Dari pelosok desa |
"Indonesia harus pintar" kata Bapakku suatu hari. Mungkin perjalanannya menjelajah beberapa tempat di Indonesia membuat dia mengatakan itu. Bapak adalah anggota DPR-RI periode 98-2004 dan berada di Komisi Pendidikan. Dengan berbekal kedudukan di DPR dan pengalaman berorganisasi di Muhammadiyah serta gemblengan kepanduan Hizbul Wathan, maka Bapak menggulirkan aksinya yang tanpa nama.
Kata Bapak, kalau Rakyat Indonesia tidak
pintar maka mereka hanya akan berjejal-jejal di sektor pekerjaan 3D (Dirty,
Danger, Difficult). Kita akan jadi jongos di negeri sendiri katanya sambil
mengutip kalimat Bung Karno.
Suatu hari Bapak mengungkapkan kondisi
pendidikan di Papua yang dikutip dari rektor Universitas Cendrawasih.
"Jangan heran, kalau ada mahasiswa yang masuk ke Uncen belum bisa
baca". mengapa itu bisa terjadi? karena sebagian besar fasilitas
pendidikan di sana memang belum memadai. bayangkan saja, sekolah bisa libur
satu semester hanya karena guru mengambil gaji di pusat
pemerintahan kabupaten atau propinsi.
Untuk bisa ke sana kalau tidak lewat
laut, ya lewat udara. Parahnya penerbangan dan pelayaran tidak setiap hari ada.
kalaupun ada harganya sangat mahal. gaji satu bulan habis dibayar untuk ongkos
kapal atau pesawat.
Di Wakatobi, Saya menyaksikan sendiri, berpuluh
sampan berdatangan dari tempat cukup jauh dan pulau sekitar untuk bisa
sekolah di Wangi-wangi. Hanya ada satu SMA saja. Ya di Wangi-wangi itu. Di
situ Bapak membuat SMA kelautan.
Kita pernah ditohok oleh beberapa foto
menyedihkan. Sejumlah anak-anak sekolah harus berjuang menyebrangi jembatan
yang rusak untuk bisa sekolah. foto yang lain meninju nurani kita, masih
anak-anak SD menyeberangi sungai dengan arus yang deras. Kata media asing
seperti melihat Indianan Jones. Pada saat yang sama para pemimpinnya hidup
dalam gelimang kemewahan. Miris dan sakit hati dibuatnya.
Tidak perlu terlalu jauh untuk melihat
kondisi pendidikan yang tak merata. Tak begitu jauh dari rumahku, di kecamatan
Cimenyan anak-anak harus sekolah dengan berjalan kaki berkilo meter dan
disambung dengan ojeg dengan harga yang cukup mahal. Tentu saja itu masih lebih
baik dibanding dengan banyak tempat di tanah air ini.
Kalau kondisinya begini, bagaimana bisa
Indonesia Pintar?
Didik dan Cerdaskan
Suasana belajar di SMA Plus Babussalam Wakatobi |
Gerakan tanpa nama untuk mencerdaskan
bangsa itu memang sudah digulirkan lama. Kata orang kan harus berpikir global
dengan aksi lokal. Pergerakan itu awalnya juga hanya skala local saja. Dimulai
di utara Bandung. Di sini didirikan Pesantren Al Qur’an Babussalam dengan
jenjang pendidikan mulai dari TK hingga SMA. Saya menjadi saksi atas pergerakan
itu sejak tahun 1980, awal berdirinya.
Bapakku berasal dari sebuah pulau kecil di
kaki pulau Sulawesi Selatan. Beliau merantau di Bandung dan mendirikan pesantren
Babussalam. Setelah itu Bapak lalu membangun sekolah di kampong halamannya, Selayar
Sulawesi Selatan. Orang sekarang mungkin akan kenal tempat itu jika disebut Aty
Selayar, finalis dangdut Indonesia.
Pada masa tsunami menerjang Aceh, Selain
membuat sekolah di Meulaboh dan Aceh besar. Bapak mengambil 20 anak-anak korban
Tsunami. Untuk dididik dan dibina di Bandung. Dari 20 itu tersisa satu orang
yang masih kuliah di pada bidang IT. Sudah menjadi komitmen bahwa setelah
kuliahnya beres maka yang tersisa itu harus kembali ke Aceh dan mengembangkan
ilmunya di sana.
Tak ketinggalan di Nias. Sebuah mesjid dan
sekolah dibangun di Nias Selatan. Agar mesjid dan sekolah ini bisa berlanjut,
direkrut dua orang santri yang disekolahkan di Bandung dan Jakarta.
Hal yang sama juga dilakukan untuk Solok
Selatan. Dari tanah minankabau ada dua orang santri dan satu mahasiswa yang
sekarang sedang dididik dan dipersiapkan untuk kembali ke kampung halamannya.
Bagaimana pengaruhnya?
Di Ciburial era tahun 80-an, sangat susah
mencari seorang sarjana di desa
Ciburial. Seiring berjalannya waktu, sekarang akan sangat susah untuk mendata
sarjana di Ciburial saking banyaknya.
Umur pernikahan saat itu sangatlah muda. Anak-anak
yang lulus SMP sudah dinikahkan. Masih saya ingat wajah teman-teman yang baru
lulus smp sudah dinikahkan orang tuanya. Setahun kemudian ketika saya kelas 2
SMP mereka sudah menimang anak. Saya kelas 3, anak mereka sudah dua. Sekarang
umur pernikahan rata-rata setelah selesai kuliah walau ada yang baru lulus SMA
sudah dinikahkan.
Mendirikan sekolah di tempat seperti
selayar sangatlah sulit. Ada guru yang mau mengajar saja di tempat itu sudah
bagus. Untuk mengatasinya, maka Bapak merekrut hampir 15 orang calon guru dan
dididik di Bandung. Setelah beberapa tahun tinggal di Bandung mereka kembali ke
Selayar dan sekarang mereka menjadi pendidik-pendidik tangguh dan menjadi
tempat bertanya guru-guru di Selayar.
Untuk menjaga kualitas pendidikan, dikirim
juga santri alumni dari LN. Sekarang dia dan keluarganya malah betah tinggal di
sana. Alumni dari sekolah di selayar, selain dikirim dan dididik di jawa juga
dikirim ke beberapa universitas di luar negeri.
Di Wakatobi, bapak mendirikan sekolah kelautan.
“sayang ya, kalau laut yang kaya dan indah seperti di wakatobi itu hanya
dimanfaatkan orang luar saja” kata Bapak. Sudah tak aneh jika berton-ton ikan
napoleon, lobster dan kekayaan laut lainnya hanya dikirim ke luar negeri
sementara orang indonesianya hanya mendapat yang kualitas jeleknya.
Tidak ada yang menyangsikan keindahan laut
Wakatobi. Keindahan bawah lautnya adalah surga bagi pencinta olah raga selam.
Namun hampir 90 % operator selam di sana adalah milik orang asing. Orang asing
itu menangguk untung dari keindahan alam bawah laut wakatobi.
Kolam Ikan penangkara ikan Napoleon di Wakatobi |
Betulah ucapan Bapak, "Kalau cinta Indonesia, maka rakyat harus dicerdaskan”.
link :
Qurban di Wakatobi, mengapa tidak
link :
Qurban di Wakatobi, mengapa tidak
Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
BalasHapusDicatat sebagai peserta
Salam hangat dari Surabaya
terima ksaih kunjungannnya Pak Dhe... sehat sejahtera selalu ya
BalasHapus