Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan

04 April 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (6) : Senyum Tuhan yang ingin kutitipkan

Hamparan sawah di sekitar Bendungan Saguling
Jangan pernah beranggapan bahwa tempat yang sudah kamu tuju adalah ujung dunia, sebab di belakang sana masih terhampar tempat yang belum kau kunjungi. Itu pelajaran yang saya dapat dari berbagai kunjungan. Hal itu terbukti lagi ketika saya mengikuti kampanye Ustad Jalal.

Sebagaimana saya tulis sebelumnya, saya pikir di belakang bukit di sekitar power house Saguling tidak terdapat perkampungan. Ternyata salah karena di sana akan banyak ditemukan perkampungan yang cukup padat.

Setelah melewati power house Saguling kami bertemu lagi dengan tanjakan berkelok-kelok. Banyak keindahan yang tak bisa diabadikan dengan baik karena saya hanya berbekal BB yang lumayan lemot untuk mengambil pemandangan indah selama perjalanan. Sebetulnya kamera poket –yang juga sudah minta diganti- sudah dicharge semalaman. Sayangnya saya lupa memasukan kartu memorinya sehingga BB menjadi andalan selama perjalanan.

Beberapa menit melewati powerhouse kami melihat sebuah air terjun kecil yang cantik. Ada banyak warung di sekitarnya dengan motor dan mobil yang berjajar cukup banyak. Saya yakin tempat itu sering juga dikunjungi.  Sayang saya tak bisa mengambil fotonya karena kamera bawaan BB sangat lambat. Karena keterbatasan kamera itu pula saya gagal mengambil gambar yang sangat indah dari pemandangan lembah aliran sungai Citarum. Sangat indah dan itulah senyum Tuhan yang sangat elok.

Senyum Tuhan itu... (http://apdri.wordpress.com)
Jalan masih berkelok hingga sampai ke kampung bernama Babakan Kersen. Rombongan Ustad Jalal berhenti beberapa menit di warung itu. Saya lihat banyak buah manggis. Sepertinya memang baru dipetik. Ibu penunggu warung menyebut bahwa itu baru panen sehari sebelumnya.

Seorang bapak tua menghentikan pekerjaan menyiangi kebunnya. Dia mendatangi rombongan kami sambil berkata, “Poko na mah jokowi kedah jadi presiden. Jelema bageur kudu didukung sangkan nagara jadi bener” (pokoknya jokowi harus jadi presiden. Orang baik harus didukung agar negara ini menjadi benar). Bapak tua itu kemudian diantar bertemu dengan Ustad Jalal. Kepadanya Ustad Jalal pun memohon doa agar sukses dalam pemilu ini. “Insyaallah didoakeun ku Aki” kata bapak tua itu. Semoga kita bisa melihat senyum Tuhan ketika Ustad Jalalmemperjuangkan nasib rakyat di DPR-RI.

Sebelum masuk ke daerah pegunungan batu kapur, saya melihat beberapa istalasi cukup aneh. Dua tembok besar berbentuk lingkaran dengan tulisan “tempat pendatar air”. Konon air yang mau dialirkan ke pipa pesat harus ditampung dan ditenangkan sehingga seluruh pipa pesat yang sangat besar itu semuanya terpenuhi air dan tidak ada gelembung udara yang masuk bersamanya. Kegunaan tempat penampungan itu sendiri karena debit air yang masuk ke Citarum sudah berkurang sangat banyak sehingga harus ditampung hingga penuh. Saya pernah posting dua kondisi bantara Citarum yang kontras. Satu Citarum yang dipenuhi air yang ngagulidag dan satu lagi Citarum yang kering kerontang.

Selanjutnya, pemandangan indah bukit-bukit batu kapur menghiasi perjalanan kami hingga desa Cipongkor. Pemandangan yang indah dan menarik akan lebih mantap jika saja dibarengi dengan jalanan yang bagus. Banyak tempat indah susah didatangi karena jalanan sangat jelek.

Saya ingat perjalanan saya ke Citambur, sebuah curug di dekat perbatasan Kab. Bandung Barat dan Cianjur. Jalan di wilayah Cianjur jalannya sudah bagus dan mulus. Namun ketika masuk wilayah KBB, jalannya ancuuuur. Jika saja jalannya bagus, masyarakat Cianjur selatan bisa lebih dekat ke Bandung lewat jalur itu.

Salah satu yang juga menarik perhatian saya selama perjalanan dari power house ke Cipongkor adalah banyaknya lokasi longsor. Saya lupa menghitung berapa titik longsornya, yang jelas lebih dari 10 titik lah. Pernah dikabarkan juga pada bulan agustus 2013, longsor meminta 3 korban jiwa di desa Sindang Jaya Gunung Halu.

