Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan

03 April 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Secarik hidup dalam bingkai #selfiestory

Setelah gegar hati karena jaringan internet di rumah sedang kacau balau dan belum ada perbaikan dari Telkom, saya ngacak ngacak cd dokumentasi lama yang membuat saya menemukan beberapa foto yang mengingatkan saya pada beberapa perjalanan ke Aceh, pada tahun 2005-2006 pasca Tsunami.

Tahun segitu ya, istilah selfie kayaknya belumlah seramai sekarang ini.  Tahun-tahun ini adalah masa kejayaan Multiply yang sekarang sudah almarhum (duuh, jadi kangen deh sama MP). Kamera yang dipakai juga masih kamera biasa. Sehingga membidiknya membuat kesulitan tersendiri. Mungkin kalau menggunakan kamera Hp zaman ini seperti Smartfren tidak akan sesulit saat itu. Apalagi pake lensa wide.

Foto di atas merupakan foto saat saya dan Bapak saya meninjau ke lokasi pembangunan sekolah di beberapa tempat di Aceh. Yang pertama adalah aceh besar dan yang kedua adalah Aceh Barat (Meulaboh). 

Tahun itu, Bapak sudah mendekati umur 70 tahunan namun semangatnya masih seperti pemuda-pemuda harapan bangsa. Kepiawaiannya menjaga kondisi tubuhnya diperlihatkan lewat foto ini. Durian Meulaboh yang memang matang di pohon bisa dilahap sendiri dan tidak ada pantangan dalam hal makanan. Padahal untuk umur seperti itu, beberapa makanan biasanya sudah menjadi pantangan. Mungkin saja kebiasaannya mengkonsumsi jamu dan dedaunan obat membuatnya tetap sehat dan bugar.  

Di tempat ini saya dipercaya untuk menjadi pimpro pembangunan sekolah. Di Gunung Mas Meulaboh ini sudah ada fondasinya. Namun selama bertahun-tahun, pembangunan tidak pernah diteruskan. Maklum saat itu sedang kondisi kampanye sehingga dana cukup besar untuk meraih simpati sesaat digelontorkan. Termasuk ke dayah (pesantren ini).  Maka ketika kami datang untuk melanjutkan kembali pembangunan yang tertunda sangat lama itu, Pak Kyai pengurus dayah di Gunung Mas sangat senang.

Bagi saya sendiri, perjalanan ke Aceh adalah sebuah perjalanan yang sarat dengan pembelajaran. Dari perjalanan ke Aceh (dan juga perjalanan membangund sekolah di tempat lain) saya mendapatkan pengalaman luar biasa.

Pelajaran paling utama yg saya dapat dalam perjalanan ini adalah tentang perjuangan membangun bangsa. Bapak sering bilang bahwa kalau bangsa ini ingin maju, maka sektor pendidikan haruslah digarap dengan serius.



Naik Helicopter PBB

Maka, dari semangat membangun bangsa itu kemudian lahir sekolah-sekolah di berbagai tempat. Yang membahagiakan, saya ikut merintis beberapa sekolah di pelosok Indonesia. Sebut saja Aceh, Nias dan Wakatobi. Ada jejak yang berhasil saya torehkan di tempat-tempat itu. Walaupun tidak kelihatan di sana, paling tidak ada beberapa fotonya. Termasuk yang pose-pose selfie. 

Memang, kesempatan ke tempat-tempat itu saya pergunakan juga untuk mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Di Banda Aceh, tentu saja Mesjid Baiturahman menjadi tempat yang harus dikunjungi. Saat Tsunami melanda, mesjid ini menjadi tempat penampungan mayat-mayat yang jumlahnya ribuan.

Saya sempatkan juga mampir ke Makam ulama terkenal yang namanya diabadikan menjadi sebuah perturuan tinggi, yaitu Syiah Kuala. Saat saya ke sana kondisinya memang masih berantakan dan belum ada perbaikan. 

Selain tempat itu menarik, nama dari ulama terkenal itu sangat menarik perhatian. Namanya mengingatkan saya pada satu madzhab Islam yang banyak diikuti oleh orang-orang Iran. Apakah nama itu merujuk pada madzhab itu atau tidak, mungkin para ahli sejarah bisa mengurainya.

Tak lupa saya menginjakan kaki di Indonesia KM 0 Pulau Weh, Sabang. Dari Lampuuk, kami naik kapal fiber menuju Sabang. Lalu menggunakan mobil ke KM 0. Setelah melewati perjalanan cukup pangjang, kami tiba di Indonesia KM 0. Sebagai bukti kalau kami sudah ke sana, sebuah sertifikat diberikan setelah membayar sejumlah uang (saya lupa nominalnya). 



