Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

14 Februari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Memburu Keangkeran Villa Berdarah di Cukul



Hari semakin sore dan awan kelabu makin menebal di atas langit Situ Cileunca. Perjalanan kami lanjutkan menuju Talegong, rumah Taufik tempat menginap malam ini. Namun Taufik merekomendasikan sebuah tempat yang namanya agak angker, VILLA BERDARAH.

Entah mengapa disebut seperti itu dan lagi, setelah saya searching mbah Google, nama seperti itu tak dikenal walau saya mencarinya dengan susah payah. Berbagai nama dan formula mencari villa itu saya kerahkan hingga akhirnya ketemulah nama villa itu. 

Berkaitan penamaan Villa Berdarah dari penduduk, menurut Taufik memang ada kejadian angkernya. Konon zaman dulu ada kasus pembunuhan yang sadis di villa yang tidak pernah terungkap. Hingga kini korban sering gentayangan dan menampakan diri di rumah itu. Ok lah. Apapun ceritanya saya mesti mampir ke tempat itu. Lagian villa itu memang terletak di pinggir jalan raya, sehingga bisa dilihat dengan mudah. 

Dari Situ Cileunca saya mengarahkan motor ke Talegong. Jalan sudah sangat bagus namun yang perlu diwaspadai adalah longsor dan sedikitnya lampu penerangan. Jika turun hujan dan kabut perjalanan ke Talegong lewat perkebunan teh cukul sangat memerlukan kewaspadaan tinggi.

Kabut sudah mulai turun dan cuaca semakin dingin dan Tak jauh dari Situ Cileunca kami berhenti dahulu untuk makan bakso. Semangkok cukuplah untuk mengisi dan menghangatkan perut. Perkebunan Teh yang indah tak bisa dilewatkan untuk berfoto. 

Kabut semakin menebal dan perjalanan kami seperti berjalan di negeri kabut. Saking tebalnya kabut dan embun, setiap kami lewat di bawah pohon, rintik air menyerbu kami persis seperti hujan deras. Motor pelan saya jalankan. Taufik sekali-kali mengingatkan kalau ada tikungan tajam. Jangankan malam dengan kabut setebal itu, siangpun perlu berhati-hati berkendaraan. 

Di tengah kabut tebal kami berhenti di sebuah gerbang rumah. Kata Taufik, kami sudah sampai di VillaMerah Cukul. Gerbang dikunci namun pagar di pinggir rumah bisa dipanjat. Kami coba untuk mengetuk pagar dan memanggil penjaga namun taka da satupun yang datang. Hanya terlihat remang-remang lampu di tengah kabut pekat dan hujan rintik-rintik malam itu. 

Karena tak ada yang bisa kami lihat, malam itu melanjutkan perjalanan ke Talegong. Sekitar 30 menit kami mengarungi kabut dan kegelapan hingga sampai di rumah Taufik di Talegong. Kebetulan ada hawu (perapian tempat memasak), saya dan fahmi segera memburunya untuk menghangatkan dan mengeringkan badan.

Yang menarik, ternyata jam tidur orang di Talegong itu sangat cepat. Jam 8 malam, setelah shalat isya dan makan malam, mereka segera tidur. Kampung akan sangat sepi dengan cepat. Jam 3 subuh mereka sudah pada bangun. Ada yang shalat dulu atau melakukan persiapan ke kota. Sementara saya yang terbiasa tidur di atas jam 10-an agak kesulitan tidur malam itu. 

Setelah susah payah bangun subuh, kami segera bersiap untuk mendatangi Villa Merah Cukul itu. Penasaran ingin melihat bentuknya. Pagi-pagi sekali, sebelum mandi kami segera naik motor lagi. Ternyata dingin sekali pagi itu. Ternyata dari Talegong ke perkebunan Teh Cukul itu sangat indah. Hamparan perkebunan teh, jalan meliuk-liuk dan bentang alam yang keren bisa dilihat dengan indahnya.

