Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

24 Mei 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Nasehat Sokrates

Suatu hari Sokrates melihat seorang pria dengan wajah penuh amarah. Sokrates lalu bertanya padanya tentang penyebab amarahnya. Kemudian pria tersebut menjawab,
"ketika ditengah perjalanan, saya menjumpai salah seorang kawan, saya mengucapkan salam padanya namun ia tak menjawabnya, bahkan dengan
angkuhnya ia pergi begitu saja tanpa peduli sama sekali, hal inilah yang membuat saya marah". Sokrates kembali bertanya, "mengapa anda mesti bersedih". Pria tadi menjawab dengan penuh takjub, "Ya jelas dong, tingkah kawan seperti itu
tentu menyakitkan". Sokrates kembali bertanya, " jika ditengah perjalanan anda melihat seseorang yang jatuh, akhirnya
terluka, dan kemudian ia merasa
kesakitan karena lukanya. Apakah badan anda juga ikut sakit dengan melihat kejadian itu ? " Pria tersebut menjawab, "jelas tidaklah, saya tak kan pernah merasakan sakit sebagaimana orang yang jatuh tersebut yang merintih kesakitan karena lukanya" Sokrates bertanya lagi, "lalu bagaimana perasaanmu melihat orang
tersebut dan tindakan apa yang akan kamu lakukan?"
Pria tadi menjawab, "saya merasa sedih dan saya akan membawanya kepada seorang tabib atau memberinya obat"
Kemudian Sokrates menjawab, "anda tahu mengapa anda melakukan hal tersebut ? Dikarenakan anda melihat
orang tersebut sebagai orang sakit. Nah, apakah manusia hanya badannya yang sakit ? Dan bukankah seseorang yang perbuatannya tidak benar
menunjukkan bahwa jiwanya sakit ? Jika pikiran dan jiwa seseorang itu sehat, apa mungkin akan melakukan perbuatan yang buruk ? Sakit pikiran dan jiwa namanya adalah 'kelalaian'.
Dan seharusnya kita tak perlu ikut sakit hati kepadanya, namun yang mesti kita lakukan adalah menolongnya dan membawanya kepada tabib ruhani. Karena itu jangan pernah sakit hati
pada orang yang jiwa dan pikirannya sakit. Jangan pernah kehilangan kesadaran dan ketenangan jiwa. Siapa saja yang sakit hati pada orang yang jiwa dan pikirannya sakit, pada saat itu ia pun tergolang sakit...

10 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Yang lebih menguasai adalah...

Konon ada seorang intelektual muda mengoreksi pelafalan seorang pertapa tua yang sedang berdoa. Intelektual itu menjelaskan bahwa doa berbahasa arab yang diucapkan oleh pertapa tidaklah fasih dan tidaklah tepat. Memang dalam bahasa arab -juga dalam bahasa lainnya- jika pelafalan tak tepat seringkali mengubah makna.Setelah merasa tuntas membetulkan doa-doa si pertapa, intelektual muda itu meninggalkan si pertapa tua yang sedang kesulitan membetulkan kekakuan lidahnya yang telah terbiasa merapal doa-doa dengan caranya. disebutkan pula bahwa siapa saja yang dapat menguasai doa itu akan dapat berjalan di atas air.

Intelektual muda itu pergi menaiki perahu dengan kepuasan melambung karena telah berbuat kebaikan. Tiba-tiba, dia mendengar suara memanggilnya. Dia menoleh, rupanya si pertapa tua sedang berlari di atas air mengejarnya. "Hai nak, aku telah mengucapkan doa tersebut selama bertahun-tahun. Agak sulit bagiku untuk membetulkannya. Tolong ulangi cara pelafalan yang benar sekali lagi."

Cerita itu saya baca di buku Sunan Kalijaga yang ditulis Ahmad Chodjim. Saya mendapat pelajaran bahwa orang yang mengajari belum tentu maqamnya lebih tinggi dibanding yang diajari.

