Tampilkan postingan dengan label tebing keraton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tebing keraton. Tampilkan semua postingan

31 Januari 2015

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Tebing Keraton? Ah sudah lawas. Kunjungi D' Cafe yang tak kalah keren

Tebing Keraton memang magnet kuat yang menarik orang untuk mengunjunginya. Tempat keren di Kampung Ciburial itu menjadi tempat pavorit untuk berfoto sambil menikmati panorama hutan yang hijau menghampar. Namun tahukah bahwa di sekitar Tebing Keraton ada tempat hangout yang tak kalah keren? Namanya D' Cafe.

Seperti namanya, tempat ini adalah sebuah cafe. Cafe ini menghidangkan pemandangan indah khas Desa Ciburial yang menggoda. Bentang bumi yang menggetarkan jiwa, hamparan hijau dari hutan Djuanda yang keren dan usapan udara gunung yang segar.

Cafe ini belum lama beroperasi sehingga belum banyak yang tahu. Pengelola cafe juga belum melakukan promosi yang gencar. Promosinya baru mouth to mouth alias getok tular alias dari mulut ke mulut. Yang datang ke Cafe ini biasanya adalah orang yang sudah atau akan ke Tebing Keraton.

Bagi yang belum tahu dan ingin tahu banget jalur ke D' Cafe dan Tebing keraton bisa mengikuti jalur sebagai berikut :
1. Memakai ojek. dari terminal dago menuju D, Cafe atau tebing keraton. Tarif kurang lebih 20 ribu - 30 ribu (mungkin bisa lebih mahal).
2. Memakai mobil atau motor. Dari teminal dago menuju Tahura Ir. H. Djuanda. Sebelum masuk gerbang II belok kanan dan ikuti jalur. 300 meter sebelum Warung Bandrek di sebelah kiri ada gerbang kayu dengan rumah joglo di dalamnya. itulah D'cafe.

----Kunjungi juga : Sahabat muda -----

Nah ini penampakan fotonya.











13 Agustus 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Menikmati keelokan Tebing Keraton

Ketika para santri Pesantren Babussalam yang bertugas di kampung Ciharegeum, Desa Ciburial, memosting foto mereka di tebing yang kemudian dikenal tebing keraton, saya sudah penasaran ingin ke sana. Keindahannya bisa saya rasakan mengalir di urat-urat tubuh. Sayang memang saat Ramadhan tidak kesampaian untuk mampir dulu ke sana.

Lalu, ketika saya pergi ke Bromo, Kang Ayi menunggah artikel dari salah satu situs tentang kehebohan tebing keraton ini. Rasa penasaran saya semakin bertambah. Seberapa indah sih tebing heboh ini, pikir saya.

Sehari setelah tiba dari Bromo, saya segera pergi ke sana. Pagi-pagi sekali karena ingin melihat kabut yang mengalir pelan di antara pucuk-pucuk pinus yang hijau. Kontras dengan dedaunan dan sinar emas matahari pagi.

Pemandangan hebat seperti itu memang belum saya dapatkan karena kabutnya terlalu tipis dan sedikit. Itu masalah waktu, kondisi dan nasib saja. Namun saya memang mendapatkan pemandangan luar biasa. Di ketinggian itu kita bisa melihat hampir 360 derajat keindahanannya. Dari tebing ini kita bisa menikmati sunrise dan juga sunset.

Ada beberapa batu menonjol yang menjadi spot pavorit pengunjung untuk berfoto ria. Berfoto dari tonjolan batu itu memang sensasional. Buktikan saja.

