Tampilkan postingan dengan label jalaluddin rakhmat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalaluddin rakhmat. Tampilkan semua postingan

05 April 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Inilah Jalanku yang Lurus

Buku berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (MMPSI) yang konon merupakan suara resmi MUI adalah buku kecil dengan dampak sistemik yang sangat besar. Disebut konon karena sampai saat ini pihak MUI secara resmi tidak pernah mengakui dan tidak pernah menolak. Disebut berdampak sistemik karena sejak dikeluarkannya, maka berjamuranlah diskusi-diskusi (atau diskusi-diskusian) untuk membedah buku itu. Sayangnya kebanyakan diskusi itu hanya bertujuan untuk mempersekusi madzhab Syiah (makanya saya sebut diskusi-diskusian). Tak banyak bedah buku MMPS yang menghadirkan narasumber kalangan tertuduh. Maka ketika terbit buku menjawab buku MMPS itu, saya senang sekali. Setidaknya kita akan mendapatkan tanggapan dan persepsi  dari pihak Syiah.

Buku Inilah Jalanku yang Lurus (IJyL) ditulis oleh Emilia Renita AZ (ERAZ) adalah klarifikasi atas tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepada Syiah. Seperti diketahui bahwa selain menerbitkan buku MMPS, MUI telah lebih dulu membuat 10 kriteria aliran sesat yang sering dijadikan senjata untuk menyerang kelompok lain. Padahal secara nyata 10 kriteria itu sendiri sangat mentah dan masih memerlukan penafsiran-penafsiran detil yang tak mudah. Jika tak dibarengi dengan penafsiran yang detil, maka akan muncul penghakiman sepihak seperti yang terjadi terhadap Syiah.

Dengan taktis buku ini menangkis fitnahan-fitnahan terhadap Syiah. Alur logikanya mengalir dengan lembut tanpa menghilangkan ketegasannya. Adanya snapshot memudahkan pembaca untuk melihat teks dari buku aslinya. Secara keseluruhan buku ini cukup renyah untuk dibaca, namun tetap tak bisa ditelan secara langsung. Pergumulan idenya harus dikunyah pelan-pelan, kemudian dicerna dengan mendalam dengan nalar yang sehat dan jauh dari prasangka.

Dari segi isi buku ini memang bukanlah baru. Sudah banyak buku sejenis menjawab syubhat terhadap syiah yang itu-itu saja sejak dulu. Makanya saya bisa membacanya dengan cepat. Syubhat tentang syiah memang hanya itu-itu saja, tak mengalami pergeseran mungkin itu sebabnya Syekh Jawad Mughniyah mengatakan, “Di dunia ini semua hal berubah kecuali kecaman terhadap Syiah. Semua ada ujungnya kecuali fitnah terhadap Syiah. Semua vonis harus berdasarkan bukti kecuali terhadap Syiah“.

Yang membuat istimewa, bukan hanya mengklarifikasi pandangan Syiah, buku ini bahkan bisa balik menampar MUI (dan menyentil Muhammadiyah). Dengan menggunakan 10 kriteria karet untuk mengidentifikasi golongan sesat, dengan telak buku IJyL yang katanya ditulis hanya tiga pekan, menunjukan bahwa MUI sendiri telah memenuhi 10 kriteria kesesatan. Nah lo…

Misalnya ketika membahas formula rukun iman dan Islam, ERAZ menyebutkan bahwa rukun Iman dan rukun Islam yang dikenal sekarang ini adalah hasil perumusan para ulama. Rasulullah sendiri tidak menentukan bahwa rukun iman dan islam itu mesti seperti yang dikenal sekarang. Formula rukun iman dan islam bersumber dari hadis ‘Umar bin Khattab. Sementara itu dari para sahabat lainnya, kita menyaksikan rukun-rukun Islam lainnya, selain yang lima tersebut, seperti termaktub dalam kitab-kitab hadis shahih. Bahkan pada awalnya, Nabi saw menyebutkan rukun Islam sebagai tanda-tanda keimanan. Setelah itu, para ulama mutakhir juga menambahkan dan mengurangi rukun Iman dan rukun Islam tadi. Mereka memasukkan jihad, amar makruf nahi munkar dan silaturahim ke dalamnya. Oleh karena itu jika ada perbedaan formulasi rukun iman dan islam tidak mesti menjadi kelompok sesat dan kafir.

