis dalam poster deklarasi itu hampir semuanya dari luar Jawa Barat.
“Memangnya di Jabar ini tidak ada kiyai yang mumpuni? Apakah KH.  Hafidz Utsman misalnya, Ketua MUI Jabar, tidak bisa menerangkan tentang hal ini? Ataukah beliau tidak mau datang karena sudah tahu agenda tersembunyinya?” kata KH Alawi.
Mengenai kehadiran Gubernur,  KH. Alawi mengatakan, “Saya yakin gubernur tidak akan hadir di acara itu karena kehadirannya di acara itu akan membuat stigma bahwa dirinya adalah penasehat Wahabi takfiri di Bandung dan Jawa Barat, dan itu tidak menguntungkan dirinya.”
“Jikapun nama gubernur ditulis dalam poster, itu hanya sekedar untuk hiburan diri panitia yang ingin acaranya dihadiri gubernur dan tipuan buat ummat,” lanjutnya.
Mengapa Syiah Mesti Dibenci?
(foto:LiputanIslam.com)
(foto:LiputanIslam.com)
Selanjutnya, KH. Alawi menyebutkan menyebutkan bahwa perbedaan Sunni dan Syiah itu hanya ada pada 17 masalah furu’ (cabang) bukan pada masalahushul (pokok). Dan perbedaan dalam masalah furu’tidak menyebabkan orang menjadi kafir. Dalam Islam perbedaan ijtihad adalah keniscayaan. Keduanya mendapat pahala. Bagi yang benar dua pahala dan yang salah dapat satu pahala.
KH. Alawi menyebutkan sebuah hadis yang membedakan sebutan Syiah dan rafidah. Menurut KH. Alawi, sebutan Syiah memang sudah diberikan oleh Rasulullah kepada para pencinta dan pengikut Imam Ali kw. “Dari Ummu Salamah ia berkata: Baginda Nabi bersamaku pada suatu malam, ketika putrinya Hadrat Fatimah datang menyampaikan salam bersama suaminya Ali. Rasulullah mengangkat kepalanya dan berkata, ‘bergembiralah wahai Ali! Engkau dan Syiahmu berada dalam surga’”
“Berdasarkan hadis ini, jelas Syiah bukan rafidah. Memang ada orang Syiah yang suka menjelek-jelekan sahabat Nabi. Namun itu hanya segelintir orang saja. Jangan hukumi semua jelek karena ulah sekelompok orang,” jelas KH. Alawi. (fm/dw/LiputanIslam.com)