Pelajaran kedua keyakinan akan kandungan doa melebihi fasihnya sebuah bacaan. Sebagus bagusnya bacaan kalau tak dijiwai tak akan bisa memberi makna dan manfaat. Nah apa yang anda dapat dari kisah di atas?

01 Maret 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Saya Hanya Ingin Dicatat dalam Sejarah

Nabi Yusuf as yang memiliki keelokan wajah yang tak ada tandingannya telah dibawa ke Mesir dan didagangkan di pasar budak.

Para pembeli yang tak mengetahui jati diri Nabi Yusuf sangat tertarik dengan keelokan dan bagusnya fisik Yusuf. Mereka berlomba-lomba menawarkan harga yang sangat mahal untuk membelinya.

Pedagang budak yang membawa Yusuf dengan budak lainnya, mematok harga yang sangat-sangat tinggi untuk Yusuf. Namun harga yang sangat tinggi itu tak memadamkan hasrat pembeli untuk membeli Yusuf. Seperti sebuah barang di pasar lelang, harganya melambung dari detik demi detik.

Pedagang budak akhirnya mematok harga akhir. Harganya adalah misyk sebanyak lima kali berat badan yusuf. Misyk adalah sejenis minyak wangi yang pada saat itu merupakan komoditas elite lagi sangat mahal. Komoditas ini tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Hanya pedagang dan orang sangat kaya saja yang punya. Apalagi lima kali berat badan Yusuf? Pedagang budak dengan cerdik memanfaatkan situasi. Dia ingin mendapatkan keuntungan sangat berlipat dari pasar Mesir yang hingar bingar.

Mendengar harga Yusuf yang sangat di luar perkiraan menimbulkan ketidakpuasan di kalangan pembeli. Timbullah sas sus di sana sini. mereka mengatakan bahwa pedagang budak tak hendak menjual Yusuf kepada mereka.

"Harga ini tidak rasional!" kata sebagian besar pedagang.
"Memang kenapa?" Tanya yang lain.
"Pedagang budak itu ingin mengambil keuntungan yang sangat banyak dari pembeli. ini zalim" kata yang lainnya menimpali.
"Ya... jual beli yang sangat aneh" kata mereka penuh ketidak puasan.
"Tapi, aku betul-betul menginginkan Yusuf" kata seorang pedagang, tak bisa menyembunyikan hasrat sekaligus kekecewaannya.

Tiba-tiba saja, di tengah sas sus dan ketidakpuasan pembeli, seorang wanita tua berdiri dan maju ke tengah tempat penawaran. Orang yang tahu siapa wanita itu merasa heran dan takjub.Wanita itu hanyalah seorang pembuat tikar biasa. Harga Yusuf yang sampai di langit ke tujuh tentu akan membuat wanita itu pingsan tujuh turunan.

Sambil membawa tikar murah yang dibuatnya sendiri wanita itu maju ke tengah tempat pelelangan. Dia berkata, "Tikar ini saya sendiri yang membuatnya. Dengan tikar ini, saya ingin membeli Yusuf".

Sejenak keheningan menguasai tempat jual beli itu disusul suara tertawa yang sangat keras seakan meruntuhkan tempat itu. Suara tawa menggelegar kemudian disusul suara cemoohan atas tawaran si wanita tua itu.

"Kamu sudah gila?" Kata pedagang budak, "Permata seindah ini dengan apa kau tawar?" lanjutnya.

"Saya tahu harga sesungguhnya dari pemuda itu" Timpal si wanita tua "Kalian harus tahu tujuan saya sebenarnya"

"Ketahuilah, saya lakukan ini agar nanti semua orang tahu seorang wanita tua ini pernah ikut menawar harga Yusuf. Saya hanya ingin dicatat dalam sejarah. Bagi saya hal itu sudah sangat cukup"

26 Februari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Tolong usir lalat-lalat ini

Suatu hari seorang raja melintas padang pasir. di tengah padang pasir, dan panas yang menyengat raja melihat seseorang sedang berteduh di bawah rerimbunan pohon.