Jangan terlena oleh keindahan alamnya ya. Bagi pengendara tetap harus waspada mengendalikan kendarannya. Kalau tidak waspada bisa-bisa jatuh ke jurang yang tingginya bisa sampai 200 meter.
45 menit kemudian sampailah kami ke Villa Merah Cukul. Villa itu memang keren. Berada di ketinggian sebuah bukit kecil, dengan sebuah danau kecil mengitarinya. Hamparan perkebunan the Di seberangnya menambah keindahan Villa di ketinggian 1600 dpl itu. Saya betul-betul mengaguminya. 

Villa itu sebetulnya lebih dikenal dengan Villa Cukul saja atau rumah Jerman. Bentuk rumah khas perkebunan di Jerman membuat rumah itu dikenal dengan namanya. Rumah ini telah dipugar setelah mengalami kerusakan berat akibat gempa tahun 2009 lalu. Sekarang rumah itu dimiliki oleh perusahan teh Sosro. Setelah puas menikmati Rumah Jerman ini kami pulang ke Talegong dan melupakan kisah angker Villa Merahnya.





31 Januari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Tebing Keraton? Ah sudah lawas. Kunjungi D' Cafe yang tak kalah keren

Tebing Keraton memang magnet kuat yang menarik orang untuk mengunjunginya. Tempat keren di Kampung Ciburial itu menjadi tempat pavorit untuk berfoto sambil menikmati panorama hutan yang hijau menghampar. Namun tahukah bahwa di sekitar Tebing Keraton ada tempat hangout yang tak kalah keren? Namanya D' Cafe.

Seperti namanya, tempat ini adalah sebuah cafe. Cafe ini menghidangkan pemandangan indah khas Desa Ciburial yang menggoda. Bentang bumi yang menggetarkan jiwa, hamparan hijau dari hutan Djuanda yang keren dan usapan udara gunung yang segar.

Cafe ini belum lama beroperasi sehingga belum banyak yang tahu. Pengelola cafe juga belum melakukan promosi yang gencar. Promosinya baru mouth to mouth alias getok tular alias dari mulut ke mulut. Yang datang ke Cafe ini biasanya adalah orang yang sudah atau akan ke Tebing Keraton.

Bagi yang belum tahu dan ingin tahu banget jalur ke D' Cafe dan Tebing keraton bisa mengikuti jalur sebagai berikut :
1. Memakai ojek. dari terminal dago menuju D, Cafe atau tebing keraton. Tarif kurang lebih 20 ribu - 30 ribu (mungkin bisa lebih mahal).
2. Memakai mobil atau motor. Dari teminal dago menuju Tahura Ir. H. Djuanda. Sebelum masuk gerbang II belok kanan dan ikuti jalur. 300 meter sebelum Warung Bandrek di sebelah kiri ada gerbang kayu dengan rumah joglo di dalamnya. itulah D'cafe.

----Kunjungi juga : Sahabat muda -----

Nah ini penampakan fotonya.











20 November 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Batam : Menapaki jejak sendu Manusia Perahu di Kamp Vietnam

Tanda menuju Kamp Vietnam
Setelah sehari sebelumnya dihabiskan untk membangun rumah di Kabil bersama volunteer lainnya. Hari ahad (9/11/2014) adalah waktu luang yang mesti dipergunakan semaksimal mungkin.

Rencana sebelumnya, setelah kami membereskan pekerjaan fondasi rumah di Kabil  akan dimanfaatkan berangkat ke Singapura yang cuma sekerlingan mata. Namun apa daya badan pegal-pegal dan waktunya sangat mepet akhirnya rencana itu urung dilakukan. Akhirnya teman-teman berinisiatif untuk membeli oleh-oleh di Top 100 dan saya memilih untuk menemui saudara dan teman saya di Batam ini. Saya sendiri akhirnya diajak ke Sei Panas untuk menyantap makan malam di warung-warung yang bertebaran sambil city tour Kota Batam di waktu malam dan hujan. 

Sebelum sarapan, pagi sekali saya jalan-jalan mengelilingi kota Batam di pagi hari dengan memakai ojeg. Dengan tarif 50.000,- saya keliling-keliling daerah pinggir kota Batam. Lalu pulang ke Hotel dan di sana sudah bersiap Kikin dan Nur Fatma. Sementara Mas Tupon sudah siap OTW ke Singapura. Tak lama kemudian Mbak Diah dan Mbak Linda juga menyusul.