Setelah dari lapangan Bropid Cipongkor perjalanan didominasi pemandangan indah danau hasil bendungan Saguling dan daerah pesawahan yang sangat indah. Sayangnya di beberapa titik tebaran sampah mencoreng senyum Tuhan itu.

Seharian mengelilingi danau Saguling, kembali mengigatkan bahwa negeri ini sangat kaya. Banyak potensi belum tergarap maksimal. Banyak senyum tuhan yang kita perlakukan secara sembangarang. Negeri ini memang kaya. Ah… saya jadi teringat puisi Gus Mus tentang negeri ini…

mana ada negeri sesubur negeriku?

sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu dan jagung

tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia

dan burung-burung indah piaraan mereka

berasal dari hutanku

ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku

mana ada negeri sekaya negeriku?

majikan-majikan bangsaku

memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia

mana ada negeri semakmur negeriku

penganggur-penganggur diberi perumahan

gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi



Kepada Ustad Jalal saya ingin menitipkan asa. Ustad, Kepadamu kutitipkan kegetiran nasib bangsa ini, semoga engkau bisa memperbaikinya.
Dua wajah citarum

Longsoran di banyak titik

Lorong Inpeksi

Bendungan Pendatar

Gunung Batu

Jalaluddin Rakhmat Untuk DPR-RI

02 April 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (5) : Menyaksikan Senyum Tuhan (dua)

Citarum? Ya. ini Citarum (Dok. Geotrek Indonesia)
Selepas dari Tagog apu, jalan mulai berkelok-kelok. Untung saja tak terlalu padat sehingga rombongan Ustad Jalal yang dipandu oleh voorijder tak terlalu kesulitan membebaskan diri dari kendaraan lainnya. Di pasar Rajamandala, rombongan berbelok ke kiri masuk ke gerbang menuju power house saguling. Jalan masih berkelok kelok dengan tikungan tajam dan turunan yang curam. Sangat berbahaya jika tak hati-hati. Sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan. Untung sudah dipotong dan dipinggirkan.

Sebelum sampai ke power house saya teringat seorang kawan yang dulu mengajar di pesantren Al Bantari di bantaran Citarum. Menurutnya, di dekat jembatan baru itu ada kuburan seorang pahlawan Pasundan sekaligus nasional. Kalau tak salah namanya adalah Adipati Ukur. Entahlah, saya sendiri belum ke sana.

Jika kita berhenti di power house Saguling, maka kita akan dapat melihat salah satu tempat yang penting dalam legenda Sunda, Sang Hyang Tikoro. Sang Hyang Tikoro adalah gua alami yang dulu dipercaya sebagai tempat bobolnya danau Bandungn purba. Dalam legenda Sunda, tempat itu dipercaya sebagai kerongkongan dewata. Sehingga itu pamali membuang rambut atau lidi. Jika anda membuang lidi, maka akan masuk ke gua dan menyumbat aliran sungai Citarum dan jika itu terjadi, Bandung akan menjadi danau kembali.

Sebetulnya ajaran pamali itu mengajarkan kita agar berhati-hati menjaga sungai. Jangan sampai dikotori oleh kotoran sebesar lidi atau gumpalan rambut sekalipun. Jika manusia tidak lagi menjaga sungainya, yang terjadi adalah petaka.

Citarum itu adalah sungai yang sangat vital, dari dulu hingga sekarang. Di Alirannya, dibangun tiga bendungan besar yang memasok listrik Jawa dan Bali. Dalam artikel saya berjudul  sepotong keindahanCitarum saya pernah menuliskan, sungai Citarum mengalir dari hulunya di Gunung wayang selatan kota Bandung mengalir ke utara dan bermuara di laut jawa. Citarum mengaliri 12 wilayah administrasi kabupaten/kota. Citarum menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan 28 Juta masyarakat, Sungai yang merupakan sumber air minum untuk masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Dengan panjang sekitar 269 km mengaliri areal irigasi untuk pertanian seluas 420.000 hektar. Citarum merupakan sumber dari denyut nadi perekonomian Indonesia sebesar 20% GDP (Gross Domestic Product) dengan hamparan industri yang berada di sepanjang sungai Citarum. 

Nah, bagaimana perlakuan kita terhadap Citarum? Ironisnya perlakuan masyarakat terhadap sungai yang banyak memberi manfaat tidaklah sepadan. Sungai memberi kehidupan dan manfaat buat manusia, dan manusia membuang sampah dan limbah ke dalamnya. sehingga terciptalah wajah Citarum yang muram.