Jalan menuju Tebing keraton
Memang belum ada petunjuk memadai ke Tebing Keraton. Namun seiring dengan publikasi gencar dari para netter, menuju ke sana sangatlah mudah. Dari Taman Hutan Raya Ir. H. Djanda ke arah utara kemudian belok kanan pada persimpangan pertama dan ikuti terus jalur utama hingga melewati Warung Bandrek. Dari sana sudah banyak tandak menuju ke arah Tebing Keraton. Dari warban ada tiga cabang jalan. Ambil saja jalan yang tengah dan ikuti terus jalan itu sampai bertemu dengan perkampungan dan kemudian Tebing Keraton.
Jalanan menuju Tebing keraton didominasi oleh tanjakan dengan jalan yang rusak, oleh karenanya dibutuhkan kendaraan yang fit dan keterampilan berkendara yang memadai. Apalagi ketika setelah hujan turun. Jalanan berbatu akan sangat licin. Sangat berbahaya untuk kendaraan. Saat saya ke sana ada beberapa kendaraan yang tergelincir. Saat hujan, akan lebih aman kendaraan (apalagi mobil) untuk parkir di perkampungan. Sisanya ya, jalan kaki. cukup jauh dan meletihkan. Tapi kan lebih baik selamat ketimbang celaka.
Bagi yang tidak punya kendaraan atau malas jalan kaki, bisa juga pakai ojeg dari Warban. Tarif bisa beragam. Umumnya 5-10 ribu. Tarif ojeg dari terminal Dago pasti lebih mahal lagi. 
Tidak jauh dari persimpangan terakhir, siapkan lima ribu rupiah untuk biaya parkir motor dan sepuluh ribu rupiah untuk mobil. Dari pos ini pemandangan atas bukit sudah bisa dinikmati. Hanya sekitar berapa menit lagi menuju Tebing Keraton. 
Terakhir ke sana (12/8/14) untuk bisa menikmati keelokan tebing keraton pengunjung harus merogoh kocek agak dalam. Tiket untuk wisatawan lokal 11.000, untuk turis asing 76.000.
Sayang, dengan tiket sebesar itu belum tersedia fasilitas pendukung semacam jalan dengan paving blok, pagar pembatas tebing dan toilet. Mungkin karena booming secara tiba-tiba, akhirnya persiapan tempat wisata ini belum maksimal.
Yang tak sebaiknya dilakukan
Nah ini kebiasaan buruk pengunjung kita. Sampah dibuang sembarangan, vandalisme dan tidak memelihara tanaman. Jika anda berkunjung ke sana, jadilah pengunjung yang bertanggung jawab. Jangan hanya ingin melihat dan menikmati keindahan alam tapi tak mau memeliharanya.
Taati waktu yang sudah ditetapkan. Di tempat penjualan tiket, Tebing keraton dibuka dari jam 6 pagi hingga 6 sore. Namun banyak pengunjung yang datang pada dini hari, atau pulang hingga malam larut. Hal ini banyak dikeluhkan oleh penduduk setempat yang merasa terusik kenyamanannya.







10 Agustus 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Tebing Keraton dan Kisah Mistisnya

Saya yakin tak ada yang bisa menyangkal keindahan dari Tebing Keraton di Ciburial Bandung. Sebagaimana namanya, tempat ini merupakan tebing yang sangat curam. Di bawahnya terhampar hutan pinus seperti permadani hijau. Di atas bebatuan yang agak menonjol itulah kita bisa menikmati keindahan alam yang elok. jika kita foto dari atas, seakan kita sedang melayang. Indah luar biasa. Karena sebab itu juga bukit ini dikenal dengan bukit Instagram.

Namun Di balik keindahan nan elok itu, ada beberapa kisah berbalut mistik. Kisah-kisah yang beredar di masyarakat ini boleh saja dipercaya atau tidak. Masyarakat setempat biasanya, hidup dengan filosofi dan kebijakan yang juga mesti disikapi dengan bijak oleh pendatang. Masyarakat hidup di tempat yang udaranya menjadi hirupan dan keseharian mereka tanahnya menghidupi mereka, sehingga mereka lebih memahami kondisi setempat dan warga pendatang harus menghormatinya.

Masyarakat setempat umumnya mengenal bukit dan tebing itu dengan nama Pasir (bukit) Jontor. ada juga yang menyebutnya Cadas Jontor. Disebut jontor disebabkan postur batu yang menjorok ke depan, persis seperti bibir habis ditonjok. Tebing ini terletak di Desa Ciburial RW 10 di Kampung Ciharegem.

Menurut Dede Insan salah seorang warga, penamaan bukit Jontor menjadi tebing keraton, terkait dengan kejadian kesurupan yang menimpa orang yang datang ke situ. Beberapa kali ada orang yang kesurupan di tempat itu, dan melihat bahwa tempat yang didatanginya adalah keraton kerajaan. Masih menurut Dede, pada kejadian lain, arwah penunggu tebing, melalui orang yang kesurupan, mengatakan bahwa nama bukit jontor mesti diganti dengan bukit keraton, karena tempat ini merupakan keratonnya makhluk halus.