Karena rombongan volunteer dijadwalkan pulang ke kota masing-masing jam 14 siang, akhirnya diputuskan hanya akan ke Jembatan Barelang dan Kamp Vietnam. Kami semua -kecuali Kikin- akhrinya cek out da membereskan barang di mobil.

Rizal meminta agar kami ke tempat yang ada tulisannya WELCOME BATAM. Kami mengiyakan dan meminta Bang Rahmat untuk ke sana. Bang Rahmat yang orang Solok teryata sangat kooperatif dan mengantar kami menembus para peserta Color Maraton yang Padat. Tulisan itu ternyata tak jauh dari pusat kota yang biasa disebut Batam Center.

Seperti biasa para pelancong, kami puas-puaskan berfoto di tempat itu. Kapan lagi bisa ke Batam gretongan seperti ini. Saya juga foto-foto sekitar tempat itu, termasuk tempat MTQ yang terlihat dari jauh. 

Perjalanan dilanjutkan ke Pulau Galang. Butuh waktu kurang lebih 1-2 jam untuk ke sana. Untungnya jalanan tak macet. Selain bukan waktu kerja, jalanan di Batam ini lebar dan bagus-bagus. 

Beberapa saat kami sampai di Jembatan Barelang yang juga masuk dalam list kunjungan kami di Batam. Namun karena mengejar waktu, Bang Rahmat mengusulkan agar kami ke Kamp Vietnam dulu baru nanti mampir lagi di Barelang. Kami iyakan juga saran itu. lagian kelihatannya cuaca agak mendung.

Sambil terantuk-antuk dibuai goyangan mobil di jalan yang mulus saya ambil beberapa gambar untuk stok foto saya. Sesekali jalan agak bergelombang dan memaksa yang ketiduran untuk bangun. Tidak banyak petunjuk jalan menuju Kamp Vietnam ini. Kata Bang Rahmat, kalau bukan karena pernah ke situ mungkin tidak akan tahu harus belok di mana. Untungnya Bang Rahmat pernah ke Kamp Vietnam

Sejurus setelah melewati jembatan kelima, mobil berbelok ke kiri. Barulah terlihat beberapa tanda adanya kampung Vietnam ini. Pintu gerbang masuk termasuk karcis menjadi penanda kampung ini. Karcisnya cukup murah, Rp, 3000,- / orang dan Rp 5000 untuk mobilnya. 

Nuansa sendu langsung menyergap saya. Kondisinya memang terbilang sepi. Cuaca sedang mendung dan suasana Kamp dengan hutan lebat yang agak temaram membuat suasana sendu di awal perjalanan masuk Kamp semakin bertambah. 

Humanity Statue, untuk kemanusiaan yang beradab
Setelah melewati kantor PMI, sampailah di sebuah monumen yang diberi nama Humanity Statue. Monumen ini berbentuk patung perempuan dalam keadaan terkulai. patungnya sih jelek tapi kejadian yang melatari berdirinya monumen itu membuat saya bergidik.

Monumen ini didirikan untuk mengenang perkosaan terhadap Tinh Han Loai, seorang wanita yang bunuh diri karena malu setelah diperkosa oleh sesama pengungsi. Di kamp, tindakan kriminal memang sangat maraka bahkan memangsa sesama mereka sendiri. selain Perkosaan tindak kriminal lainnya adalah mencuri, bahkan membunuh. Oleh karena itu di kantor pusat Kamp, dibangun sebuah penjara yang digunakan untuk menahan para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal dan yang mencoba melarikan diri.

Pemakaman para manusia perahu 
Kurang lebih 200 meter dari Humanity Statue, terdapat pemakaman Nghia-Trang Galang. Sekitar 503 pengungsi dimakamkan di sini. Perjalanan yang jauh dari kata nyaman menyebabkan tewasnya banyak manusia perahu. Selama perjalanan berbulan-bulan menuju tanah kebebasan, mereka didera penyakit dan meninggal di perahu. Selain itu orang-orang yang meninggal di Kamp dikubur juga di sini.
Pemakaman itulah yang membuat para kerabat yang telah kembali ke Vietnam atau yang telah mendapat suaka di negara lain untuk bermukim masih kerap datang ke Pulau Galang untuk berziarah.