09 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Bedah Buku Versi Ukhuwah

Di tengah maraknya bedah buku yang (konon) diterbitkan MUI,  ‘Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia’ (MMPSI) yang penuh hujatan kebencian, Pesantren Babussalam (Ciburial, Bandung) mengadakan acara serupa, namun dengan tujuan ukhuwah pada hari Ahad (9/3) lalu.
Acara ini diawali dengan pelaksanaan istighatsah yang memang rutin dilakukan setiap Ahad pekan pertama di pesantren ini. Tepat pukul 9.30, diskusi buku dimulai dengan dipandu oleh Ustadz Fajruddin Muchtar yang juga merupakan pengurus yayasan dan pesantren Babussalam. Pembicara yang hadir dalam acara ini adalah Dr. Izzuddin Mustafa (mewakili MUI Jawa Barat), Ustadz Babul Ulum M.Ag (narasumber dari Syiah), Dr. Mujiyo Nurcholis M.Ag (narasumber NU), Dr. Fadhlullah M. Said, MA (perwakilan dari Yayasan Babussalam), dan KH. Drs. Muchtar Adam (Pimpinan Pesantren Al Quran Babussalam).
MUI: Syiah Sesat?
Pembicara pertama Dr. Izzuddin mengawali pembicaraan dengan menyebutkan bahwa dirinya seperti kejatuhan pekerjaan orang. “Harusnya, yang diundang adalah penulis buku, bukan orang lain. Namun karena mendapat amanat dari ketua MUI, saya bersedia hadir dalam acara ini,” katanya.
Dr. Izzuddin  menyampaikan amanat yang didapat dari Ketua MUI Jabar bahwa buku MMSI adalah merupakan suara resmi MUI.  Kemudian, dia membahas beberapa isu tentang Syiah dengan mengulangi hal-hal yang tercantum dalam isi buku, tanpa keluar sedikit pun. Dr. Izzuddin menutup pembicaraannya dengan menyebut bahwa Syiah adalah aliran sesat yang mesti diwaspadai. Alasannya (kembali mengutip isi buku), MUI khawatir perkembangan Syiah akan mengancam keutuhan NKRI karena orang-orang Syiah bercita-cita untuk mendirikan negara model Iran. Jika Syiah berkuasa, maka akan terjadi seperti apa yang berlaku di Suriah: pembantaian orang Sunni oleh orang Syiah.
Agenda Global: Memecah Belah Muslim
Pernyataan ini kemudian mendapatkan tanggapan dari Ustadz Babul Ulum, penulis buku “Merajut Ukhuwah dan Memahami Syiah”.
“Yang terjadi di Suriah, bukan orang Syiah membunuh Sunni tapi kenyataan bahwa Bashar Assad yang tidak mau tunduk kepada hegemoni Barat,” tandasnya.
Grand Mufti Suriah (serban putih) sholat di samping Persiden Assad
Grand Mufti Suriah (serban putih) sholat di samping Persiden Assad
Ustadz Babul Ulum menjelaskan, Assad adalah orang Sunni, mufti-mufti Suriah juga adalah orang Sunni, tak satupun yang Syiah. Beliau juga mengingatkan bahwa ada agenda global untuk memecah belah kaum Muslimin. Mengadu domba umat dengan isu Sunni-Syiah adalah cara yang paling mudah serta membawa hasil yang sangat cepat dan destruktif. Oleh karena itu, beliau menyerukan agar agar kaum Muslimin secara cerdas menyaring informasi yang sampai kepada mereka.
Selain itu, Ustadz Babul Ulum juga menyebutkan bahwa  buku MMPSI tidak bisa dikatakan keputusan resmi MUI. Sebab dalam buku itu tidak ada surat resmi dari MUI.
“Buku MMPSI hanya merupakan ajang provokasi memecah belah umat dan ajang mencari uang dari pihak-pihak yang memang sedang gencar juga membiayai diskusi-diskusi menyerang Syiah,” tegasnya.
Al Quran Syiah Berbeda?
Lebih lanjut, Ustadz Babul Ulum menyebutkan bahwa semua tuduhan dalam buku itu adalah bohong. Misalnya, isu soal Al Qur’an umat Syiah yang berbeda.
Ustadz Babul Ulum mengatakan, “Saya  berani menemani Anas digantung di Monas jika ditemukanAl Quran Syiah yang berbeda dengan yang terdapat di kalangan kaum muslimin.”  Ucapannya itu langsung disambut tawa oleh para jamaah.
Pernyataan Ustadz Babul Ulum mendapatkan konfirmasi dari KH. Muchtar Adam. Beliau menunjukkan Al Quran yang dicetak dan dibeli langsung dari Iran.
Kata Pak Kyai, “Pernah ada orang yang mengatakan bahwa Al Qur’an Syiah itu beda, lalu Pak Kyai suruh dia membaca Al Quran dari Iran ini. Setelah khatam, orang itu mengatakan bahwa Al Qur’annya sama.”
Oleh karena itu, Kyai Muchtar Adam sangat menekankan pentingnya tabayun (konfirmasi atau meminta penjelasan) dan menambah ilmu. Pak Kyai juga mengingatkan jamaah agar waspada terhadap upaya pemecahbelahan yang dilakukan musuh-musuh Islam. Beliau mengutip Surat Ali Imran ayat 100.  Asbabun nuzul ayat itu adalah peristiwa hampir berperangnya kaum muslimin akibat propaganda seorang Yahudi bernama Syasy bin Qais. Pak Kyai mengatakan bahwa fitnah model Syasy ini akan terjadi sepanjang masa. Itulah sebabnya, ketika membaca buku MUI yang memecah belah umat ini, beliau menyatakan sangat sedih, bahkan menangis.
KH. Muchtar Adam kemudian menceritakan pengalamannya ketika beberapa kali berkunjung ke Iran. “Di Iran, orang-orang Sunni yang memang minoritas mendapat jaminan keamanan dan perlindungan pemerintah. Orang Sunni dan minoritas lainnya malah mendapat jatah gratis kursi di parlemen. Sangat berbeda dengan di Indonesia. Baru saja ada orang Syiah yang mau mencalonkan jadi anggota DPR, orang ramai ramai menjegal,” jelas Pak Kyai.
Terakhir, KH. Muchtar Adam juga menegaskan bahwa Pesantren Babussalam dan dirinya bukanlah orang Syiah.  Beliau pibadi mempelajari beberapa aspek Syiah, termasuk tafsir Quran yang ditulis ulama Syiah dengan tujuan keilmuan dan komitmen terhadap persatuan ummat Islam. Dalam keyakinan Pak Kyai, perpecahan umat harus dijembatani melalui peningkatan keilmuan.
“Seperti naik ke puncak gunung, semakin naik, semakin luas pandangan yang dilihat,” kata Pak Kyai.
Hadis Sunni-Syiah Saling Melengkapi
Salah s
diskusi babussalam-1
atu poin yang diangkat Dr. Izzuddin adalah orang Syiah tidak mau menerima hadis dari kalangan Sunni. Ustadz Babul Ulum menjawab pernyataan ini dengan mengatakan bahwa banyak sekali hadis Sunni yang dipakai oleh Syiah dan juga sebaliknya. Ustadz Babul Ulum merujuk pada disertasi Dr. Fadhlullah yang meneliti tentang hadis-hadis Sunni yang terdapat dalam Tafsir Al Mizan.