Selfie di atas motor saat menuju ke makam Syiah Kuala

http://www.smartfren.com/ina/home/


15 November 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

9 “Ayat” Wajibnya Guru Menulis (Sekarang!)

Ada sebuah tulisan menarik di mushala Pesantren kami yang bunyinya “Membacalah, maka dunia akan terbaca olehmu dan menulislah maka kamu akan tertulis oleh dunia”. Tulisan itu langsung menyeret ingatan saya kepada quotenya Pramoedya Ananta Toer yang sangat dahsyat, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tdak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Jika melihat Ayat Al qur’an, salah satu ayat paling panjang berkaitan dengan aktifitas menulis transaksi dengan baik. Nama lain dari Al Qur’an sendiri adalah Al Kitab yang secara harfiah berarti kumpulan tulisan. Artinya bahwa kegiatan menulis adalah sesuatu yang sangat penting sehingga diabadikan dalam ayat yang panjang dan nama dari Al Qur’an.

Berkaca dari Rasulullah, para sahabatnya juga menegaskan arti penting menulis. Imam Ali as mengatakan, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Sementara sahabat Said bin Zubair menyatakan bahwa ia menulis hadits Rasulullah kadang di tangan dan kulit sepatunya. Mengapa dia melaukan hal itu? Tak lain karena bapaknya menasehatkan, ”Hafalkanlah. Tertutama tulislah. Bila engkau lupa, maka tulisanmu akan membantumu.”

Imam Syafii menggambarkan ilmu sebagai binatang buruan dan menulis adalah ikatannya. Dalam syairnya, Imam Syafi’I mengatakan:

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya,
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat,
Termasuk kebodohan kalau kamu memburu kijang,
Setelah itu kamu tinggalkannya terlepas begitu sahaja.

Bagi guru, menulis sangat penting dalam kegiatan belajar dan mengajar. Dalam mengajar, seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu yang diketahuinya kepada murid. Ada keahlian lain yang mesti dikuasainya seperti kemampuan komunikasi, berpikir logis dan sistematis. Di bawah ini saya akan menyebutkan “Ayat-ayat” mengapa guru mesti menulis.

Ayat 1 : Menulis menuntut berpikir logis dan sistematis

Kegiatan menulis adalah kegiatan yang menuntut agar kita berpikir secara logis dan sistematik. Sebagai produk pemikiran menulis betul-betul menuntut kejernihan berpikir yang berbasis pada klaim, argumen dan data serta kemampuan merangkainya dengan baik.Bisa jadi semuanya terpenuhi, namun cara merangkainya tidak baik sehingga terlihat kacau dan tidak runtut. 

Seorang guru yang terlatih menulis, maka lama kelamaan gaya berpikirnya akan semakin logis dan sistematis. Dengan demikian guru sepagai ujung tombak pendidikan akan dapat mentransfer ilmunya dengan baik. Imbasnya siswa juga akan mengikuti pola pikir gurunya.

Ayat 2 : Menulis memaksa kita bertindak hemat dan praktis

Kemampuan menulis kalimat dengan jernih adalah buah dari kemampuan berpikir logis (bernalar) hal itu juga melahirkan sikap hemat dan praktis dalam bertutur. Kalau bisa praktis mengapa harus boros ? kata Mbak Anna Farida salah satu mentor saya. 

Salah satu alasan adanya editor adalah karena biasanya penulis boros dengan kata-kata (mungkin karena gratis ya). Coba bayangkan kita harus membaca sebuah kalimat yang panjang padahal bisa disingkat dengan satu kata.Tentu saja hemat, praktis dan efektif ini juga bukan berarti harus kaku. 

Rahayu (2007) menyebutkan bahwa Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. 

Tulisan-tulisan saya yang dikirim ke beberapa situs juga biasanya mengalami banyak editing. Sering kali hasil editing berbeda jauh dari tulisan aslinya dari situ saya berlatih menghemat kata.

Ayat 3 : Menulis melatih tanggung jawab

Setiap kita membaca artikel di Kompasiana, pasti akan bertemu dengan disclaimer ini, “Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.” Artinya bahwa setiap menuliskan ide kita mesti siap mempertanggungjawabkannya. 

Sebuah tulisan ibaranya seperti peluru. Sekali sudah ditembakan tak bisa dia dikembalikan. Oleh karenanya sekali melepaskan tulisan seorang penulis sudah harus berpikir untuk mempertanggung jawabkannya sekiranya ada yang mengritik ataupun menilainya.

Sikap bertanggung jawab seperti ini harus dimiliki oleh guru yang kepadanya diamanatkan untuk membina murid yang memiliki akhlak yang mulia.

Ayat 4 : Menulis melatih ketelitian

Penulis selalu disarankan untuk membaca ulang hasil tulisannya. Selain melihat kembali kekokohan tautan ide dan logikanya, penulis diharapkan untuk memeriksa kesalahan-kesalahan penulisan, tanda baca ataupun pilihan kata. 