Pabrik-pabrik besar membuang limbah ke Ci Tarum tanpa melewati proses terlebih dahulu sehingga sering ditemui air terjun warna-warni. Warnanya sesuai dengan limbah yang dibuang langsung ke sungai. Bisa berwarna hitam pekat. Nanti berubah menjadi merah. berubah lagi menjadi hijau. Tak hanya berwarna, limbah itu berbau menyengat dan sangat beracun. Ingat 80 % warga jakarta menjadikan air dari sungai citarum ini sebagai bahan baku air minum.

Citarum, seperti sungai-sungai di kota besar memang merana. Namun jika anda bergeser sedikit ke arah hulu Citarum purba, anda akan menemukan wajah nan asri dan bersih dari Citarum. Sebelum masuk ke aliran Citarum Purba, anda bisa masuk ke gua Sang Hyang poek yang dipenuhi aura mistik. Setelah itu anda akan berada di ujung gua dengan pelataran cukup luas dengan aliran sungai Citarum yang bersih. Di situlah terdapat Citarum yang elok. Saya pernah menulis keelokannya dalam blog.




Aliran Citarum Purba

29 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (3) : Ujung Dunia

Pagi pagi buta, saya sudah menerobos kabut di Ciburial. Dingin tentunya harus ditahan. Tujuannya adalah SMA Muthahari tempat start kampanye terbuka. Untung di waktu pagi Bandung belum disergap kemacetan higga perjalanan ke tujuan bisa ditempuh dengan cepat. Di sana sudah berkumpul para pendukung Ustad Jalaluddin Rakhmat lengkap dengan atribut. Kira-kira terkumpul 14 mobil. Semuanya penuh terisi.

Lokasi kampanye hari itu adalah desa Cipongkor yang masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat. Kami masuk dari arah Rajamandala menuju power house Saguling. Dalam beberapa kesempatan ke power house Saguling untuk geotrek dan belajar di Ci Tarum Purba, saya berpikir kalau tempat itu adalah ujung dunia. Maklum lah kita kan kurang pengalaman. He he he. Ada juga alasan lainnya. Daerah atas power house adalah instalasi penting yang mengaliri listrik Jabar-Banten dan Bali, maka pastilah instalasi penting ini akan dilindungi dan disterilkan dari rumah penduduk. Anggapan saya salah (walau tak seluruhnya salah), ternyata eh ternyata. Di atas itu kampungnya banyak juga men!

Dari power house Saguling, kami naiiiik terus ke puncak. Meniti jalan sempit berkelok-kelok. Ada juga jalan menurun. Harus hati-hati karena jalan ke sana amboi rusak cukup parah. Beberapa kali bagian bawah mobil membentur jalan yang aspalnya sudah mengelupas di sana-sini. Butuh waktu 2 jam hingga sampai ke tempat tujuan. Saya sempat takjub juga dengan luasnya wilayah KBB. Geuningan Cililin teh lega pisan nya (ternyata Cililin itu luas sekali ya), guman saya.

Setelah sampai kami berkumpul di lapangan Bropid desa Baranangsiang Cipongkor. Tak ada yang tahu untaian acaranya seperti apa. Kabar angin sempat saya dengar akan ada orasi dari tiap calon. Ternyata tak ada. Yang ada hanya orasi dari TB. Hasanuddin selaku Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Setelah itu maka konvoi dimulai. Titik awal dari lapangan itu dan titik akhirnya di rumah masing masing.

Pulangnya butuh waktu lebih lama lagi. Karena kami harus melewati tempat-tempat yang padat penduduk dengan jalan yang kecil. Apalagi saat itu kan lagi ramai konvoi PDI-P. padat dalam arti sebenar-benarnya.

Setelah melihat peta, ternyata kami mengitari bendungan Saguling. Cipongkor berada di bagian ujung yang dialiri aliran Saguling. Pantas aja jauh gitu, seperti ada di ujung dunia.  Ada baiknya juga para caleg kampanye begitu di Dapilnya, supaya mereka mengetahui kondisi lingkungan dan masyarakatnya.




27 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (2): Kiyai PDI-P

PDI Syariah
Sesampainya di lapangan Bropid Cipongkor, sudah datang beberapa kandidat caleg dari PDI-P. Ustad Jalal langsung bergabung dengan para caleg itu dan langsung melakukan bincang-bincang.  Saya lebih memilih melihat-lihat suasana lokasi ketimbang kumpul dengan para caleg.

Setelah beberapa lama, saya lihat Ustad Jalal duduk di tempat teduh, masih dengan beberapa calon. Hari itu memang cukup panas. Saya mendekat posisi ustad dan duduk agak di belakangnya. Kebetulan tempat itu memang sejuk. Obrolan masih tentang pemilu.