Setelah melantunkan doa dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan menuju Monumen Perahu. Perahu-perahu ini perahu asli dipakai para manusia perahau mengarungi Laut Cina Selatan. Perahu kecil itu tentu saja sangat padat karena memuat 40-100 orang selama berbulan-bulan!

Sebagian perahu yang digunakan menyebrangi laut china
Sulit dibayangkan bagaimana perjuangan para manusia perahu  bertahan untuk hidup. sesampainya di Pulau Galang, perahu-perahu ini pernah dengan sengaja dibakar dan ditenggelamkan oleh para pengungsi. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar lima ribu pengungsi ke negara asalnya. Pada tahun 1995, Pemerintah Otorita Batam mengangkat perahu-perahu yang ditenggelamkan ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah. sayangnya sekarang ini juga perahu-perahu itu kurang terawat.

Dari monumen perahu kami berjalan menuju museum peninggalan manusia-manusia perahu itu. Di depan museum inilah terdapat penjara bagi para pengungsi kriminal dan suka berbuat kerusuhan. Sebuah bangunan kecil bertingkat dua. Selain penjara, tempat itu juga dipakai untuk tempat tinggal para relawan dan beberapa penjaga keamanan.

Setelah parkir mobil dan melihat penjara kami masuk ke dalam Museum. Sebuah lukisan yang  sangat menarik menyambut kami de depan pelataran. Para pengungsi sedang duduk bersantai di pantai. Mereka tersenyum dan kelihatan bergembira. Mungkin mereka sudah merasa ada di tanah pembebasan.

Sejurus masuk di Museum, kita akan melihat banyak memorabilia para pengungsi dan relawan yang bertugas mulai dari data-data para pengungsi, foto keluarga, foto kegiatan para pengungsi, serta benda-benda rumah tangga yang dapat menggambarkan situasi kehidupan di Camp Vietnam.

Tak berlama-lama kami di sini karena juga mengejar waktu ke bandara. Kami melanjutkan penelusuran di Kamp ini tanpa turun dari mobil. Ternyata selain museum juga terdapat bekas bangunan yang dibua untuk mendukung kehidupan di pengungsian ini. Ada rumah sakit yang masih menyimpan kotak-kotak dan botol-botol obat dan ada tempat olar raga hanya terlihat sebagian karena memang sebagian besar bangunan sudah tak begitu dirawat dan rumput tumbuh menutupi bangunan.

Ada juga Sekolah bahasa yang dibuat oleh UNHCR PBB buat para pengungsi. Sebelum diterima kewarganegaraanya oleh negara tujuan, para pengungsi diwajibkan menguasai beberapa bahasa asing. Bahasa yang diajarkan di ntaranya bahasa Inggris dan Perancis.

Terdapat tempat ibadah juga di tempat ini. Ada vihara, gereja Kristen, serta gereja Katolik. Semua bangunan tersebut masih orisinil dan tidak terawat. Malah gereja Kristen sudah menjadi puing-puing di tengah rerimbunan pohon yang membuatnya tersembunyi.

Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem masih berdiri cukup bagus dan mencolok. Bangunannya tinggi dan bercat puti. Berada di jalan tusuk sate membuatnya semakin terlihat menjadi sentral. Sayang jembatan kayunya rusat dan tidak bisa dipergunakan lagi. Di sebelahnya sudah dibuat jembatan dari tembok. Sayang ya, padahal kalau jembatan kayunya diperbaiki akan sangat eksotis.

Karena tak sempat ke patung Dewi Kwan Im, sebelum pulang kami menyempatkan diri ke vihara. Di situ ada juga patung dewi Kwan Im. Tempat ini relatif terjaga dan baru saja dicat ulang. Kontras dengan bangunan lainnya. Sambil menikmati panorama jembatan lima yang indah kami berfoto ria di sekitar Vihara ini.