Sikap teliti seperti ini sangat penting dalam proses pembinaan siswa. Keragaman siswa dalam berbagai hal menjadi tantangan bagi guru untuk bisa mengarahkannya. Ketelitian dalam menulis pasti sangat bermanfaat dalam proses ini.

Ayat 5 : Menyebarkan ide lebih kekal dan luas

Menulis adalah aktifitas menyebarkan ide. “satu peluru dapat menembus satu kepala tapi satu tulisan dapat menembus 1000 kepala” Kata Sayyid Qutb. 

Kekuatan menulis sudah banyak terbukti. Masih ingat Kartini? Ya, tokoh emansipasi wanita Indonesia yang lahir di Jepara pada 1879. Ia telah mengubah dunia perempuan Indonesia lewat tulisan-tulisannya. 

Di era digital sekarang ini, tulisan-tulisan menjadi tak lekang oleh waktu dan zaman. Contohnya tulisan saya saja yang berjudul Aplikasi Android untuk Para Guru. Artikel yang diunggah pada tanggal 8 November 2012 itu masih bisa dibaca dan sudah diklik sebanyak 4576. Tulisan lainnya dengan judul Tebing Keraton dan Kisah Mistisnya yang diunggah pada 10 Agustus 2014 sudah diklik sampai 1400 kali. 

Ayat 6 : Menulis memperkaya diksi
Menulis bukan hanya menuliskan kata-kata namun bagaimana agar makna yang ingin disampaikan berhasil diikat dengan baik. Untuk mengikat makna dengan baik itu diperlukan pilihan diksi yang kuat dan pas. Coba bandingkan tulisan saya dengan Cak Nun (Emha Ainun Najib). Terasa sekali pilihan katanya sangat berbeda. Tentu saja Cak Nun adalah budayawan dengan perbendaharaan kata yang sangat kaya. Dengan menulis saya mencoba memperkaya kata-kata saya.

Seorang guru pun dituntut untuk kaya dalam kosakatanya sehingga kegiatan belajar menjadi lebih kayak arena kekayaan kosakatanya.

Ayat 7 : Menulis sebagai alat pemaksa membaca
Kata kang Benny Ramdhani, “Sering kali tulisan itu menjemukan lantaran penulisnya miskin diksi. Penyebab pertama, tentu saja penulisnya malas membaca. Sebab membaca akan memperkaya kosakata.”

Hubungan antara membaca dan menulis sangat erat. Menulis memerlukan membaca dan membaca membutuhkan menulis. Satu kata bijak mengatakan , “tidak seorang pun dapat memberikan sesuatu yang tidak ia miliki.” Demikian juga dengan penulis. Seorang penulis tidak dapat mempersembahkan sesuatu kepada orang lain jika dia sendiri kosong. 

Dengan membaca, seorang penulis mengisi dirinya. Melalui membaca penulis menjelajah ide dan memetiknya. Ia menemukan ide baru. Dengan menuliskannya ia membagikan penjelajahannya.

Membaca juga akan sangat berpengaruh pada gaya menulis kita. Menurut Mas Hernowo, gaya tulisan bukan dikarenakan seringnya menulis tapi ditentukan oleh buku apa yang sering dibaca. Apa yang diungkapkan Hernowo di atas berlandaskan pada penelitian yang dilakukan oleh Krashen. semakin banyak mereka membaca semakin baik tulisannya. 

Ayat 8 : Menulis dapat jadi penghasilan tambahan
Sebagai seorang guru dan blogger, saya mendapat penghasilan tambahan dari hasil tulis menulis. Beberapa kali saya menjuarai kontes blog yang diadakan Kompasiana dan kontes blog lainnya. Jenis hadiahnya beragam, mulai dari piagam penghargaan, jalan-jalan hingga uang jutaan rupiah. Satu kali menjuarai lomba lebih besar dari gaji yang saya terima. Beberapa bloger senior saya malahan bisa mendapat yang sangat besar dari kegiatan tulis menulisnya. 

Ayat 9 : Menulis melepaskan stress
Berhadapan dengan beragam siswa dan tekanan di sekolah tentu saja mengakibatkan stress. Apalagi kalau himpitan itu beradu dengan kebutuhan dapur, stress akan makin bertambah. Menulis adalah sebuah cara luar biasa untuk melepaskan emosi serta beban. 