Seorang ibu yang tidak mau disebut namanya dengan inisial K, juga mengamini hal tersebut. Sambil menceritakan kisah lain yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. K bercerita bahwa ibunya pernah bermimpi tentang keinginan penunggu bukit itu yang meminta sajen sebanyak satu manggar buah kawung. Maksud dari satu manggar buah kawung itu berkaitan dengan jumlah nyawa manusia yang mesti dijadikan tumbal. 

Sambil bercerita dengan bergidik, ibu K menyebutkan beberapa tempat di sekitar Tebing Keraton itu. Menurut ibu K, di bawah tebing keraton itu ada tempat bernama curug Cikiih Kuda, dan Gadogan Kuda. Menurutnya tempat itu adalah tempat menambat kuda bagi keraton makhluk halus itu.  

Menurut saya adanya kisah-kisah mistik itu, terkait dengan keamanan tempat tersebut. Mesti berhati-hati dan menjaga lingkungan. Karena yang hidup di tempat itu bukan hanya manusia saja, tapi juga ada makhluk lainnya.

Ketika tempat yang dikenal sekarang dengan Tebing Karaton, menjadi ramai, maka pendatang mesti menghormati adat istiadat masyarakat setempat. Walaupun itu adalah tempat yang dibuka untuk umum, kiranya baiklah untuk menjaga lingkungan dan kebiasaan setempat. Jangan sampai kedatangan kita mengganggu masyarakat di sekitar dan mengganggu arwah di Tebing Karaton itu. 

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Ciburial, Kampung Halaman Cantik di Bandung Utara

Cantik, itulah kata yang menggambarkan dari Ciburial yang ada di daerah perbukitan Bandung Utara. Ada curug alias air terjun, perbukitan, taman, sampai kuliner yang menggoyang lidah. Sekali mudik ke Ciburial, rasanya ingin lebih lama di sini.

Jika Bouwer, seorang penulis Belanda pernah mengatakan bahwa Tuhan menciptakan alam Parahyangan tatkala dia tersenyum, maka senyum terindahnya bisa disaksikan di kampung halamanku, Ciburial. Ciburial terletak di daerah perbukitan Bandung Utara yang membuatnya seperti seorang gadis molek yang mengundang decak kekaguman dan kerinduan. 

Desa yang terletak di ketinggian antara 750-1200 mdpl, sejatinya banyak keelokan dan kisah tersimpan di desa ini. Karena keelokan dan kekayaannya itulah maka desa ini kemudian dinobatkan menjadi salah satu desa wisata di Jawa barat pada tahun 2103. 

Anda mau mengunjungi apa dulu? Jika menyenangi sapaan angin yang sejuk dan musik alami hutan, Taman Hutan Raya Djuanda bisa menjadi tempat yang dikunjungi. Selain mendapat kesegaran alam jika cukup waktu kita bisa mendapatkan perenungan tentang alam sekitar kita. di hutan lindung ini kita bisa menjelajahi kekayaan alam nusantara seperti pohon pelangi, mahoni dan pohon lainnya dari berbagi penjuru dunia. 

Sambil menikmati pepohonan bisa juga kita menuju beberapa situs sejarah peninggalan masa lalu, seperti Gua Belanda dan Gua Jepang. dua gua yang dulunya merupakan gudang persenjataan para penjajah sekarang menjadi tempat kunjungan wajib kalau ke Tahura Djuanda.

Ada juga lho yang masih jadi pertanyaan besar. Situs raja Thailand yang terletak di Curug (air terjun) Dago. Apa sebetulnya yang menarik hati dua raja Thailand sehingga pada tahun 1902 harus memaksakan diri datang ke Curug Dago dan bertapa di sana? hingga kini misteri itu belum terjawab. hanya ada dua prasasti di Curug Dago yang menjadi saksi bisu kedatangan mereka ke tempat itu. 

Bagi peneliti bumi, keberadaan lava kering yang disebut lava dayang sumbi menjadi sebuah misteri tersendiri. Bagaimana bisa lava model seperti itu bisa muncul di datarang tinggi Bandung Utara? Lava pahoehoe yang biasanya muncul di Hawai, meninggalkan pertanyaan mengada-ada, adakah dulu, jutaan tahun lalu, Bandung ini bagian dari Hawai? nah itu menariknya.