Raja melihat bahwa orang yang berteduh itu membutuhkan pertolongan maka dia mendekat ke tempat berteduh. Setelah tiba di dekatnya raja berkata dengan sedikit angkuh, "Aku adalah pemilik tahta kerajaan dan penguasa daerah ini. Jika punya kebutuhan, minta saja padaku dan aku akan membawanya untukmu"

sambil tak mengubah duduknya orang tersebut berkata, "Wahai tuan raja yang hidup dalam gelimang harta dan kenikmatan, dengan kekuasaan yang engkau miliki tolong usir lalat-lalat yang sangat menggangguku ini!"

Raja terkesiap mendengar permintaan orang itu. Dilihatnya memang banyak lalat mengerubunginya. Tapi raja pun tak bisa berbuat apa-apa. Raja lalu berkata, "Pekerjaan itu sangat sulit. Lalat-lalat itu tak mungkin mendengarkan perintahku."

Mendengar pengakuan raja, orang itu lalu berdiri dan berkata, "Kalau begitu silahkan tinggalkan saya. Terhadap seekor lalat saja engkau tak punya kuasa, bagaimana mungkin engkau dengan sombong mengakui sebagai pemilik tahta dan penguasa daerah in?"

Orang itu melanjutkan, "Saya dan anda tidak berada di bawah duli siapapun. Oleh karena itu segala jenis keangkuhan dan kesombongan hendaknya dijauhi" (kisah dari Attar)

23 Februari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Halalkah Gaji Saya?

“Saya tidak mau berangkat ibadah ke tanah suci dari uang orang itu. Banyak orang menceritakan kepada saya. Kalau 1 orang, mungkin saya masih kurang percaya. Ini ada 5 orang , ceritanya sama semua. Orang yang mau memberangkatkan saya ternyata seorang rentenir , Mas. Dia kerja sama orang kaya yang senang memeras orang dengan meminjamkan uang. Bunganya besar. Nanti kalau yang meminjam tidak bisa bayar, setiap hari bunga makin bertambah. Bunga berbunga. Saya tidak mau celaka di tanah suci, Mas” Potongan dialog dalam  artikel berjudul Pak Didik, Penjual Empal Gentong Menolak Umroh Gratis, serta merta menyeret ingatan saya padapemuda Cecep yang pernah saya ceritakan di K dan juga blog saya.
Cecep bekerja di sebuah cafe di Bandung, sebuah tempat yang menurut Cecep sendiri menjual barang-barang haram. Dia mendapatkan gaji bulanan dan bonus dari hasil menjual barang-barang itu. Kondisi itu membuatnya serba salah. Kalau diterima berarti dia menerima gaji dari hasil jualan barang haram. Di sisi lain kalau tak diterima dia sangat membutuhkan uang gajinya tersebut. Baginya itu adalah dilema.
Setelah dia menceritakan detil-detil pekerjaannya, dia mengejar saya dengan pertanyaan “Halalkah gaji saya?”. Menjawabnya  adalah dilema. Saya pun tak menjawab pertanyaannya. Kepadanya saya hanya mengatakan “terus saja bekerja di situ sampai kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik, pergunakan uangnya sebaik-baiknya “.
Sambil menjawab saya berharap dia mendapat pekerjaan yang baik yang tak bertolak belakang dengan nuraninya.  Saya bersyukur dipertemukan dengan Cecep (dan juga membaca artikel Pak Didik), seorang pemuda yang peduli dengan uang yang diterimanya.  Setiap ingat dirinya saya diingatkan untuk dapat memberi rezki kepada keluarga dari jalan yang halal.
Salam

22 Februari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Sang Guru yang Tak Tuli

Seorang wanita mendatangi Abu Abdillah Hatim seorang penghulu kaum urafa abad ke-3. Saat berbincang-bincang wanita itu kentut dan mengeluarkan suara agak keras. Wanita ini merasa malu karena telah melakukan kekurang ajaran di hadapan seorang guru sufi ternama. Hatim tahu hal itu. Untuk menjaga kehormatan wanita itu, Hatim berkata, "Hai. Keraskan lagi suaramu. Aku tak mendengarnya". Wanita itu merasa tenang kentutnya tak didengar Sang Guru. Padahal Hatim berpura-pura tuli agar wanita itu tak merasa malu di hadapannya. 