Jika berbeda rukun iman dan rukun islam itu diartikan mengingkari rukun Iman dan rukun Islam seperti dirumuskan oleh penulis buku Panduan, maka sesatlah aliran yang dianut oleh al-Bukhari, Muslim, dari ulama salaf, dan juga Al-Syaikh Yahya bin ‘Abd al-Rahman, Profesor Sa’d bin Turki Al-Khatslan, ‘Abd al-Aziz bin ‘Abdillah bin Baz dan ulama khalaf lainnya. (hal 17-9).

Sementara itu mengenai kemaksuman para nabi, ERAZ dalam bukunya menjelaskan posisinya dan perbedaannya dengan yang diyakini oleh Muhammadiyah,

Pada Bab Jawaban untuk Muhammadiyah ERAZ menulis, Muhammadiyah meyakini Nabi Muhammad saw maksum, begitu juga Syiah. Bedanya, Syiah menganggap maksum dalam segala hal, Muhammadiyah tidak. Hal itu juga sekalian menjawab tudingan bahwa nabi Syiah berbeda dengan nabinya Sunni. Ya memang beda, beda sudut pandang saja.

Sebagai contoh, dalam kitab-kitab rujukan Muhammadiyah, seperti al-Bukhari 4484,dengan penjelasan dalam kitab-kitab tafsir, ada riwayat tentang Nabi saw yang mengikuti setan dan memasukkan ayat-ayat setan ke dalam al-Quran.

Dalam Shahih Bukhari juga dikisahkan dosa para Nabi alaihim al-salam. Ibrahim as berdusta tiga kali, dua karena Allah, satu karena selain Allah (Shahih Bukhari, hadis 3108,); Musa menonjok mata Malakal Maut sampai copot, karena Musa tidak mau mati (Shahih Bukhari3155); Musa memarahi batu karena membawa lari bajunya dan memukulnya tiga, empat, atau lima kali (Shahih Bukhari269); Sulaiman melakukan hubungan seksual dengan 70 orang perempuan dalam satu malam dengan mengabaikan nama Allah swt, sehingga hanya lahir seorang anak yang cacat (Shahih Bukhari 3171); Nabi Muhammad saw melaknat orang Islam yang tidak layak untuk dilaknat (Shahih Bukhari5884, Muslim 4705-4711)

Karena Muhammadiyah menerima kesahihan Bukhari tanpa syarat, pastilah Muhammadiyah tidak menganggap Nabi saw maksum, atau maksumnya sebagian saja, atau bagaimana? Hanya Muhammadiyah yang tahu. Adapun Syiah karena yakin bahwa semua Nabi maksum, Syiah segera menolak hadis-hadis tentang “Nabi bersalah atau lupa” tanpa syarat ! Sesatkah orang yang mengimani kemaksuman Nabi saw secara mutlak? Gugat ERAZ.

Apa yang dituduhkan oknum MUI di buku MMPS dan rumusan Muhammadiyah dapat dijawab dan dipertanggung jawabkan dengan taktis. Buku ini memang ditulis untuk menjawab buku dan rumusan yang dikeluarkan dua lembaga tersebut. jika akhirnya, seperti ditulis di buku IJyL “A Votre chose, a votre guise,” semua tergantung pada pilihannya dan setiap pilihan harus bisa dipertanggung jawabkan, maka menurut saya setiap pilihan mesti didialogkan dengan adil.

MUI yang mempunyai visi sebagai wadah silaturahim yang menggalang ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyyah, demi untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis, aman, damai, dan sejahtera dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai tugas mulia untuk mendamaikan dan meredam benih perpecahan bukan malah menjadi biang keladi permusuhan (karena ulah oknum yang hanya beberapa gelintir saja).

Muhammadiyah sebagai ormas besar di Indonesia kiranya bisa menjadi jangkar yang kokoh dalam menjaga persatuan Islam dan kaum muslimin dari upaya-upaya adu domba dan politik injak bambu. Mengangkat satu kelompok tapi menginjak kelompok yang lain.


Syiah –sebagaimana Sunni- yang diakui sebagai salah satu madzhab dalam Islam, telah memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan Islam di dunia juga bisa menjadi poin penting menuju persatuan ummat. 