Tak berapa lama, Pak TB Hasanuddin, Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang juga masih sebagai anggota DPR-RI, mendekati posisi Ustad Jalal. Sambil mendekat dia berkata, “Ayeuna mah PDI-P oge boga kiyai” (sekarang, PDI-P juga punya kiyai) sambil mengusap-usap punggung Ustad Jalal. “Kalau biasanya saya menyebut massa PDIP dengan kader saja, sekarang mah bisa ditambah dengan sebutan jamaah PDI-P” selorohnya yang disambut senyum dan tepuk tangan dari orang-orang sekitarnya. Saya pun ikut tepuk tangan dan tertawa.

Memang kehadiran Ustad Jalal di partai ini memberi warna yang lain, putih pada merah. Pro rakyat sekaligus religius. Bahkan beberapa teman menyebutnya sebagai PDI Syariah. Sebuah PDI genre baru kali ya.

Dalam orasinya TB. Hasanuddin menyebutkan bahwa PDI-P adalah partai terbuka untuk semua warga Indonesia, apapun agamanya. PDI-P adalah rumah yang ramah buat semua orang. Keterbukaan itulah yang menjadi salah satu alasan Ustad Jalal memilih PDI-P seperti yang pernah saya tulis di artikel 14 alasanUstad Jalal harus masuk parlemen.


Seorang kawan memberi komentar di FB saya, tuh kan mulai memperlihatkan jati diri. Siap-siap terikat oleh sistem dan tunduk terhadap kebijakan partai. Nah bagaimana kalau sudah begitu? Saya menjawab, kami berharap dan berdoa agar ustad Jalal dapat memberikan warna pada PDI-P dan juga bangsa ini.



0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemilu (1) Karena Ustad Jalal


Saya berupaya mengingat-ingat, berapa masa pemilu yang saya ikuti. Ada kelebat-kelebat bayangan pemilu yang mampir di pikiranku. 1987, ketika SMP kelas 2 saya pernah ikut-ikutan kampanye PPP. Saat itu tentu saja belum termasuk calon pemilih. Hanya ikut-ikutan keramaian. PPP saat itu mengidendikan diri sebagai rumahnya (partai) orang islam. Saya bisa mengingat karena saat itu saya bisa naik truk keliling Yogyakarta. Pemilu tahun 1992, babar blas, saya tak ingat apapun tentang pemilu karena sibuk mengurus administari pelajar luar negeri di Qom, Iran. Tak ada kampanye dan tak ada pencoblosan. Tahun 1997, saya ikut pencoblosan tapi masih tanpa kampanye. Sampai tahun itu, hanya ada tiga partai di Indonesia, PPP, PDI dan partai Pemerintah yaitu GOLKAR. Demi kemaslahatan bersama, saat itu kami bersepakat untuk mencoblos GOLKAR. Maklum saat itu kan masih suasana Orde Baru.

Setelah tahun itu, suhu perpolitikan di Indonesia mengalami pergolakan yang kemudian meruntuhkan rezim Soeharto. Tahun 1999 adalah pemilu pertama pasca runtuhnya Soeharto. Saat itu ada sedikit perdebatan hangat di antara kami, pelajar, terkait pencoblosan. Apakah masih akan diseragamkan atau dibebaskan. Kata akhir disepakati untuk dibebaskan. Karena itu ada sedikit orasi kampanye dari tiap tiap pendukung. Di rumah pelajar saat itu beberapa orang mewakili partai-partai yang sangat banyak. 3 Partai zaman Orba masih ada “pendukung” namun suara terbesar memang mengarah ke PAN yang digerbongi Amien Rais. Dari hasil penghitungan PAN mendapat kemenangan mutlak di Qom, Iran.

Pemilu tahun 2004 dan 2009 saya ikut mencoblos (semua) tapi tidak pernah ikut-ikutan dalam gegap gempitanya kampanye. Baru tahun 2014 ini saya ikut dalam kampanye. Sebabnya tak lain adalah karena sosok KH. Jalaluddin Rakhmat yang dicalonkan oleh PDI-P menggantikan posisi Taufik Kiemas. Dipasang di nomor urut 1 oleh partai bernomor 4 ini, Ustad Jalal mendapat wilayah yang luas dan juga dihuni oleh orang-orang yang sudah terkenal. Boleh jadi ini adalah wilayah di mana bintang-bintang bertaburan.

Ternyata bukan saya saja yang baru pertama kali ikut kampanye seperti ini. Teman-teman satu mobil di rombongan Ustad Jalal juga sama. Alasan mereka ikut kampanye juga sama, karena Ustad Jalal. “Tak terbayang ya, ikutan kampanye,dari PDI-P lagi” kata seorang ibu muda. Yang lain menimpali, “Iya ya. Bahkan sampai blusukan ke daerah-daerah terpencil”. Jadinya ya seperti yang senasib sepenanggungan deh.