Setelah puas, kami meninggalkan Kamp Vietnam ini. Meninggalkan jejak bersama para manusia perahu dan sejarah pilu yang tercipta di tempat ini. Semoga saja tempat-tempat seperti ini menjadi pengingat tragedi-tragedi kemanusiaan agara tak terjerembab ke dalamnya. Keep Peace yaa.

Saran untuk pengelola
Tempat wisata ini merupakan tempat yang luar biasa. Sarat dengan pengajaran kemanusian, keadilan dan perjuangan. Sangat layak dikunjugi oleh pelancong yang ke Batam.

Ada beberapa saran saya agar pelancong yang datang mendapat manfaat dari perjalanannya.
1. Sebaiknya rute ke tempat ini diberikan tanda yang jelas, supaya mudah mencarinya.
2. Di dalam area Kamp, sebaiknya disediakan baligho-baligho besar yang menceritakan tempat yang dikunjungi biar yang memburu waktu bisa membacanya dari mobil tanpa harus turun.
3. Oh ya, kiranya sebuah peta kamp juga mesti disediakan agar pengunjung tahu di mana saja lokasi-lokasi bangunan yang ada di Kamp ini.
4. Perahunya dirawat dong, jangan dibiarkan lapuk dan kemudian hancur. Sayang kan sudah diangkat capek capek dari laut kalau dibiarkan hancur.

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Bertemu Tom, Raja Orangutan di Tanjung Puting

Inilah pertama kalinya saya menginjakan kaki di bumi Borneo. keinginan untuk mengunjungi pulau ini sudah sangat lama, oleh karena itu, ketika seorang teman menawari tiket promo ke Palangkaraya sekaligus mengajak berpetualang di Kalimantan, tak saya lewatkan.

Tanjung Puting sudah dipatok menjadi tujuan utama dalam perjalanan ini. Menurut Wikipedia, Tanjung Puting pada awalnya merupakan cagar alam dan suaka margasatwa dengan luas total 305.000 ha yang ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 13 Juni 1936. Selanjutnya pada tanggal 12 Mei 1984 oleh Menteri Kehutanan, Tanjung Puting ditetapkan sebagai Taman Nasional yang luasnya menjadi 415.040 ha.

Perjalanan dimulai dari Teluk Kumai dengan menyewa sebuah Klotok. Mengunjungi TNTP harus menggunakan guide, dan pemandu kami adalah Fahrurrzi. Ialah yang akan mengatur perjalanan di Camp Leakey. Karena sangat mengenal hutan di TNTP, para guide bisa membantu Anda mengelilingi hutan agar kemungkinan tersesat minim adanya. di samping itu, guide juga biasanya sudah akrab dengan para orang utan atau Pongo satyrus, dalam bahasa latin.

Perjalanan menuju TNTP memakan waktu 5 jam perjalanan. Artinya, pulang-pergi memerlukan waktu 10 jam! perjalanan yang panjang. Perjalanan dengan klotok ini sangat mendebarkan, saya ingin menceritakan perjalanan saya dengan klotok ini dalam tulisan tersendiri. Tujuan kami ke sana adalah melihat Orangutan yang diberi makan dan bertemu dengan Tom, si raja Orangutan.

Kami tiba di TNTP, pusat rehabilitasi orangutan pertama di Indonesia. Ada tiga lokasi di TNTP untuk rehabilitasi Orangutan yaitu di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey. dalam kesempatan ini saya mengunjungi Camp Leakey, tempat tinggal seekor raja Orangutan yang terkenal sampai ke mancanegara.

Sampai di dermaga Camp Leakey, kami berjalan ke tempat pemberian makan bagi Orangutan, berjarak hampir 1 Km. Kami berjalan agak cepat karena waktu pemberian makan sudah hampir habis. Di dekat camp pekerja, kami sudah disambut oleh Tutu, bersama anaknya yang masih kecil. Menurut guide kami, Tutu adalah ibu dari Si Tom yang jadi raja di Camp Leakey. Setelah bercengkrama sebentar dan berfoto kami melanjutkan perjalanan ke tempat pemberian makan.