Setelah itu, Hatim selalu berkata kepada orang yang berbicara kepadanya, "Keraskan lagi suaramu. Aku tak mendengarnya". Orang kemudian mengira bahwa Hatim memang betul-betul tuli. Maka dari itu penduduk kota menggelarinya dengan nama Al Asham (yang tuli).

Suatu hari, ketika berkumpul mengadakan pengajian bersama murid-muridnya, Hatim mendengar suara yang sangat lembut. Mendengar suara lembut itu Hatim bangkit dari duduknya dan segera melihat atap kamarnya.

Seekor lalat terperangkap jaring laba-laba.Lalat itu terjerat sedemikian erat. Setiap usaha yang dibuatnya untuk melepaskan diri sia-sia dan malah semakin membuatnya terjerat semakin erat.

Hatim Al Asham merasa mendapat pelajaran penting pada peristiwa itu. Dia berkata, "Jika kau terjerat ketamakan. maka engkau seperti lalat dalam jeratan laba-laba. Setiap kali engkau berusaha melepaskan diri maka jerat itu akan semakin kuat dan makin kuat. Engkau butuh niat dan usaha yang sangat besar untuk lepas dari jeratan itu."

Beberapa murid merasa takjub. Sebab Hatim dikenal tak memiliki pendengaran yang baik bahkan cenderun tuli total. Namun mengapa dia bisa mendengar suara sayap lalat yang sangat lembut?

Seorang muridnya bertanya, "Wahai tuan guru, engkau hampir tak bisa mendengar suara teriakan kami, namung mengapa suara lembut sayap lalat bisa kau dengar? jangan-jangan engkau tidak tuli?

Hatim tersenyum dan berkata, "Kejelianmu mencengangkanku. Sekarang dengarlah, manusia yang tuli sekalipun lebih baik kedudukannya dibandingkan yang memiliki pendengaran sempurna namun dipergunakan untuk yang tidak benar."

"Orang-orang dekatku, karena kecintaannya padaku, sering memujiku setinggi langit dan menutup mata dari kekuranganku. Hal seperti itu sering kali membuatku terbang jauh melambung tinggi. Kalu sering mendengar yang seperti itu sifat sombong dan takaburku memuncak."

"Ketika mereka mengenalku sebagai orang tuli maka mereka akan membicarakan kekurangan dan aibku tanpa khawatir diketahuiku. Pada saat itulah aku mengenal kekurangannku dan aku berusaha memperbaiki diriku sendiri. itulah sebabnya aku terus memposisikan diriku sebagai orang yang bolot dan tuli." (disarikan dari Qesshe ha ye Gulestan va Bustan)


01 Februari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Lebih suka emas atau dosa?

Fariduddin Attar, sufi Persia yang menulis karya indah Mantiq Ath Thayr bercerita tentang dialog seorang wazil yang bertanya pada seorang raja.

"Wahai tuan, mana yang tuan lebih cintai, emas atau dosa?"
"Pertanyaan yang mudah" kata sang raja. "Siapapun mengenal harga dan nilai dari emas. Jelas saja emas lebih disukai daripada dosa" lanjut sang raja.
"Jika tuan sedikit mentafakkurinya, maka jawabannya adalah selain itu. Orang lebih menyenangi dosa ketimbang emas" kata wazir.
Raja terheran dan berkata, "atas dasar apa perkataan itu?"
Wazir berkata, "dalilnya, Dosa akan kau bawa hingga ke liang lahat sementara emas dan berbagai kekayaan akan ditinggalkan di dunia"

28 Januari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

(Miracle of Love) Aku tak rela Rasulullah tertusuk duri sekalipun

“Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat dua rakaat.” ujar Khubaib bin Ady sesaat sebelum dia disalib. Orang-orang Quraisy mengijinkannya. Khubaib shalat dua rakaat yang singkat. Khubaib berkata, “Demi Allah, seandainya kalian tidak mengira bahwa aku mengulur-ulur waktu pembunuhanku, niscaya aku akan memperbanyak shalat.” Setelah itupun dia disalib.