Seperti itulah ketika kecintaan  pada guru terwujud. Ustad Jalal adalah guru buat banyak orang. Bapak buat para pencari pencerahan. Perkhidmatan kepada guru adalah sesuatu yang mulia. Akhirnya kemanapun dia melangkah, akan diikuti dengan khidmat tanpa harus kehilangan pola pikir yang kritis.




28 Februari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

14 Alasan Ustad Jalaluddin Rakhmat Harus Jadi Anggota DPR RI


(Misykat.net)
Ustad Jalaluddin Rakhmat atau dikenal juga dengan sebutan Kang Jalal maju sebagai calon anggota legislatif Dari PDI-P dengan nomor urut 1 di dapil Jabar II yang meliputi Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.

Alasan Ustad Jalal terjun ke politik -sebagaimana dilansir Republika, karena menyaksikan nasib kelompok minoritas kian mengenaskan, serta di saat yang sama hukum impoten karena selalu ada kepentingan-kepentingan politik di baliknya. 

PDI-P pun menjadi perlabuhan aspirasi politiknya. Ustad Jalal memilih PDI Perjuangan, karena isu utama PDI Perjuangan dengan dirinya hampir memiliki titik kesamaan. PDI Perjuangan, selalu identik dan memperjuangkan kepentingan wong cilik. Sementara perjuangannya selama ini juga adalah memberdayakan kelompok kecil juga, "Bila PDIP memperjuangkan wong cilik, saya memperjuangkan kaum mustadhafin, atau kelompok yang tertindas secara ekonomi dan politik. Itu sama, antara wong cilik danmustadhafin. Jadi kami memiliki kesamaaan dalam hal ini." (Republika, Mei 2013)

Menuru Ustad Jalal, pencalegannya di PDI-P adalah permintaan dari tokoh-tokoh PDI-P. Hal itu diklarifikasi oleh Petinggi Partai itu. "Kang Jalal tokoh Pasundan, Jabar, mau bergabung di PDI Perjuangan sekalian PDI Perjuangan Jabar menawarkan jadi caleg dan Kang Jalal bersedia." Kata Tjahyo Kumolo (Detik Mei 2013)

Saya  ikut mendukung langkah Ustad Jalaluddin Rakhmat dalam memperjuangkan kaum minoritas dan kaum mustad'afin. Menurut saya -paling tidak- ada 14 alasan untuk ikut mendukung Ustad Jalaluddin Rakhmat untuk sampai ke kursi DPR-RI.

1. Santun
Sebelum menjadi sekolah seperti sekarang ini, kegiatan Muthahari diisi dengan berbagai macam training dan pesantren mahasiswa. Pernah satu saat (antara tahun 1991-1992), ketika beliau akan mengisi training tashawuf, banyak buku dibawanya sehingga terlihat kerepotan. Panitia saat itu mencoba membawa tas dan bukunya namun beliau menolaknya sambil mengatakan, "Shahibusysyai i ahaqqu bihamlihi" pemilik sesuatu lebih berhak membawanya. 

Ustad Jalal juga selalu menghormati orang, terutama orang yang lebih tua darinya. Ketika berkumpul dengan para ulama yang lebih sepuh dirinya, beliau selalu mendahulukan yang lebih tua di depannya. Jika kita bersalaman dengannya, beliau akan berusaha membungkuk lebih rendah dari kita. Jika kita mencoba mencium tangannya beliau akan berusaha menarik tangannya atau bahkan membalas mencium tangan kita.


Dengan ketokohannya, Ustad Jalal tetap menjadi manusia yang santun. Jika dalam diskusi banyak orang mencercanya, tak akan keluar satu kata cercaan pun. Beliau akan tetap menjawab dengan baik tanpa takut sambil tetap mengontrol kata-katanya.


2. Sederhana
Dalam artikel berjudul Mengenal Kesederhanaan dan Kiprah Kang Jalal, Kang Harja Saputra menceritakan kesederhanaan Ustad Jalal, "Kang Jalal adalah sosok intelektual dan tokoh nasional namun sangat bermasyarakat, sederhana, dan dermawan. Bagi orang yang sudah mengenalnya dalam waktu yang cukup lama akan mengerti betul karakter Kang Jalal tersebut. Ia tidak pernah tega ketika orang datang padanya meminta bantuan. Pasti dibantunya. Meskipun kadang, ia tahu sudah sangat sering membantu orang yang datang kepada tersebut, tapi tetap saja dikasih."