04 April 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (6) : Senyum Tuhan yang ingin kutitipkan

Hamparan sawah di sekitar Bendungan Saguling
Jangan pernah beranggapan bahwa tempat yang sudah kamu tuju adalah ujung dunia, sebab di belakang sana masih terhampar tempat yang belum kau kunjungi. Itu pelajaran yang saya dapat dari berbagai kunjungan. Hal itu terbukti lagi ketika saya mengikuti kampanye Ustad Jalal.

Sebagaimana saya tulis sebelumnya, saya pikir di belakang bukit di sekitar power house Saguling tidak terdapat perkampungan. Ternyata salah karena di sana akan banyak ditemukan perkampungan yang cukup padat.

Setelah melewati power house Saguling kami bertemu lagi dengan tanjakan berkelok-kelok. Banyak keindahan yang tak bisa diabadikan dengan baik karena saya hanya berbekal BB yang lumayan lemot untuk mengambil pemandangan indah selama perjalanan. Sebetulnya kamera poket –yang juga sudah minta diganti- sudah dicharge semalaman. Sayangnya saya lupa memasukan kartu memorinya sehingga BB menjadi andalan selama perjalanan.

Beberapa menit melewati powerhouse kami melihat sebuah air terjun kecil yang cantik. Ada banyak warung di sekitarnya dengan motor dan mobil yang berjajar cukup banyak. Saya yakin tempat itu sering juga dikunjungi.  Sayang saya tak bisa mengambil fotonya karena kamera bawaan BB sangat lambat. Karena keterbatasan kamera itu pula saya gagal mengambil gambar yang sangat indah dari pemandangan lembah aliran sungai Citarum. Sangat indah dan itulah senyum Tuhan yang sangat elok.

Senyum Tuhan itu... (http://apdri.wordpress.com)
Jalan masih berkelok hingga sampai ke kampung bernama Babakan Kersen. Rombongan Ustad Jalal berhenti beberapa menit di warung itu. Saya lihat banyak buah manggis. Sepertinya memang baru dipetik. Ibu penunggu warung menyebut bahwa itu baru panen sehari sebelumnya.

Seorang bapak tua menghentikan pekerjaan menyiangi kebunnya. Dia mendatangi rombongan kami sambil berkata, “Poko na mah jokowi kedah jadi presiden. Jelema bageur kudu didukung sangkan nagara jadi bener” (pokoknya jokowi harus jadi presiden. Orang baik harus didukung agar negara ini menjadi benar). Bapak tua itu kemudian diantar bertemu dengan Ustad Jalal. Kepadanya Ustad Jalal pun memohon doa agar sukses dalam pemilu ini. “Insyaallah didoakeun ku Aki” kata bapak tua itu. Semoga kita bisa melihat senyum Tuhan ketika Ustad Jalalmemperjuangkan nasib rakyat di DPR-RI.

Sebelum masuk ke daerah pegunungan batu kapur, saya melihat beberapa istalasi cukup aneh. Dua tembok besar berbentuk lingkaran dengan tulisan “tempat pendatar air”. Konon air yang mau dialirkan ke pipa pesat harus ditampung dan ditenangkan sehingga seluruh pipa pesat yang sangat besar itu semuanya terpenuhi air dan tidak ada gelembung udara yang masuk bersamanya. Kegunaan tempat penampungan itu sendiri karena debit air yang masuk ke Citarum sudah berkurang sangat banyak sehingga harus ditampung hingga penuh. Saya pernah posting dua kondisi bantara Citarum yang kontras. Satu Citarum yang dipenuhi air yang ngagulidag dan satu lagi Citarum yang kering kerontang.

Selanjutnya, pemandangan indah bukit-bukit batu kapur menghiasi perjalanan kami hingga desa Cipongkor. Pemandangan yang indah dan menarik akan lebih mantap jika saja dibarengi dengan jalanan yang bagus. Banyak tempat indah susah didatangi karena jalanan sangat jelek.

Saya ingat perjalanan saya ke Citambur, sebuah curug di dekat perbatasan Kab. Bandung Barat dan Cianjur. Jalan di wilayah Cianjur jalannya sudah bagus dan mulus. Namun ketika masuk wilayah KBB, jalannya ancuuuur. Jika saja jalannya bagus, masyarakat Cianjur selatan bisa lebih dekat ke Bandung lewat jalur itu.