Khubaib bin Adi berasal dari dari Bani Aus dan penghulu orang Anshar. DIa beriman pada Allah dan Rasul-Nya sejak Bait Aqabah. Ia sering bolak-balik kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam sejak beliau hijrah kepada. Dia sSeorang yang berjiwa bersih, bersifat terbuka, beriman teguh dan berhati mulia.

Kepahlawanan Khubaib dikenal saat perang Badar. Dia berhasil membunuh salah seorang pemimpin Quraisy yang bernama al-Harits bin’Amir bin Naufal. Setelah pertempuran selesai dan sisa-sisa pasukan Quraisy ke Mekah, Bani Harits mengukir kenangan tentang pembunuh yangmenewaskan bapak mereka. Mereka menghafalkan dengan baik nama orang Islam yang telah menewaskan ayah mereka dalam pertempuran itu ialah Khubaib bin ‘Adiy.

Oleh karenanya ketika mereka mendengar orang-orang Quraisy menangkap orang yang  bernama Khubaib bin Ady dalam sebuah operasi penjebakan sangat gembira. Dendam lama yang belum terbalas menggelegak mencari jalan keluarnya. 

Khubaib bin Ady tertangkap bersama dengan Zaib bin Datsinah yang merupakan sisa dari delegasi yang dikirim Rasulullah untuk kabilah Udal dan Qarah. Kabilah itu meminta mubaligh yang bisa mengajarkan tentang Islam. Rasulullah mengutus 10 sahabat  yang dipimpin oleh Ashim bin Tsabit. 

Ternyata permintaan mubalig itu adalah tipuan belaka. Di suatu tempat antara Usfan dan Makkah, kelompok kecil ini dijebak oleh sekitar 100 pemanah dari Bani Lihyan. Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar segera berlindung ke sebuah bukit kecil di sekitar daerah tersebut. Pertempuran rombongan mubaligh dengan pasukan Bani Lihyan terjadi dengan sengi. Pasukan Bani Lihyan itu pun menyerang kelompok kecil itu dan berhasil membunuh Ashim dan enam sahabat lain, hingga tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah dan Murtsid bin Abi Murtsid. Pasukan Bani Lihyan menahan ketiganya. Namun Murtsid bin Abi Murtssit kemudian memberontak sambil berteriak, "Ini adalah pengkhianatan pertama!" serunya sambil berusaha melawan. Ia pun syahid. Ya. itulah pengkhianatan dan tipuan yang dilakukan oleh kelompok Quraisy terhadap Rasulullah.

Khubaib dan Zaid dibawa ke Makkah dan dijual sebagai budak. Khubaib dibeli oleh Bani Harits maka jadilah Khubaib bulan-bulanan seluruh anggota Al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan dan taat beribadah ini harus menerima siksaan. Dalam masa ini, Khubaib pernah memberi kejutan. Bani Harits terheran-heran karena Khubaib masih biassantai dan tenang-tenang memakan buah anggur. Padahal buah tersebut sedang tidak musim di Makkah dan Khubaib pun diikat tangannya dengan rantai besi.

Bani Harits mencoba untuk meruntuhkan keimanan dan kecintaanya pada Rasulullah dengean menakut-nakuti Khubaib. Diceritakan kepadanya bahwa saudara sekaligus sahabatnya, Zaid yang juga dibeli keluarga Makkah lainnya, telah dieksekusi. Ia telah dibunuh dengan cara ditusuk tombak dari lubang dubur hingga tembus ke dadanya!

Berita kejam nan sadis ini tidak berhasil membuat hati Khubaib ketakutan apalagi berpaling dari keimanan dan kecintaannya pada Rasullullah. Justru hal itu membuat dirinya lebih pasrah terhadap ketentuan-Nya. Tak tahan dengan ketegaran KHubaib, akhirnya keluarga Al-Harits pun memutuskan untuk segera mengeksekusi tawanan yang tegar itu.