Sayang, saat kami berkunjung hanya ada satu Orangutan yang sedang sibuk menghabiskan pisang. Waktu itu sedang musim buah, sehingga hanya sedikit Orangutan yang mendatangi tempat pemberian makan. Agak mengecewakan, setelah perjalanan panjang yang ditempuh dan hanya melihat seekor orang utan yang menghabiskan pisang.

Seekor burung Enggang, burung khas Kalimantan dan maskot dari propinsi Kalimantan Tengah hinggap di pucuk pohon yang tinggi. Agak susah membidiknya, karena lensa tak cukup panjang untuk menjangkaunya. Namun, kesempatan melihatnya di TNTP menjadi hiburan tambaha walaupun kami belum bertemu Tom. Kami kembali ke dermaga dengan perasaan kecewa. Tak berhasi bertemu maskot Camp Leakey.

Tiba-tiba saja, guide kami berteriak, "Ada Tom di jembatan!"

Seketika kami dialiri semangat. Namun guide kami berkata lagi, jangan terlalu bersemangat, nanti Tom akan merasa terintimidasi. "Tenang saja," katanya.

Setelah menarik nafas panjang kami berjalan perlahan. Tapi, Tom justru bergerak ke arah kami. Badannya sangat besar, tangannya lebar dan kuat. Sepertinya cukup untuk mematahkan tulang kami. Wajahnya lebar dengan sorot mata tajam dan waspada.

Dengan agak takut kami mundur. beberapa kali Tom memandang kami. Tom kemudian berjalan menuju Camp, lalu berhenti agak lama di dekat menara. Di situlah kami mengabadikan Tom sepuas hati.

04 November 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Ini Dia Makanan Ekstrim dari Wonosari

Di sepanjang jalan menuju Pantai Indrayanti Gunung Kidul, saya melihat beberapa orang berjualan di pinggir jalan. Yang menarik adalah apa yang dijual. Sebuah makanan yang bagi saya agak geli membayangkannya, "Walang Goreng" alias belalang goreng.

Belalang memang boleh dimakan, namun karena tak lazim, membayangkannya saja bikin geli dan bagaimanaaaaa gitu ya. lagian setiap teman (yang belum pernah memakan) ditawari belalang goreng ini pada tidak mau (termasuk saya juga).

Berbeda dengan yang sudah merasakan. Menurut Wiewiek, teman saya di Wonosari, belalang goreng ini ueeeeank sekali. mirip dengan udang katanya bahkan lebih gurih lagi. Suaminya saja yang dulu tidak suka dan geli melihat makanan ini, setelah mencobanya langsung ketagihan. Utari, teman dari Tugu Pensil Wates beda lagi, dia gata-gatal setelah memakan belalang goreng. Alergi katanya.

Kandungan protein si belalang ini juga terbilang kaya. Hal itu diugkapkan oleh pakar ilmu gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Ahmad Sulaiman seperti dikutip dari Kompas, "Kalau pada belalang yang masih segar, kandungan proteinnya sekitar 20 persen, tetapi pada yang kering sekitar 40 persen. Belum kulitnya yang juga mengandung zat kitosan seperti udang. Tetapi tergantung jenis belalangnya, pada musim-musim tertentu ada jenis belang yang kandungan vitaminnya lebih tinggi. Belalang juga dapat memenuhi 25 hingga 30 persen kebutuhan vitamin A," ungkap Ahmad di sela-sela kegiatan Nutritalk Jelajah Gizi Sari Husada di Gunung Kidul, Yogyakarta, Jumat (2/11/2012)
Saat di Yu Tum, saya lihat lagi belalang goreng ini telah dijual dalam toples-toples seharga 50 ribuan. Selain belalang ada juga jangkrik goreng dan ulat kayu jati. Ada yang berani coba?

08 Oktober 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

(Bromo 4) Adas, Tanaman Ajaib Dari Puncak Bromo

Selama perjalanan di Bromo, ada banyak hal menarik untuk diperhatikan. Salah satunya adalah tumbuhan yang ada di sana. Ada satu tumbuhan yang betul betul unik. Bisa tumbuh di ketinggian 2000 dpl, dan dalam suasana yang ekstrim. Dingin dan panas yang luar biasa.


Dengan kondisi alam yang seperti ini tumbuhan ini bisa tumbuh dan tersebar hampir merata di puncak Bromo. Nah selain unik ternyata banyak manfaat lho.