Salah satu yang juga menarik perhatian saya selama perjalanan dari power house ke Cipongkor adalah banyaknya lokasi longsor. Saya lupa menghitung berapa titik longsornya, yang jelas lebih dari 10 titik lah. Pernah dikabarkan juga pada bulan agustus 2013, longsor meminta 3 korban jiwa di desa Sindang Jaya Gunung Halu.

Setelah dari lapangan Bropid Cipongkor perjalanan didominasi pemandangan indah danau hasil bendungan Saguling dan daerah pesawahan yang sangat indah. Sayangnya di beberapa titik tebaran sampah mencoreng senyum Tuhan itu.

Seharian mengelilingi danau Saguling, kembali mengigatkan bahwa negeri ini sangat kaya. Banyak potensi belum tergarap maksimal. Banyak senyum tuhan yang kita perlakukan secara sembangarang. Negeri ini memang kaya. Ah… saya jadi teringat puisi Gus Mus tentang negeri ini…

mana ada negeri sesubur negeriku?

sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu dan jagung

tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia

dan burung-burung indah piaraan mereka

berasal dari hutanku

ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku

mana ada negeri sekaya negeriku?

majikan-majikan bangsaku

memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia

mana ada negeri semakmur negeriku

penganggur-penganggur diberi perumahan

gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi



Kepada Ustad Jalal saya ingin menitipkan asa. Ustad, Kepadamu kutitipkan kegetiran nasib bangsa ini, semoga engkau bisa memperbaikinya.
Dua wajah citarum

Longsoran di banyak titik

Lorong Inpeksi

Bendungan Pendatar

Gunung Batu

Jalaluddin Rakhmat Untuk DPR-RI

02 April 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (4) : Menyaksikan Senyum Tuhan (satu)

Perjalanan kampanye yang jauh sepadan dengan yang saya dapat. Saya bisa mendampingi Ustad Jalal dalam perjalanan itu dan bisa melihat tempat-tempat yang belum saya lihat. Bandung Raya adalah anugrah ilahi yang sangat berharga. Tempat yang jutaan tahun lalu terendam air sekarang merupakan sebuah kota yang menggeliat dengan berbagai masalahnya.

Peninggalan dan bukti bekas danau masih bisa disaksikan sampai kini. Dan dalam perjalanan itu saya melihat beberapa keindahan yang membuat banyak orang terkesima. Brouwer, seorang penulis Belanda menulis, ‘Tuhan menciptakan alam parahyangan tatkala Dia tersenyum’, dan hari itu aku banyak melihat senyum Tuhan.

Dari Kiara Condong, kami menuju tol Buah Batu. Berjalan beriringan menuju kawasan Tagog Apu. Di dekat situ kita akan melewati  sebuah situ (danau) yang sangat terkenal karena sebuah lagu sunda mengambil seting tempat itu, “Situ Ciburuy laukna hese dipancing,nyeredet hate ningali ngeplak caina…”

Situ Ciburuy (http://geogeografi.blogspot.com)
Keindahan danau dan pulau di tengahnya (lengkap dengan mitos-mitos yang menyertainya) membuat situ ini teristimewa. Banyak yang datang mengunjunginya untuk sekedar melihat atau memang percaya kepada mitos-mitos itu. Namun hari itu saya hanya bisa melihatnya dari kendaraan karena masih mengikuti konvoi.

Situ Ciburuy sendiri terletak di kawasan karst Citatah, Rajamandala. Sebuah tempat berharga namun di ambang kehancuran. Di Kawasan ini, ditemukan kerangka manusia Sunda purba di Gua Pawon. Menurut yang saya baca, kerangka manusia Pawon adalah yang pertama kali ditemukan di Jawa Barat.

Di kawasan Citatah yang berbukit kapur ini juga bisa ditemui fosil-fosil yang menjadi bukti bahwa kawasan Bandung ini pernah berada di bawah air. Dapat ditemukan pula sebuah kawasan berbatu yang dikenal dengan stone garden. Pokoknya eksotik banget deh. Kata Narasumber Geotrek saya, tempat itu seperti Yosemite National Park-nya Amerika. Sayang, kekayaan alam itu semakin hari semakin terpojokan karena maraknya penambangan kapur dan marmer untuk keperluan industri.

Kawasan Citatah Rajamandala sendiri terkait erat dengan legenda Sangkuriang. Tatkala Sangkuriang marah karena janji untuk membuat sebuah perahu dalam semalam tak bisa dipenuhinya maka dia menendang perahu yang hampir jadi. Inilah cikal bakal Gunung Tangkuban Parahu.

