Tampilkan postingan dengan label santolo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label santolo. Tampilkan semua postingan

21 Februari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Mencari Blue Lagoon Cisewu

Blue Lagoon di Cisewu (sumber http://www.pbase.com)
Blue Lagoon Cisewu! sebuah foto yang diberi judul itu membuat saya ingin sekali mengunjunginya. Air yang jernih dan membiru tua di beberapa bagiannya seperti melambai-lambai untuk dikunjungi. Tak ada keterangan jelas di foto itu. Hanya disebut di Cisewu saja. Maka ketika saya aprak-aprakan ke Santolo, mencari Blue Lagoon ini menjadi salah satu misinya.

Setelah malam sebelumnya tak begitu nyenyak tidur, alhamdulillah pagi-pagi sudah bisa bangun dan kembali memburu perapian. Talegong malam sebelumnya hujan rintik-rintik dan membuat suhu cukup dingin. Mendekat ke perapian salah satu opsi terbaik sambil mengorek singkong yang dibakar nikmatnya luar biasa.

Sumber : http://m0.i.pbase.com
Setelah dirasa cukup terang, saya menyempatkan diri melihat-lihat sekitar Talegong. Indah luar biasa kampung ini. Jalan yang mulus dan lebar, pemandangan alam yang menakjubkan dan udara yang segar menjadi pelengkap keindahan pagi itu. 

Cukul adalah sarapan pertama pagi itu. Setelah sehari sebelumnya tak bisa menikmati indahnya rumah perkebunan yang orang Talegong menyebutnya dengan Villa Merah. Ada misteri dan keindahan yang membaur menjadi satu yang tak boleh dilewatkan.

Sumber : FB Sugeng Wadi
Sarapan kedua, betul betul makanan dan itu adalah bekal utama untuk melanjutkan perjalanan ke Santolo dan mencari Blue Lagoon di Cisewu. misi dilanjutkan menyusuri jalan berliku tajam. Menelusuri jalan di sini mesti memiliki sikap hati-hati berlipat. Selain tikungan tajam, jalan terkadang tidak bagus. Longsoran-longsoran tanah juga mesti diwaspadai. Saat saya berjalan bersama Taufik, tiba-tiba saja ada longsoran kecil tanah di depan.

Dua jam saya meninggalkan rumah Taufik di Talegong menelusuri jalanan yang cukup bagus dan di suatu turunan panjang saya melihat jembatan yang mirip dengan di foto. Sepertinya itulah lokasi Blue Lagoon. Saya turun dan mencocokan foto. Ah betul. Blue Lagoon.

Tadinya saya ingin turun mendekat ke sungai, namun saya kecewa karena saat tidak seperti dalam foto. Airnya coklat warna tanah. Airnya deras mengalir membawa tanah dari arah hulu. Hujan semalam mungkin membuat Blue Lagoon itu menjadi brown lagoon.

06 Februari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Indahnya Jembatan Merah Situ Cileunca



Situ Cileunca... sedang selfie mania
Agak berat meninggalkan Bosscha. Alam yang hijau indah seakan mengikat kakiku untuk selalu berada di situ. Ditambah lagi saya belum singgah di rumah meneer satu itu yang sekarang juga jadi museum dan penginapan. Namun perjalanan menuju Santolo masih jauh. Sangat jauh. Ada beberapa tempat yang juga mesti saya kunjungi. Salah satunya situ Cileunca.

Pertama kali mengunjungi situ Cileunca adalah saat terjadi gempa besar tahun 2006. Sambil menyerahkan bantuan kepada masyarakat bukit Cacing, saya menyempatkan diri melihat situ ini. Saat itu, belum ada jembatan yang menghubungkan desa Warnasari dan Pulosari.

Tahun 2014 saya ke Situ Cileunca lagi, sudah ada jembatan merah yang juga sering disebut jembatan cinta. Jembatan itu dibangun secara swakelola oleh pemerintah desa dengan tujuan meningkatkan mobilitas penduduknya. Karena keunikan dan keindahannya, banyak pasangan yang sering berduaan di jembatan itu. Karena itu jembatan ini sering disebut juga jembatan cinta.

Situ Cileunca sendiri merupakan danau buatan seluas 1400 ha. Menurut sejarah Situ Cileunca merupakan kawasan pribadi seorang warga Belanda bernama Kuhlan yang dulu menetap di Pangalengan. Dalam pembangunannya Situ Cileunca dilaksanakan dalam waktu yang cukup lama yaitu selama 7 tahun (1919-1926) dengan membendung aliran sungai kali Cileunca, sehingga terbuatlah sebuah situ yang akhirnya menjadi sebuah bendungan yang sekarang diberi nama Dam Pulo.

Airnya selain digunakan untuk menggerakan turbin listrik tenaga air, juga digunakan untuk irigasi dan wisata. Penggemar olah raga air dapat menggunakan aliran air Situ Cileunca yang dialirkan ke Sungai Palayangan untuk rafting dan arung jeram. Aliran air yang stabil dan beberapa jeram yang menantang betul-betul menjadi undangan buat para penggemar olah raga yang menantang adrenalin ini.