Dr. Fadhlullah, lulusan UIN Jakarta, yang juga menjadi pembicara, menilai bahwa bahwa buku MMPSI tidak bisa disebut sebagai buku ilmiah karena banyak kelemahan, di antaranya tidak adanya batasan masalah yang akan dibahas. Akibatnya buku ini terasa mengambang saking luasnya tema yang dibahas. Kemudian tidak ada pembanding dari pihak tertuduh –dalam hal ini kaum Syiah. Akibatnya, sumber dan data yang tertuang hanya dipilih yang memojokkan Syiah saja, dan itu pun belum disetujui/diakui kebenarannya oleh kaum Syiah.
Selanjutnya Dr. Fadhlullah mengatakan bahwa tujuan diadakannya diskusi semacam ini adalah sebagai mana termaktub dalam surat Hud ayat 88, di mana Nabi Syueib as mengatakan bahwa dia tidak bermaksud apa-apa kecuali perbaikan.
“Diskusi ini juga sebagai media tabayun antara satu pihak penuduh dengan yang dituduh secara adil,” tegas Fadhlullah.
Upaya Merajut Ukhuwah
Sementara itu, Dr. Mujiyo memaparkan bahwa dalam sudut pandang NU, untuk menganggap sesat kelompok Muslim perlu diperjelas dari aspek manakah kesesatannya; apakah sesat secara total ataukah sesat pada aspek tertentu dan tidak sesat pada aspek lain. Menurutnya, untuk mempelajari Syiah lebih detail, ada beberapa kategori, yaitu Syiah teologi, Syiah politik, Syiah fikih, dan Syiah tasawuf. Dari aspek teologi dan politik, pendirian NU jelas yaitu menghukumi sesat orang yang berpendapat bahwa ada wahyu setelah Rasulullah Saw dan menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.  Jika kaum Syiah Indonesia tidak demikian, tentu mereka tidak sesat, kata penulis tesis “Hadis-hadis Imamah dalam Shahih Al Bukhari dan Al Kafi dalam Perspektif Ilmu Hadis Dirayah” ini.
Menurut Mujiyo, dari aspek fikih, khususnya madzhab Ja`fari, secara metolologi sangat dekat dengan Sunni, mengingat Ja`far al-Shadiq adalah guru Abu Hanifah dan Malik bin Anas. Madzhab Maliki lebih dekat dari pada mazhab Hanafi, mengingat madzhab Maliki dan madzhab Ja`fari sama-sama ahli hadits (atsari, tekstualis), sedangkan madzhab Hanafi dikenal sebagai ahli ra’yi (rasionalis). Sementara madzhab Syafi`i disebut-sebut sebagai madzhab moderat yang menjembatani antara kedua kubu tersebut.
Ada yang menarik dari paparan Dr. Mujiyo, yaitu bahwa sejak dulu sudah ada upaya untuk rekonsiliasi Syiah dan Sunni. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Imam Ja’far Shadiq dan Umar bin Abdul Aziz yang berkomitmen menghentikan cacian kepada Ali dan Ahlul Bait. Sehingga di masa itu, akhir khutbah Jumat yang biasanya diisi cacian kepada Imam Ali, diganti dengan pembacaan surat An Nahl ayat 90. Sayang upaya rekonsiliasi itu dihalangi oleh pihak-pihak antipersatuan sehingga pada masa Abbasiyah, cacian dan makian kepada kaum Syiah kembali merebak.
diskusi babussalam-2
Di akhir diskusi buku yang dihadiri hampir 200 jamaah ini, diadakan sesi dialog. Salah satu peserta diskusi, KH. Ahmad Rifai, seorang ahli qiraah dari Bandung, menilai bahwa acara yang dilaksanakan sangat bagus dan dapat membantu umat memahami perbedaan secara seimbang. Dr. Izzudin Mustafa pun menyebut bahwa dialog memang harus dibangun dan apa yang terjadi dalam diskusi buku hari itu sudah pada jalurnya. “Sebab biasanya dialog seperti ini hanya berisi hujatan dan vonis sesat kepada Syiah tanpa orang Syiah bisa membela diri karena memang tidak diberi jatah untuk membela dirinya,” kata Izzuddin.