Kawasan Karst Citatah (otografius.wordpress.com)
Tak berhenti di situ Sangkurian mengejar Dayang Sumbi yang tak lain adalah ibunya, hingga ke Ujung Berung sambil menendangi apa yang ditemuinya. Ditendanglah pawon (dapur), leuit (lumbung), pabeasan (tempat beras), hawu (perapian) dan kancahnangkub (wajan). Alat-alat dapur itu terlempat ke sana kemari dan menjadi gunung atau pasir (bukit) dan kemudian terabadikan menjadi nama tempat di daerah Ci Tatah. Saya tak terbayang kalau Sangkuriang marah pada zaman ini, mungkin kita akan menemukan tempat dengan merek sebuah gadget terkenal karena yang ditendang sangkuriang adalah laptop, netbook, smartphone, dengan berbagai merek asing. 

29 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (3) : Ujung Dunia

Pagi pagi buta, saya sudah menerobos kabut di Ciburial. Dingin tentunya harus ditahan. Tujuannya adalah SMA Muthahari tempat start kampanye terbuka. Untung di waktu pagi Bandung belum disergap kemacetan higga perjalanan ke tujuan bisa ditempuh dengan cepat. Di sana sudah berkumpul para pendukung Ustad Jalaluddin Rakhmat lengkap dengan atribut. Kira-kira terkumpul 14 mobil. Semuanya penuh terisi.

Lokasi kampanye hari itu adalah desa Cipongkor yang masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat. Kami masuk dari arah Rajamandala menuju power house Saguling. Dalam beberapa kesempatan ke power house Saguling untuk geotrek dan belajar di Ci Tarum Purba, saya berpikir kalau tempat itu adalah ujung dunia. Maklum lah kita kan kurang pengalaman. He he he. Ada juga alasan lainnya. Daerah atas power house adalah instalasi penting yang mengaliri listrik Jabar-Banten dan Bali, maka pastilah instalasi penting ini akan dilindungi dan disterilkan dari rumah penduduk. Anggapan saya salah (walau tak seluruhnya salah), ternyata eh ternyata. Di atas itu kampungnya banyak juga men!

Dari power house Saguling, kami naiiiik terus ke puncak. Meniti jalan sempit berkelok-kelok. Ada juga jalan menurun. Harus hati-hati karena jalan ke sana amboi rusak cukup parah. Beberapa kali bagian bawah mobil membentur jalan yang aspalnya sudah mengelupas di sana-sini. Butuh waktu 2 jam hingga sampai ke tempat tujuan. Saya sempat takjub juga dengan luasnya wilayah KBB. Geuningan Cililin teh lega pisan nya (ternyata Cililin itu luas sekali ya), guman saya.

Setelah sampai kami berkumpul di lapangan Bropid desa Baranangsiang Cipongkor. Tak ada yang tahu untaian acaranya seperti apa. Kabar angin sempat saya dengar akan ada orasi dari tiap calon. Ternyata tak ada. Yang ada hanya orasi dari TB. Hasanuddin selaku Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Setelah itu maka konvoi dimulai. Titik awal dari lapangan itu dan titik akhirnya di rumah masing masing.

Pulangnya butuh waktu lebih lama lagi. Karena kami harus melewati tempat-tempat yang padat penduduk dengan jalan yang kecil. Apalagi saat itu kan lagi ramai konvoi PDI-P. padat dalam arti sebenar-benarnya.

Setelah melihat peta, ternyata kami mengitari bendungan Saguling. Cipongkor berada di bagian ujung yang dialiri aliran Saguling. Pantas aja jauh gitu, seperti ada di ujung dunia.  Ada baiknya juga para caleg kampanye begitu di Dapilnya, supaya mereka mengetahui kondisi lingkungan dan masyarakatnya.




27 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (2): Kiyai PDI-P

PDI Syariah
Sesampainya di lapangan Bropid Cipongkor, sudah datang beberapa kandidat caleg dari PDI-P. Ustad Jalal langsung bergabung dengan para caleg itu dan langsung melakukan bincang-bincang.  Saya lebih memilih melihat-lihat suasana lokasi ketimbang kumpul dengan para caleg.