Lansekap yang indah, berlatar perkebunan teh dan panorama gunung Malabar, wayang dan windu menjadi pelengkap keindahan situ di ketinggian 1550 dpl itu.

Karena ingin menikmati keindahan situ ini dari dekat, saya tidak turun di poros jalan Pangalengan – Cisewu, dekat plang bertuliskan DAM PULO. Kalau parkir di sini, saya mesti berjalan kaki 100 meter menuju pinggir situ. Saya mengarahkan motor ke kiri. Agak masuk hingga pertigaan. Lalu belok kanan menuju situ dan terus mendekat ke jembatan merah (aka : jembatan cinta).

Bisa juga turun di kawasan/wana wisata Situ Cileunca. Dari sana bisa menyewa sebuah perahu untuk sampai di lokasi ini. Nah kalau lewat sini, mesti menyiapkan uang tiket sebesar 5000/orang dan sewa perahunya.

Kalau kebetulan lewat jalur pangalengan – Cisewu, sempatkan mampir ke situ yang indah ini. Mungkin bisa disambi dengan makan di pinggir danau atau sekedar merasakan para pasangan muda memadu cinta di jembatan merah.

30 Januari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Aprak-aprakan Ka Kuburan Bosscha

Disambut oleh semilirnya angin segar, yang menelisik sela-sela dedaunan teh di perkebunan Malabar. Walau sedikit jalan menuju makamnya tidak begitu bagus namun undangan untuk mengunjunginya telah lama saya pendam. Bersama dengan dua orang muridku, Taufik Mardani dan Fahmi, kami mengunjungi Bosscha.

Perjalanan mengunjungi Bosscha adalah awal aprak-aprakan (perjalanan) saya mengelilingi Jawa Barat bagian selatan. Santolo adalah tujuan akhir dan Bosscha adalah ketidaksengajaan. Awalnya saya ingin mengunjungi stasiun radio Malabar, namun ternyata kebablasan. Daripada balik lagi saya pilih untuk mampir ke Bosscha.

Menemukan makam Bosscha, sangatlah mudah. Tanya saja di Pasar Pangalengan, orang akan menunjuk sebuah area perkebunan teh. Sampai di gerbang, Tanya lagi kepada penjaga dan dia akan menunjukan satu tempat yang sangat rindang. Mengapa perlu bertanya? Karena sedikit sekali penunjuk arah menuju makam Bosscha.

Makam Bosscha berada di tengah rindangnya pohon-pohon tua di hamparan hijau perkebunan teh Malabar. Makam berasitektur Eropa masihi dirawat dengan baik. Pusaranya merupakan kubah putih yang sudah berlumut. Makamnya dikelilingi pagar. Mungkin agar makam aman dan terjaga dari hal yang tak diinginkan.

Bberapa meter dari pintu pertama, terdapat prasasti bertuliskan sedikit biografi Bosscha, tanda jasa dan penghargaan yang diterima. Cukup untuk bisa memberikan informasi tentang orang tua gendut dalam foto di makam.
Makam Bosscha di Perkebunan Teh Malabar
Makam Bosscha di Perkebunan Teh Malabar
Tidak perlu membayar untuk masuk ke sini karena tak ada penunggu tiket. Hanya kepada Bah Ohim, penjaga yang selalu membersihkan makam orang biasa memberi tips. Tak ada tariff khusus. Seikhlasnya saja. Berapapun yang diberikan akan diterima dengan senyum dan keramahan.

Bosscha atau nama lengkapnya Karel Albert Rudolf Bosscha lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dalam usia 22 tahun.

Sebelum mengembangkan perkebunan teh miliknya sendiri, Bosscha membantu perkebunan teh milik pamannya Edward Julius Kerkhoven, di Sukabumi. Pada bulan Agustus 1896, Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar dan pangalengan. Bosscha menjabat sebagai Administratur selama 32 tahun. Selama itu, ia mendirikan dua pabrik teh dan menjadikan perkebunannya sebagai perkebunan yang maju. Dengan kemajuan perkebundan dan pabrik tehnya, Bosscha menjelma menjadi “Raja Teh Priangan”.
Gerbang masuk perkebunan teh
Gerbang masuk perkebunan teh
Jika orang lebih mengenal Bosscha sebagai pemerhati astronomi ketimbang raja teh, sangatlah wajar karena Bosscha juga merupakan seorang pemerhati astronomi. Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium di Lembang. Observatorium yang terkenal. Beberapa peninggalan lainnya yang hingga kini bermanfaat bagi masyarakat umum seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, ITB dan Rumah Sakit Mata Cicendo.
Berkunjung ke makam Bosscha mengantarkan saya pada banyak hal. Tentang teh dari priangan yang pernah merajai pasar teh dunia, pada kecintaan orang asing –seperti Bosscha- pada keindahan dan kekayaan Nusantara dan… dan… Ah… akhirnya saya hanya bisa menikmati keindahan perkebunan teh Malabar ditemani oleh semilir angin gunung.
Setelah dari makam, seharusnya sama mampir ke Villa Bosscha yang juga jadi museumnya, namun awan hitam yang mendatangi saya memaksa untuk segera meninggalkan Bosscha dan menuju Santolo.
tenggelam di kehijauan
tenggelam di kehijauan

    Blogger news

    Blogroll

    About