Menurut kalkulasi saya, dengan buku yang hampir semuanya best seller atau panggilan ceramah di dalam dan luar negeri yang cukup padat, Ustad Jalal bisa hidup lebih dari yang sekarang. Rumahnya di jalan Kampus bukanlah rumah mewah. Tak ada halaman yang luas yang memisahkan rumahnya dengan jalan di depan rumahnya. Sebuah Mobil kelas 1500 cc yang setahu saya sudah relatif lama nangkring di garasi rumahnya.

Ketika menengok peserta khitanan massal
(Kompasiana/harjasaputra)
3. Pembela kaum mustad'afin
Dalam tulisan dan ceramahnya kita akan dengan sangat mudah menemukan pembelaan-pembelaan terhadap kaum mustad'afin. Kaum mustad'afin adalah kaum yang dilemahkan secara ekonomi dan politik. Menurut Ustad Jalal, pembelaan dan berkhidmat kepada kaum dhu'ada adalah seni ilahiah. Perkhidmatan kepada kaum dhuafa itulah yang -masih menurut Ustad Jalal- adalah jalan yang paling cepat menuju Allah swt. 

Tidak hanya dalam tulisan dan ceramah, kiprahnya dalam membela kaum dhuafa dituangkan juga dalam gerakan yang diberi nama Lisana Sidqin sebuah gerakan sosial untuk menyantuni kaum dhu'afa. Ada juga yang disebut imdad mustadafin yang khusus mendidik dan menyantuni anak-anak tak mampu. Selain mendirikan Sekolah model SMA Muthahari, Ustad Jalal juga mendirikan 18 sekolah gratis (dua di antaranya tidak betul-betul gratis). 

4. Intelektual Muslim Terkemuka
Ustad Jalal menyelesaikan sarjana di Universitas Padjajaran. Sesudah tamat, beliau  menjadi dosen di situ. Kemudian beliau mendapat beasiswa belajar di Iowa State University di Amerika Serikat. Di sana beliau mengambil komunikasi dan psikologi dan lulus dengan predikan magna cum laude. Lantaran memperoleh 4.0 grade point average, ia terpilih menjadi anggota Phi Kappa Phi dan Sigma Delta Chi.


Kecintaan pada Islam, mendorongnya meninggalkan dunia kampus dan  mengembara jauh ke ke kota Qom di Iran. Belajar filsafat agama Islam dari para Mullah tradisional di sana. Dari Iran dia terbang jauh ke Australia menekuni studi tentang perubahan politik dan hubungan internasional di ANU Canberra. Di sanalah dia  meraih gelar doktor.



Kecerdasan memahami ilmu modern, penguasaan dan ketaatan pada agama, menjadikannya sebagi sosok yang dihormati. Ustad Jalal kerap diminta pemikirannya soal perkembangan agama di Indonesia, toleransi, dan bagaimana sebaiknya menata hubungan negara dan agama.

Buku-buku yang ditulis oleh Ustad Jalal sering menjadi rujukan penting dalam kancah pemikiran Islam di Indonesia. Selain buku-buku dan kuliah-kuliahnya yang tersebar di mana-mana, ternyata Ustad Jalal juga fasih berbicara 8 bahasa asing. Bahasa asing yang dikuasainya dengan baik adalah Prancis, Jerman, Belanda, Inggris, Arab, Persia dan Italia. (disarikan dari Vivanews)

5. Nasionalis
Ketika segelintir pihak mencoba mendongkel Pancasila, Ustad Jalal justru menegaskan pentingnya Pancasila bagi bangsa Indonesia. Ketika ditanya tentang relevansi Pancasila sebagai dasar negara, Ustad Jalal menjawab, "Pancasila sangat relevan. Karena Pancasila itu disepakati oleh seluruh agama. Sama kelompok ekstrim sekalipun, karena saya dulu juga pernah jadi anggota kelompok ekstrim. Apa dari Pancasila itu yang melanggar atau bertentangan dengan Islam? Tidak ada. Periksa satu persatu, tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Kristiani, Budha, semua agama sepakat. Seorang teolog dari Jerman menyebutnya  teologi pembebasan. Itu disebut global etik" katanya. Lalu beliau melanjutkan, "Jadi, kita harus berterima kasih kepada Soekarno. Dulu, saya termasuk salah satu orang yang menentang Soekarno dan ikut menjatuhkannya. Maka saya ingin menebus dosa saya. Warisan yang paling berharga dari Soekarno adalah Pancasila." (Vivanews, Februari 2014). Saat ini bentuk kekaguman Ustad Jalal kepada pemikiran Bung Karno dipublish dalam serial tulisan di situs Misykat. Tulisan yang sudah terbit berjudul Bung Karno Pelanjut Pesan Para Nabi


Dalam ceramah milad IJABI ke-3 Ustad Jalal mengatakan bahwa jamaah ahlul bait harus tetap menjaga pilar bangsa, yaitu Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tetap berpegang pada asas Pancasila dalam menjalankan organisasi dan kehidupan beragama.