Setelah beberapa lama, saya lihat Ustad Jalal duduk di tempat teduh, masih dengan beberapa calon. Hari itu memang cukup panas. Saya mendekat posisi ustad dan duduk agak di belakangnya. Kebetulan tempat itu memang sejuk. Obrolan masih tentang pemilu.

Tak berapa lama, Pak TB Hasanuddin, Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang juga masih sebagai anggota DPR-RI, mendekati posisi Ustad Jalal. Sambil mendekat dia berkata, “Ayeuna mah PDI-P oge boga kiyai” (sekarang, PDI-P juga punya kiyai) sambil mengusap-usap punggung Ustad Jalal. “Kalau biasanya saya menyebut massa PDIP dengan kader saja, sekarang mah bisa ditambah dengan sebutan jamaah PDI-P” selorohnya yang disambut senyum dan tepuk tangan dari orang-orang sekitarnya. Saya pun ikut tepuk tangan dan tertawa.

Memang kehadiran Ustad Jalal di partai ini memberi warna yang lain, putih pada merah. Pro rakyat sekaligus religius. Bahkan beberapa teman menyebutnya sebagai PDI Syariah. Sebuah PDI genre baru kali ya.

Dalam orasinya TB. Hasanuddin menyebutkan bahwa PDI-P adalah partai terbuka untuk semua warga Indonesia, apapun agamanya. PDI-P adalah rumah yang ramah buat semua orang. Keterbukaan itulah yang menjadi salah satu alasan Ustad Jalal memilih PDI-P seperti yang pernah saya tulis di artikel 14 alasanUstad Jalal harus masuk parlemen.


Seorang kawan memberi komentar di FB saya, tuh kan mulai memperlihatkan jati diri. Siap-siap terikat oleh sistem dan tunduk terhadap kebijakan partai. Nah bagaimana kalau sudah begitu? Saya menjawab, kami berharap dan berdoa agar ustad Jalal dapat memberikan warna pada PDI-P dan juga bangsa ini.



0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (1) Karena Ustad Jalal


Saya berupaya mengingat-ingat, berapa masa pemilu yang saya ikuti. Ada kelebat-kelebat bayangan pemilu yang mampir di pikiranku. 1987, ketika SMP kelas 2 saya pernah ikut-ikutan kampanye PPP. Saat itu tentu saja belum termasuk calon pemilih. Hanya ikut-ikutan keramaian. PPP saat itu mengidendikan diri sebagai rumahnya (partai) orang islam. Saya bisa mengingat karena saat itu saya bisa naik truk keliling Yogyakarta. Pemilu tahun 1992, babar blas, saya tak ingat apapun tentang pemilu karena sibuk mengurus administari pelajar luar negeri di Qom, Iran. Tak ada kampanye dan tak ada pencoblosan. Tahun 1997, saya ikut pencoblosan tapi masih tanpa kampanye. Sampai tahun itu, hanya ada tiga partai di Indonesia, PPP, PDI dan partai Pemerintah yaitu GOLKAR. Demi kemaslahatan bersama, saat itu kami bersepakat untuk mencoblos GOLKAR. Maklum saat itu kan masih suasana Orde Baru.

Setelah tahun itu, suhu perpolitikan di Indonesia mengalami pergolakan yang kemudian meruntuhkan rezim Soeharto. Tahun 1999 adalah pemilu pertama pasca runtuhnya Soeharto. Saat itu ada sedikit perdebatan hangat di antara kami, pelajar, terkait pencoblosan. Apakah masih akan diseragamkan atau dibebaskan. Kata akhir disepakati untuk dibebaskan. Karena itu ada sedikit orasi kampanye dari tiap tiap pendukung. Di rumah pelajar saat itu beberapa orang mewakili partai-partai yang sangat banyak. 3 Partai zaman Orba masih ada “pendukung” namun suara terbesar memang mengarah ke PAN yang digerbongi Amien Rais. Dari hasil penghitungan PAN mendapat kemenangan mutlak di Qom, Iran.

Pemilu tahun 2004 dan 2009 saya ikut mencoblos (semua) tapi tidak pernah ikut-ikutan dalam gegap gempitanya kampanye. Baru tahun 2014 ini saya ikut dalam kampanye. Sebabnya tak lain adalah karena sosok KH. Jalaluddin Rakhmat yang dicalonkan oleh PDI-P menggantikan posisi Taufik Kiemas. Dipasang di nomor urut 1 oleh partai bernomor 4 ini, Ustad Jalal mendapat wilayah yang luas dan juga dihuni oleh orang-orang yang sudah terkenal. Boleh jadi ini adalah wilayah di mana bintang-bintang bertaburan.