Fahmi Zainuddin, salah seorang peserta diskusi berkomentar, “Saya baru mengetahui bahwa banyak hadis-hadis Syiah yang diriwayatkan oleh ulama-ulama Sunni dan banyak hadis-hadis Sunni yang diriwayatkan oleh ulama Syiah.  Oleh karena itu ummat harus cerdas, jangan menjustifikasi satu golongan yang sesat sebelum melakukan penelitian agar tak mudah diprovokasi.”
Ustadz Fajruddin kemudian menutup diskusi itu dengan kalimat-kalimat puitis ala Mata Najwa:
Jika perbedaan  sebuah keniscayaan maka madzhab adalah kekayaan.
Jika keragaman adalah keindahan mengapa mesti ada pertengkaran?
Bersatu bukan berarti menyamakan tapi penghormatan satu sama lain, saling menguatkan, saling memajukan.
Syiah-Sunni adalah produk dinamika sejarah dua madzhab besar masa kini, yang jika bersatu akan mampu menoreh sejarah.
Syiah-Sunni disatukan ikatan suci. Tauhid dan kecintaan pada Nabi. Tak beda mereka bersyahadat. Lalu  mengapa harus saling damprat ?
Mekah tempat tujuan berhaji, tempat pensucian hati. Madinah tempat berziarah pada Nabi, tempat melabuhkan hati. Syiah-Sunni sama menghormati karena keduanya berasal dari ajaran Nabi.
Allah mengingatkan agar kita bersatu supaya rahmat dan keadilan bisa ditumpu. Bagaimana itu bisa kita tuju jika Syiah-Sunni saling baku tinju?
Nabi melarang kita bertengkar. Selain menghabiskan tenaga, bertengkar dekat dengan kufur. Kata Nabi, orang kufur jauh dari yang Maha Ghafur. Sebab itu akan mendapat siksa di alam luhur.
Sudah banyak upaya untuk membuatnya bisa sama bergerak. Walau itu merupakan jalan panjang nan menanjak. Di sisi lain memang ada daya tipu yang menginginkan Syiah-Sunni terpecah. Sebab kalau Syiah-Sunni terpecah musuh-musuh tenang menjarah.
Lihatlah di Palestina, tempat Zionis menggempur. Sangat lama kita abai karena kita sendiri sibuk saling menggampar, akibatnya Israel semakin lebay
Berapa lama kita akan sadar melihat saudara-saudara kita disembelih. Berapa banyak lagi darah harus mengocor agar kesadaran kita kembali pulih?
Oleh karena itu hendaknya cerdas mengelola perbedaan, agar perbedaan tidak menjadi hukuman.
Syiah-Sunni berseteru sepanjang masa dari sepeninggal Nabi hingga masa kini, tak maukah kita mengakhirinya?
Masih maukah kita menulis sejarah dengan tinta darah merah yang kita alirkan dari tubuh saudara sendiri, yang sama mengucap seru Tuhan sejati?
Syiah-Sunni mesti saling belajar, karena pada keduanya ada kearifan. Syiah-Sunni mesti bersatu lebur karena pada persatuan ada kekuatan.
Hentikan caci maki yang akan menimbulkan seteru. Akan hebatlah Islam agama Ilahi jika Syiah-Sunni bersatu padu.
0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Syiah Sunni Bersatu