Terkait dengan nasionalisme di Indonesia, Ustad Jalal menyebutkan bahwa Indonesia sering dikatakan bukan sebagai suatu bangsa, tapi sebagai kumpulan bangsa-bangsa. Baik itu Jawa, Sunda dan lain-lain. Mereka berbeda-beda.  Tapi karena disatukan oleh kitab, lalu mereka membangun bangsa Indonesia. Jadi kontribusi pertama Islam adalah membangun kebangsaan. Orang Indonesia yang beragama Islam, yang terdapat di berbagai daerah bersama-sama membangun suatu bangsa. Islam lah yang mempersatukan mereka.


Dan kontribusi kedua adalah bahwa Islam membantu kita membentuk nasionalisme kebangsaan. Tentu saja karena Islam itu mayoritas, maka dia memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan NKRI. Sampai Bung Karno pendiri bangsa ini berkata, "Kalau kau gali hatiku ini lebih dalam, maka kau temukan di dalamnya itu Islam". Para pejuang kemerdekaan juga mayoritas orang Islam. (Vivanews)

6. Penulis produktif
Ustad Jalal dikenal sebagai penulis yang produktif dan enak dibaca. Tulisannya pun mempunyai rentang yang luas. Mulai dari ilmu-ilmu sosial, psikologi dan dirasah Islamiyyah hingga pembahasan filsafat dan tashawuf yang bertakik-takik. Lewat tulisan dan ceramahnya, materi-materi yang rumit bisa diurai dengan sangat ringan dan menarik.

Jika tak salah dengar Ustad Jalal pernah mengatakan ada dua kelahiran yang akan beliau tandai dengan istimewa. Pertama adalah hari kelahiran Rasulullah dan kedua adalah hari kelahiran beliau sendiri. Keistimewaan yang dimaksud adalah pada dua hari kelahiran itu beliau akan mencoba untuk menerbitkan buku baru. Oleh karenanya, setiap tahun, paling tidak ada dua buku baru dari ustad Jalal. Kang Ahsa Sahidin dalam artikel Jalaluddin Rakhmat, Buku, dan PDIP menyebutkan bahwa buku-buku Ustad Jalal yang sudah terbit itu berjumlah 41 buku. Sebuah jumlah yang banyak. 

7. Muballigh yang komunikatif
Siapapun yang mendengar ceramah-ceramah dan kuliah-kuliahnya akan sepakat bahwa beliau memiliki kemampuan dalam mengemas materi. Ceramah-ceramahnya adalah ceramah yang bisa membuka sebuah pemahaman baru yang sedikit banyak bisa menghilangkan dahaga para pencari ilmu. Kemampuan mendeskripsikan sebuah fragmen membuat jamaah seperti melihat sebuah tayangan film. Kemampuan komunikasi dan keluasan pandangan Ustad Jalal itulah yang menjadi ciri khasnya.


(goodreads.com)
8. Tokoh dan pelaku Pendidikan
Ide dan pemikiran-pemikiran Ustad Jalal dalam pendidikan telah memberikan sumbangsih khususnya dalam pemikiran pendidikan Islam. Pemikiran-pemikirannya tentang permasalahan pendidikan dapat dibaca dalam bukunya berjudul  Catatan Kang Jalal. Visi Media, Politik dan Pendidikan. 

Ide-ide tentang pendidikan seperti yang tercatat dalam bukunya itu dituangkan dalam sekolah sekolah yang didirikannya. SMA Plus Muthahari misalnya, yang didirikan atas dasar plurarisme dan kemudian dipilih oleh World Bank, DIKNAS dan DEPAG sebagai sebuah sekolah model penerapan Akhlak di Indonesia. Selain Muthahari Ustad Jalal mendirikan 18 sekolah gratis lainnya. 

9. Pengusung Persatuan 
Isu persatuan juga merupakan isyu utama dalam pemikiran dan gerakan ustad Jalal. Bukan hanya persatuan di kalangan kaum muslimin namun juga persatuan bangsa. Ustad Jalal melihat bahwa toleransi umat beragama dari hari ke hari semakin buruk. Bangsa yang dulu dikenal sangat ramah, sekarang menjadi pemarah. Oleh karena itu ustad Jalal selalu berusaha untuk menumbuhkan kembali jati diri bangsa yang ramah dan merekatkan kembali persatuan yang terkoyak.