Ternyata bukan saya saja yang baru pertama kali ikut kampanye seperti ini. Teman-teman satu mobil di rombongan Ustad Jalal juga sama. Alasan mereka ikut kampanye juga sama, karena Ustad Jalal. “Tak terbayang ya, ikutan kampanye,dari PDI-P lagi” kata seorang ibu muda. Yang lain menimpali, “Iya ya. Bahkan sampai blusukan ke daerah-daerah terpencil”. Jadinya ya seperti yang senasib sepenanggungan deh.

Seperti itulah ketika kecintaan  pada guru terwujud. Ustad Jalal adalah guru buat banyak orang. Bapak buat para pencari pencerahan. Perkhidmatan kepada guru adalah sesuatu yang mulia. Akhirnya kemanapun dia melangkah, akan diikuti dengan khidmat tanpa harus kehilangan pola pikir yang kritis.




06 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pesan Persatuan dari DPR RII

Pengajian malam reboan kemarin  (4/03/14) yang biasanya dilaksanakan di rumah ustad Jalal dipindahkan ke Aula SMA Muthahhari. Pasalnya ada beberapa tamu dari Republik Islam Iran (RII). Tamu-tamu itu adalah para anggota DPR Republik Islam Iran. Jumlah secara keseluruhan delegasi parlemen Iran itu sebanyak 4 orang. Anggota parlemen itu didampingi oleh pihak kedutaan dan perwakilan Universitas Mustafa dan Sekolah Tinggi Filsafat Shadra yang berada di Indonesia.  

salah satu yang menarik dari anggota parlemen Iran yang datang adalah kenyataan bahwa di satu sisi mereka adalah akademisi yang berkecimpung di dunia akademik, namun mereka juga adalah para ulama yang fasih berbicara tentang agama. Salah satu tipikal intelektual dari Iran. 

Bacaan Al Qur'an dan shalawat yang indah dan syahdu dibacakan oleh Dr. Zangganeh membuat suasana Pengajian malam reboan hanyut pada kerinduan pada Rasulullah. Majlis dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Parlemen Republik Islam Iran. 

Sambutan yang diberikan oleh ustad Dr. Rezwanfar mengingatkan jemaah agar menjaga persatuan dengan kaum muslimin di manapun berada. Apalagi di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah sunni syafii. Rezwanfar yang merupakan wakil dari masyarakat propinsi Masyhad mengingatkan fatwa imam Ali Khamenei agar menghormati simbol-simbol Ahli Sunnah dan melarang untuk memicu perpecahan di tengah masyarakat. 

Pesan kedua Rezwanfar terkait dengan kondisi di Palestian. Rezwanfar menyebutkan bahwa musuh utama kaum muslimin adalah kaum Zionis Israel yang masih bercokol di tanah Palestina. Oleh karena itu beliau meminta agar seluruh kaum muslimin bersatu padu, bahu membahu dan saling mengokohkan satu sama lain agar kaum Zionis ini bisa diusir dari tanah Palestina. 

Beliau juga mengingatkan janji Allah bagi orang-orang yang dilemahkan, "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)" (al Qashash : 5). Inilah Janji Allah yang akan diwujudkan di akhir zaman.

Ustad Jalal kemudian memberikan sambutan balasan dan menjelaskan secara singkat proses pemilihan di Indonesia. Ustad Jalal juga mengucapkan terima kasih pada anggota-anggota parlemen dari Iran. Ustad Jalal  menyebut bahwa kedatangan mereka seperti sebuah tanda  yang baik baginya yang sedang mencalonkan diri menjadi anggota parlemen. 

Majlis malam reboan ditutup doa oleh Direktur Sekolah Tinggi Filsafat Shadra Dr. Mufid Hosein Kouhsari. Doa dilantunkan dengan lembut dan syahdu. Sebuah doa yang indah tentang hidup yang dihiasi Al Qur'an di dunia hingga akhirat. Sungguh mengherankan orang yang di dalam doanya memanggil dan menyebut Allah dan Nabi Muhammad, serta pengagungan Al quran ini tapi kemudian dikafirkan oleh sekelompok orang.




    Blogger news

    Blogroll

    About