Di Tamah Hutan Djuanda seluas hampir 560 ha ini juga ditemukan berbagai peninggalan pra sejarah lho. Tempat ini yang jutaan tahun lalu merupakan pesisir pantai dari danau Bandung purba merupakan tempat yang ideal bagi manusia prasejarah untuk bertahan hidup. 

Berjalan agak ke hulu, akan kita temui beberapa air terjun, mulai Curug Lalai hingga Curug Omas. Ketika saya kecil, berenang di aliran sungai Cikapundung itu sangat sesuatu banget lho. Airnya jernih sehingga batuan di dasar sungai bisa terlihat.

Sayang sekali sekarang ini, karena kegiatan manusia di hulu membuat sungai yang cantik ini menjadi kurang menarik. Tapi beberpa komunitas masih sering menggunakan aliran sungai yang membelah kota Bandung ini sebagai ajang kukuyaan (tubing).

Berbicara Komunitas, di desa kami juga ada komunitas Hong. Sebuah komunitas yang berkomitmen untuk selalu menjaga cara hidup dan permainan tradisional Sunda. Letaknya cukup dekat dengan Taman Hutan Raya Djuanda sehingga bisa disinggahi untuk bernostalgia dengan mainan jadul seperti sorodot gaplok, sondah, congklak dan sebagainya. 

Bagi yang suka bersepeda ria dan motor trail, nama Warung Bandrek dan tanjakan putus asa akan sangat akrab didengar. Disebut tanjakan putus asa karena sangat curam dan panjang. tak banyak para pegowes bisa menaklukannya. Setelah menikmati minuman segar bandrek dan bajigur, pegowes bisa downhill hingga ke Curug Omas. Seru!

Atau, mau diteruskan hingga ke Batu Loceng, tempat totonden (batu penanda) bagi masyarakat sunda akan datangnya gempa besar? Siapkan stamina saja.

Puas menikmati keunikan alam Ciburial, Anda bisa menikmati para pemburu kuliner. Di desa kami ini terdapat banyak sekali tempat makanan yang bisa menjadi pemuas hasrat perut. Mulai dari yang bintang lima hingga yang bintang ribuan alias di bawah langit. 

Kampung halamanku yang Ciburial ini juga punya produk khas. Ada madu Babussalam yang diproduksi oleh santri-santri Pesantren Babusallam dan diakui kualitasnya. Di Rumah Madu, kita bisa memanen madu langsung dari sarangnya. jadi tak perlu khawatir akan keasliannya.

Tahu Ciburial juga sangat enak lho. Beberapa restoran besar mengambil tahu dari Ciburial. Saudara-saudara saya di Jakarta sering minta oleh-oleh tahu Ciburial bila saya main ke Jakarta. 

Selain itu peuyeumnya juga terkenal. Peuyeum Cimenyan yang terbuat dari ubi kayu sangat terkenal di seantero Bandung. Pedagang-pedagang peuyeum sengaja membelinya dari para produsen peuyeum di Ciburial. 

Jika menginginkan ketenangan batin dan pengolahan jiwa, dapat juga berkunjung ke Pesantren, pusat budaya dan seni. Ada Pesantren Babussalam tempat pengajaran Al Quran yang terkenal di Bandung. Ada juga Parukuyan, pusat budaya sunda, ada juga padepokan budaya dan Selasar Seni Sunaryo. di Ciburial memang tinggal para seniman ternama nusantara. Diantara yang bisa saya sebut adalah AD Pirous, Sunaryo dan Dedi Suardi. 

Pernah dengar tahun 1980 ada seniman diculik UFO? Seniman itu namanya Sudjana Kerton. Rumahnya juga dekat dengan seniman Dedi. Dari Pak Dedi Suardi, Saya mendapat info dan cerita-cerita bahwa Ciburial itu merupakan tempat persinggahan para Alien. Saya sendiri belum pernah ketemu namun di rumahnya Pak Dedi beberapa kali saya ikut mengamati alam semesta lewat teropong yang dimilikinya. Pak Dedi juga sangat terbuka bagi yang ingin ngobrol-ngobrol saja.

Inilah Ciburial, kampung halamanku yang punya banyak cerita.

Dimuat juga di detikTravel Community

    Blogger news

    Blogroll

    About