Sebelum dieksekusi itulah Khubaib melaksanakan shalatnya. Setelah shalat dia mengucapkan sebuah syair.

Mati bagiku tak menjadi masalah
Asalkan dalam ridha dan rahmat Allah
Dengan jalan apa pun kematian itu terjadi
Asalkan kerinduan kepada-Nya terpenuhi
Kuberserah kepada-Nya
Sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya
 
Pasukan pemanah telah bersiap. Khubaib disalib pada sebuah tiang. Lalu tanpa sedikit pun rasa belas kasih, pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah. Dalam keadaan sekarat, Abu Sufyan menghampirinya dan berkata, "Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat wal afiat bersama keluargamu?"

"Demi Allah," jawab Khubaib, "Tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!"

Abu Sufyan geleng-geleng kepala sambil berkata, "Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia yang sangat mencintai sahabatnya, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad."

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojo pun menghabisi Khubaib. Namun sebelum ruhnya meninggalkan raga, Khubaib sempat berucap, "Ya Allah, kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami."

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya)" Al Ahzab : 23


17 Februari 2011

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Jadikan Aku Miskin Ya Allah...

Temanku menulis status di fesbuknya begini "Nabi pernah menengok ke dalam surga, dilihatnya kebanyakan isinya adalah orang2 fakir miskin...." saya teringat sebuah doa Nabi yang sangat berat saya ucapkan.

Rasul mengatakan

Ø£َللّٰÙ‡ُÙ…َّ اجْعَÙ„ْÙ†ِÙ‰ Ù…ِسْÙƒِÙŠْÙ†ًا ÙˆَاَØ­ْÙŠِÙŠْÙ†ِÙ‰ Ù…ِسْÙƒِÙŠْÙ†ًا ÙˆَØ£َÙ…ِتْÙ†ِÙ‰ Ù…ِسْÙƒِÙŠْÙ†ًا ÙˆَاحْØ´ُرْÙ†ِÙ‰ Ù…َعَ زُÙ…ْرَØ©ِ الْÙ…َسَنكِÙŠْÙ†َ

"Ya Allah, jadikan aku orang miskin, hidupkan aku sebagai orang miskin, matikan aku sebagai orang miskin dan bangkitkan aku bersama orang-orang miskin"

doa ini secara frontal bertolak belakang dengan sabda Nabi yang menyebutkan bahwa kefakiran sangat dekat dengan kekufuran. padahal ada juga riwayat lain bahwa kemewahan juga sangat dekat dengan kesesatan, seperti riwayat Abdurrahman bin auf yang diriwayatkan Bukhori, “Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia (kemewahan) sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.”

Al Qur'an menyebutkan bahwa "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al 'alaq 6-7) merasa cukup itulah yang menyebabkan manusia kebablasan sehingga bersifat seperti iblis. lawan dari merasa cukup itulah yang disebut faqir atau miskin dalam doa nabi ini. artinya dia selalu merasa butuh sama Allah, dan Rasul ingin dalam hidup, mati dan hidup setelah mati merasa butuh terus sama Allah, oleh karena itu dengan kerandahan hati Rasul mengatakan "Jadikan aku miskin ya Allah". Wallahu a'lam

15 Februari 2011

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Tidur minus Kebencian

Sudah beberapa hari, Rasulullah mengulang ucapannya  “Akan datang  di jalan yang kecil ini seorang laki-laki  ahli surga (rajulun min ahli jannah)”. Anas kemudian  menceritakan, ternyata datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang jenggotnya dibasahi bekas air wudhu dan ia menjinjing sandalnya di tangan kanannya, lalu dia mengucapkan salam. berkali-kali pula lelaki yang sama datang pas Rasulullah selesai mengucapkan kata-katanya

Ketika Rasulullah saw pergi, Abdullah bin Amr mengikuti orang itu dan ia berkata kepada orang itu, “Wahai fulan, aku sedang bertengkar dengan bapakku maka aku bersumpah tidak masuk ke rumah bapakku selama 3 hari. Jika engkau sudi menampungku selama 3 hari, maka aku ingin sekali bersamamu. Maka orang itu mempersilakan”.