Salah satu upaya Ustad Jalal untuk menjembatani Sunni dan Syi'ah dari kesalahpahaman berumur ratusan tahun adalah dengan mendirikan MUHSIN pada Mei 2011. Deklarasi MUHSIN (Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia) dapat dibaca di situs Misykat. Ustad Jalal juga menggagas dan mendirikan sebuah organisasi bernama Badan Koordinasi Perjuangan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (BPKBB) yang terdiri dari Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan sebagainya. 

10. Sufi Metropolis
Ustad Jalal memandang bahwa agama Islam sekarang ini terlalu berorientasi kepada fiqih. Fiqih yang formal dan kemudian mengotak-kotakan islam pada sekat-sekat kecil dan tercerabut dari inti islam itu sendiri sebagai agama cinta kasih. Oleh karena itulah sekarang Ustad Jalal menjadikan tasawuf sebagai frame dalam beragama, menurut Ustad Jalal, tasawuf adalah berislam yang dasarnya cinta. Dengan cinta, setiap agama bisa bertemu dan berbicara pada bahasa yang sama, memasuki kebun yang sama, baik itu Islam, Buddha, Kristen, Katolik, maupun Hindu. (http://ressay.wordpress.com)

Ustad Jalal melihat masyarakat sekarang -khususnya lapisan atas- mengalami kekeringan dalam beragamanya. Ketika mendirikan kajian tasawuf Tazkiah Sejati, respon dari masyarakat kelas atas itu justru sangat banyak. Kajian-kajian tasawuf di kalangan menengah ke atas itulah kemudian yang melahirkan istilah semacam sufi metropolis, sufi ngota 

Menjadi sufi tidak serta merta harus meninggalkan segala kegiatan harian dan menyembunyikan diri di sudut masjid atau di hutan belantara. seorang sufi metropolis bisa saja seorang pengusaha multinasional namun kekayaannya tidak memenjarakannya pada dunia. Mungkin saja dia adalah (Calon) anggota DPR RI seperti Ustad Jalal.

11. Mempunyai hubungan yang luas
Ustad Jalal dikenal sebagai intelektual yang mempunyai hubungan yang sangat luas. Sebagai muballigh beliau kenal dan bersentuhan langsung dengan permasalahan masyarakat kecil. Lahir dari keluarga NU, berkenalan dan aktif di PERSIS dan Muhammadiyah, menjadikannya dikenal secara luar di tiga organisasi besar itu.

Sebagai pembicara kelas internasional beliau dikenal sebagai pembicara dan orator ulung. Tokoh-tokoh partai mengenalnya sebagai tokoh cendekiawan muslim yang berkarakter kuat. Pergerakannya dalam mewujudkan persatuan dan kebinekaan mengenalkannya pada tokoh-tokoh lintas agama. 

12. Berjiwa seni
Keunggulannya dalam mengolah kata di podium dan tulisan dilengkapi dengan jiwa seninya. Saya pernah mendengar beberapa senandung karya beliau dalam bahasa Sunda. Karyanya dalam bahasa sunda itu sangat mendayu dayu dan kesemua karyanya itu sebagai wujud sebagai kecintaannya kepada Ahlul Bait Nabi saw.

13. PDIP Faktor
PDIP adalah partai yang besar dan mapan. Ustad Jalal menyebutkan "Saya yakin, PDIP yang paling besar kemungkinan memenangkan Pemilu 2014, sehingga saya pun bisa berjuang di PDIP. Jelek-jelek begini, saya juga dosen komunikasi politik dan statistik. Saya lihat PDIP yang akan memang pemilu.". Selain itu, masih menurut Ustad Jalal PDI-P konsisten membela wong cilik.

14. Aksi Nyata
Hampir semua ide diwujdukan dalam bentuk nyata. Tentang ukhuwah islamiyah dan persatuan kaum muslimin, khususnya sunni dan syiah, Ustad Jalal membentuk Majlis Ukhurwah Sunni dan Syiah (Muhsin). Untuk masalah yang bersifat kebangsaan Ustad Jalal mendirikan Badan Koordinasi Perjuangan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (BPKBB). Pemikiran dalam pendidikan diwujudkan dengan mendirikan sekolah. Kiprahya dalam tasawuf diwujudkan dalam kajian-kajian sufistik dan pengamalan sehari-hari. Untuk pembelaannya terhadap kaum mustad'afin Ustad Jalal membuat Imdad Mustad'afin dan Lisana Sidqin serta sekolah sekolah gratis. 

Itulah 14 alasan layaknya Ustad Jalal Duduk sebagai anggota DPR RI. Memperjuangkan aspirasi rakyat, memikirkan dan membuat undang-undang yang memihak kepada rakyat kecil. Semoga.

Allahumma Shalli ala muhammad wa ali muhammad.






    Blogger news

    Blogroll

    About