Menurut supir, adas bisa dipakai untuk obat sakit perut. caranya bisa diminumkan atau diusap saja ke perut. Saya coba ambil dan ternyata baunya memang seperti balsem dan saya kunyah memang memberi kesan hangat.

Menurut blog Caraobat, adas memiliki banyak manfaat lho. ini diantaranya. :
  • Manfaat buah adas : tanaman adas pada bagian buahnya dapat mengobati beberapa penyakit seperti :
  • Buah adas dapat mengobati sakit perut (mulas), perut kembung, perasaan penuh pada lambung, perasaan mual, perasaan ingin muntah dan sakit diare.
  • Dapat mengobati sakit kuning serta meningkatkan nafsu makan.
  • Dapat mengobati batuk disertai dahak dan mengatasi penyakit sesak nafas (asma)Dapat mengatasi gangguan haid seperti nyeri pada waktu haid atau proses haid yang tidak lancar.
  • Dapat meningkatkan produksi ASI pada ibu yang melahirkan.
  • Dapat mengatasi masalah susah tidur (insomenia)
  • Dapat mengobati buah zakar turun (orchidoptosis)
  • Buah adas bisa menngatasi usus turun sampai lipat paha (Hernia inguinalis)
  • Meredakan pembengkakan pada saluran sperma (epididimis)
  • Manfaat adas pada penderita batu empedu yaitu dapat mengurangi perasaan nyeri yang diakibatkan adanya batu pada empedu serta bekerja membantu proses penghancuran batu tsb.
  • Mengatasi penyakit Rematik ( Gout)
  • Manfaat daun adas : bermanfat pada buahnya tanaman adas juga bisa memberikan manfaat kesehatan pada bagian daunnya. Adapun penyakit- penyakit yang dapat disembuhkan oleh tanaman adas dari daunnya antara lain :
  • Daun adas bisa mengobati batuk
  • Mengatasi gangguan perut yang terasa kembung disertai kholik.
  • Meningkatkan daya penglihatan.

04 Oktober 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

(Bromo 3) Savana yang indah

Savanah. Saya pikir tempat semacam ini hanya ada di Afrika sana. Ternyata di kawasan Bromo juga ada tempat semacam itu. Perjalanan dari kawah Bromo menuju Savanah dilalui kurleb 30 menitan. Tidak penunjuk jalan menuju sana. Jalananpun mengikuti insting supirnya.

Hanya orang suci yang tahu jalan menuju situ guyon saya yang disambut penjelasan supir bahwa tiap tahun jalan dan trek nya bisa saja berubah mengikuti perkembangan pasar modal eh, mengikuti gejala alam seperti angin. Namun mereka sudah tahu tanda-tanda yang tak berubahnya. dari situlah mereka mengenal jalan menuju Savanah. nah betul kan...

Dengan latar bukit teletubies
Setelah melalui jalan berliku-liku sampai juga di Savana. Sebuah padang rumput luas yang diapit dua cadas di dua bagiannya. Saya tidak tahu arah mana saja. Savanah Bromo juga bisa dicapai dari arah Pasuruan. Supir menunjukan trek dari Pasuruan. 

Bagi yang tidak ingin menginap di hotel biasanya akan menginap di Savanah ini. Namun jangan sendirian ya. soalnya kan sepii banget. masalah lain juga tidak ada WCnya lho. Jadi kalau mau buang hajat yang mesti pintar cari lokasi. 

Selain pemandangan padang rumput yang menarik, ada juga bukit teletubiesnya. beberapa gundukan bukit bulat dengan rumput yang menghijau memang mirip dengan rumahnya si Pingky, Po, Lala dan hmmm lupa yang satunya lagi.

Sempat saya buat status, kalau di savanah ini juga dipelihara banteng, singa dan kijang kayaknya akan seperti Afrika. Namun apa hewan-hewan itu kuat menahan dinginnya savanah yang bisa mendekati 0 derajat itu? lagian kalau ada singa gimana kita bisa menikmati savanah dengan nyaman... ya toh

    Blogger news

    Blogroll

    About