Jika perbedaan  sebuah keniscayaan
maka madzhab adalah kekayaan
jika keragaman adalah keindahan
mengapa mesti ada pertengkaran?

bersatu bukan berarti menyamakan
tapi penghormatan satu sama lain
saling menguatkan
saling memajukan

Syiah sunni
Adalah produk dinamika sejarah
dua madzhab besar masa kini
yang jika bersatu akan mampu menoreh sejarah

Syiah sunni disatukan ikatan suci
Tauhid dan kecintaan pada Nabi
Tak beda mereka bersahadat
Lalu  mengapa harus saling damprat ?

Mekah tempat tujuan berhaji, tempat pensucian hati
Madinah tempat berziarah pada Nabi, tempat melabuhkan hati
Syiah sunni sama menghormati
Karena keduanya berasal dari ajaran Nabi

Allah mengingatkan agar kita bersatu
Supaya rahmat dan keadilan bisa ditumpu
bagaimana itu bisa kita tuju
jika Syiah Sunni saling baku tinju

Nabi melarang kita bertengkar
selain menghabiskan tenaga, bertengkar dekat dengan kufur
kata Nabi, orang kufur jauh dari yang Maha Ghafur
sebab itu akan mendapat siksa di alam luhur

sudah banyak upaya untuk membuatnya bisa sama bergerak
walau itu merupakan jalan panjang nan menanjak
di sisi lain memang ada daya tipu yang menginginkan syiah sunni terpecah
sebab kalau syiah sunni terpecah musuh musuh tenang menjarah

lihatlah di Palestina, tempat Zionis menggempur
Sangat lama kita abai
karena kita sendiri sibuk saling menggampar
Akibatnya Zionisl semakin lebay

Berapa lama kita akan sadar
melihat saudara-saudara kita disembelih
berapa banyak lagi darah harus mengocor
agar kesadaran kita kembali pulih

oleh karena itu hendaknya cerdas mengelola perbedaan
agar perbedaan tidak menjadi hukuman

syiah sunni
berseteru sepanjang masa
dari sepeninggal Nabi hingga masa kini
tak maukah kita mengakhirinya?

Masih maukah kita menulis sejarah
Dengan tinta darah merah
Yang kita alirkan dari tubuh saudara sendiri
Yang sama mengucap seru Tuhan sejati

Syiah sunni mesti saling belajar
karena pada keduanya ada kearifan
Syiah sunni mesti bersatu lebur
Karena pada persatuan ada kekuatan

Hentikan caci maki
Yang akan menimbulkan seteru
Akan hebatlah Islam agama ilahi
Jika syiah sunni bersatu padu


(corat coret sepanjang jalan Bandung – Jakarta PP 8/03/2014)

01 Oktober 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemelihara Perdamaian VS Pemelihara Permusuhan

Islah warga Sampang (Antaranews)
Islah (perdamaian) antara warga muslim Syiah dan Sunni di Sampang Madura masih sepertinya masih akan berbuntut panjang. Setelah beberapa ulama dan Pemda menolak adanya islah. Seperti tak mau ketinggalan Menag SDA mengatakan bahwa ada yang bermain islah di Sampang (Kompas 30 sept 2013). SDA mengatakan Bisa jadi ada pihak yang ingin menari di atas konflik itu.

    Blogger news

    Blogroll

    About