Maka Abdullah bin Amr bercerita bahwa ia tinggal bersama orang yang dikatakan Rasulullah saw sebagai ahli surga, selama 3 malam. Aku ingin melihatnya, ternyata dia tidak pernah shalat malam, shalat tahajud, kecuali ketika dia berbalik dalam tidurnya ia selalu berdzikir kepada Allah dan bertakbir. Demikianlah sampai ia terjaga hanya untuk shalat shubuh saja. Kata Abdullah, “Aku tidak pernah mendengar perkataan jelek dari orang itu”.

Abdullah pun bercerita bahwa ketika selesai 3 malam, “Aku hampir merendahkan seluruh amal lelaki yang dijanjikan Rasulullah bakal masuk surga itu. Aku pun berkata kepadanya, “Hai abdullah (hamba Allah), sebenarnya antara bapak dan saya tidak ada perselisihan ataupun pertengkaran, tetapi sejujurnya aku hanya ingin tinggal di rumahmu saja, sebab Rasulullah berkali kali mengatakani bahwa kamu itu adalah calon ahli surga, maka aku ke rumahmu hanya sekedar ingin tahu apa yang engkau lakukan sehingga aku bisa mencontoh, tetapi aku tidak melihat engkau banyak beramal, tidur melulu. Apa yang membuat Rasulullah berkata demikian?”

Orang itu menjawab, “memang tidak ada amalanku yang menonjol, kecuali  setiap aku tidur aku tidak pernah menyimpan rasa benci atau menipu orang lain, dan tidak pernah punya rasa hasad atas kebaikan yang telah Allah berikan atas orang itu”.

Abdullah berkata, “Itulah yang telah Allah berikan kepadamu dan inilah yang aku tidak mampu!”

ternyata salah satu kunci surga adalah membebaskan diri dari sifat benci, hasad atau keinginan menipu orang lain.


13 Februari 2011

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Nabi dan Hari Kasih Sayang

Peristiwa Fathu Makkah adalah peristiwa yang besar. Itulah salah satu penaklukan paling berhasil yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Sebelum pasukan Rasulullah saw masuk ke kota Makkah, Abu Sofyan salah satu pentolan kafir Quraisy mendatangi Rasulullah saw.

ketika Abu Sofyan bertemu dengan Saad bin Ubadah di mulut lembah, Sa'ad berkata :
"Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini dibolehkan melakukan segala hal yang dilarang di Ka‘bah.“ perlu dicatat bahwa saat itu Sa'ad adalah pembawa panji Rasulullah saw.

Perkataan itu sampai kepada Nabi. Kemudian Nabi saw membantah dengan sabdanya : "Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang, di hari ini Allah mengagungkan Ka‘bah“. Lalu Nabi memberikan amanah rahmaniyah dan panjinya kepada Ali bin Abi Thalis as.

lebih jauh Nabi saw memerintahkan para panglima pasukannya agar tidak memerangi kecuali orang yang memerangi mereka dan enam orang lelaki serta empat wanita. Nabi saw memerintahkan membunuh mereka dimana saja mereka didapatkan. Mereka itu adalah : Ikrimah bin Abu Jahal, habbar bin Al Aswad, Abdullah bin Sa‘ad bin Abu Sarah, Muqis bin Dhababah al Laitsi, huwairits bin Nuqaid, Abdullah bin Hilal, Hindun binti 'Utbah, Sarah mantan budak Amer bin Hisyam, Fartanai dan Qarinah (kedua wanita terakhir ini di masa dahulu selalu menyanyikan lagu-lagu penghinaan kepada Nabi saw).

kalau melihat misi Nabi, "tidaklah kami utus engkau wahai Muhammad, kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (Al Anbiya 107)  maka harusnya SETIAP HARI ADALAH HARI KASIH SAYANG


21 Oktober 2010

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Puisi Terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang Rumah Sakit

Seringkali aku berkata,

Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:

Mengapa Dia menitipkan padaku ?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas, dan

kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,

seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,

Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

    Blogger news

    Blogroll

    About