Menulis dikenal sebagai katarsis dari stress. Para ahli sering menyebut metode ini dengan silent abreaction atau melepaskan beban dengan diam. Menurut Dr. Stephen D. Krashen, dalam hasil risetnya yang termuat dalam buku “The Power of Reading”, menulis dapat membantu kita memecahkan masalah yang membelenggu pikiran kita. Karena dengan menulis, kita akan mampu mengekspresikan apa saja yang hendak kita tuangkan, yang barangkali selama ini telah lama terpendam. (sumber)

03 November 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Inilah Strategi Membangun Personal Branding untuk Penulis

Memiliki personal branding (merek yang yang kuat) adalah sebuah impian. Perusahaan-perusahaan besar bersedia menggelontorkan dana yang besar demi tercapainya branding yang kuat ini. Nah bagaimana dengan penulis? bagaimana membangun personal branding yang kuat? nah kita ikuti saja tulisan Kakak Benny Ramdhani yang powerful ini yuk

Personal branding dan penulis seperti dua hal yang tidak berhubungan. Nyatanya di dunia bisnis penulisan yang kompetitif ini, personal branding bukan lagi pilihan bagi penulis. Mereka yang memilih jalur hidup sebagai penulis, sebaiknya mempelajari juga strategi personal branding.

Menurut Wikipedia, personal branding adalah proses dimana orang-orang dan karir mereka ditandai sebagai merek. Sementara teknik manajemen swadaya sebelumnya adalah tentang perbaikan diri, konsep personal branding menunjukkan sebaliknya bahwa kesuksesan datang dari diri-kemasan.

Ya, jadi personal branding itu adalah proses membangun merek bagi siapapun dan apapun bisnisnya yang tentu saja penting untuk membangun kredibilitas. Apalagi jika ingin cepat sukses dan dikenal positif oleh publik. Nah, ini ada tujuh strategi membangun personal branding untuk siapapun yang menggeluti dunia penulisan.

Identitas
Pertama, perkenalkan identitas sebagai penulis. Bisa ditulis di kartu nama, akun socmed yang dipunya, profil BBM dan Whats Ap, bahkan signature e-mail. Tambahkan prestasi di bidang penulisan. Pernahkah memenangkan lomba penulisan? Jika tidak, dalam setahun mampu menulis berapa buku? Pokoknya apapun kelebihan penulis harus disebutkan. Penulis juga dapat mengungkapkan pendidikan, pengalaman dan passion yang dipunya. Dan karena bisa jadi banyak identitas yang mirip, maka sebutkanlah hal paling unik dalam dunia kepilikan yang dipunya. Misalnya, mampu menulis dalam bahasa Spanyol.

Testimoni
Mintalah pendapat atau testimoni orang lain mengenai diri kita agar orang lain semakin percaya. Atau tunjukkan reputasi di bidang penulisan dalam bentuk foto-foto. Tempatkan di socmed atau personal website.

Kreasikan Merk
Bayangkan kita ingin dikenal sebagai apa. Merk penulis sudah banyak, cobalah lebih spesifik. Misalnya, menjadi penulis novel romantis paling humble, penulis cerita detektif anak-anak paling disukai, penulis komedi yang tampan. Sebaiknya bangun merk dengan melihat apa yang orang juga pikirkan tentang kita. Jika kita memiliki body atletis dan menulis novel romantis, ya kita bisa membangun merk penulis romantis paling atletis. Dengan adanya patokan merk ini juga bisa menjadi patokan attitude kita di lingkungan.

Networking
Mulailah membuat jaringan dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan kerabat, lalu teman kerja atau kuliah. Jaringan inilah yang akan membantu kita membangun kesuksesan. Setelah membangun jaringan dengan orang yang kita kenal, barulah dengan yang belum dikenal. Lakukan pula secara on-line di jejaring sosial.

Konten
Menulislah dari pikiran sendiri. Sesuaikan dengan identitas dan merk yang kita bangun. Termasuk dalam menulis di social media. Jangan sekali-kali menulis hal-hal yang bisa menjatuhkan brand yang sudah dibangun. Jika menulis dalam keadaan emosi di socmed, tarik napas sebanyak tiga kali sebelum mempublikasikannya.

Komunitas dan Berbagi
Bergabung dalam komunitas selain untuk networking juga sebagai inspirasi dan semangat baru. Baik komunitas menulis maupun non-menulis bukan sebuah masalah. Berperanlah aktif di sana agar personal branding kita terbangun dengan baik. Cobalah untuk lebih sering berbagi, terutama tentang keilmuan yang kita punya. Bisa dibagi di komunitas maupun di jejaring sosial.

Up Date
Jangan jadi penulis yang kudet. Di era teknologi informasi, semua harus bisa kita akses dengan mudah. Perubahan kini begitu cepat. Bahkan cara kerja pun bisa melalui digital. Ikuti perkembangannya, dari teknologi maupun pergaulan. Apalagi ilmunya, karena ilmu menulis terus berkembang.

Semangat kreatif!

    Blogger news

    Blogroll

    About